BMKG Ungkap Penyebab Banjir Saat Musim Kemarau, Ini Faktornya

8 hours ago 5

BMKG Ungkap Penyebab Banjir Saat Musim Kemarau, Ini Faktornya

Foto ilustrasi lahan pertanian diguyur hujan, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan fenomena banjir saat musim kemarau yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi dinamika atmosfer, termasuk gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, Madden-Julian Oscillation (MJO), hingga faktor lingkungan akibat aktivitas manusia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan cuaca pada masa transisi menuju musim kemarau 2026 masih sangat dinamis. Berbagai fenomena atmosfer menyebabkan hujan tetap berpotensi turun di sejumlah wilayah meskipun Indonesia telah memasuki periode kemarau.

"Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian," kata Fathani saat ditemui di ANTARA Heritage Center Jakarta, Kamis.

Menurutnya, keberadaan gelombang Rossby Ekuator, gelombang Kelvin, dan MJO memengaruhi pembentukan awan hujan sehingga curah hujan masih dapat terjadi di kawasan perairan maupun daratan Indonesia. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab munculnya banjir saat musim kemarau di beberapa daerah.

BMKG mencatat hingga akhir Mei 2026 baru sekitar 24 persen dari total 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia yang secara resmi memasuki musim kemarau. Sementara sebagian besar wilayah lainnya baru mulai bertransisi pada Juni 2026.

El Nino Belum Berdampak Merata

Fathani menjelaskan pengaruh fenomena El Nino yang menyebabkan penurunan curah hujan tidak terjadi secara merata di seluruh Indonesia. Dampaknya lebih banyak dirasakan di wilayah yang berada di bagian selatan garis khatulistiwa.

Berdasarkan analisis klimatologi BMKG, fenomena El Nino mulai aktif sejak akhir April hingga awal Mei 2026. Intensitasnya diperkirakan meningkat dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan III 2026 atau sekitar Agustus hingga Oktober mendatang.

Meski demikian, dinamika atmosfer yang masih aktif membuat sejumlah daerah tetap berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi, sehingga risiko banjir saat musim kemarau masih perlu diwaspadai.

Alih Fungsi Lahan Perparah Risiko Banjir

Selain faktor cuaca dan iklim, BMKG menyoroti besarnya pengaruh aktivitas manusia terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Pembangunan kawasan permukiman yang masif, pendangkalan sungai, serta kerusakan lingkungan dinilai menjadi faktor yang memperparah dampak hujan.

Fathani menuturkan perubahan tata guna lahan telah menciptakan kerentanan baru. Akibatnya, hujan dengan intensitas yang sebelumnya tidak menimbulkan gangguan kini dapat memicu banjir bandang maupun tanah longsor.

Kondisi tersebut sejalan dengan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat sejumlah kejadian banjir dan tanah longsor di berbagai daerah akibat tingginya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir.

Banjir dan Karhutla Terjadi Bersamaan

Di tengah masih tingginya curah hujan di sejumlah wilayah, daerah lain justru mulai menghadapi penurunan curah hujan yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Fenomena kontras ini menunjukkan kompleksitas kondisi cuaca dan iklim yang terjadi saat ini.

Direktorat Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB melaporkan salah satu kejadian banjir terjadi di Kota Manado, Sulawesi Utara, pada 28 Mei 2026. Sebanyak 747 warga terpaksa mengungsi setelah banjir merendam kawasan permukiman akibat luapan sungai dan sistem drainase yang tidak mampu menampung tingginya curah hujan.

Pada periode yang sama, kebakaran hutan dan lahan masih menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Pulau Sumatera. BNPB mencatat hingga 1 Juni 2026 luas lahan terbakar di Sumatera Selatan mencapai 182,54 hektare, sedangkan di Riau mencapai 3.474,74 hektare.

Titik kebakaran terbaru juga dilaporkan muncul di wilayah Mentok, Bangka Belitung, serta meluas hingga Kawasan Savana Propok Resort Aikmel di kawasan Gunung Rinjani, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman bencana hidrometeorologi dan karhutla dapat terjadi secara bersamaan meskipun Indonesia tengah memasuki musim kemarau 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news