Cerita Pendampingan Digital UMKM Achi Craft oleh LPPM Universitas Andalas

1 day ago 5

TARUNA - hayati

PADANG, KLIKPOSITIF — Transformasi digital sering terdengar sebagai istilah besar yang identik dengan startup, teknologi canggih, atau perusahaan skala besar. Namun di Kota Padang, transformasi digital justru menemukan maknanya yang paling nyata ketika menyentuh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang selama ini bertahan dengan cara-cara konvensional.

Inilah yang terjadi pada Achi Craft Gallery, sebuah UMKM kerajinan lokal di Kecamatan Kuranji, yang menjadi mitra dalam program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen Universitas Andalas melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNAND.

Program pengabdian ini berangkat dari kesadaran sederhana namun krusial, di mana banyak UMKM sebenarnya telah hadir di media sosial dan marketplace, tetapi belum benar-benar “hidup” secara digital. Akun media sosial ada, toko daring tersedia, namun komunikasi dengan pelanggan masih seadanya, konten visual belum merepresentasikan kualitas produk, dan pengelolaan e-commerce belum tertata. Digital hadir, tetapi belum berfungsi sebagai strategi.

Melalui pendampingan yang dilakukan secara bertahap selama periode 2024–2025, tim pengabdian UNAND tidak sekadar mengajarkan cara membuat konten atau membuka toko daring. Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif dan berkelanjutan, melibatkan pelaku UMKM secara aktif dalam setiap proses perubahan. Inilah ciri khas pengabdian yang dikembangkan oleh LPPM Universitas Andalas yang tidak berhenti pada pelatihan singkat, tetapi mendampingi hingga praktik baru benar-benar menjadi kebiasaan kerja.

Salah satu perubahan paling terasa terjadi pada cara Achi Craft Gallery berkomunikasi dengan pasar. Sebelumnya, media sosial digunakan secara sporadis—unggahan tidak konsisten, foto produk seadanya, dan pesan promosi cenderung transaksional. Melalui pendampingan komunikasi pemasaran digital, pelaku UMKM mulai memahami bahwa media sosial bukan sekadar etalase, melainkan ruang membangun relasi. Konten visual diperbaiki, narasi produk disusun dengan lebih persuasif, dan proses produksi kerajinan mulai diceritakan sebagai bagian dari identitas merek.

Perubahan ini tidak hanya berdampak pada tampilan, tetapi juga pada kepercayaan diri pelaku UMKM. Mereka mulai menyadari bahwa produk lokal dengan nilai budaya dapat tampil profesional dan kompetitif di ruang digital. Media sosial pun bertransformasi menjadi medium dialog, bukan lagi sekadar papan pengumuman promosi.

Pendampingan juga menyentuh aspek yang sering luput dari perhatian, yaitu komunikasi pelayanan pelanggan. Sebelum program berjalan, interaksi dengan konsumen cenderung singkat dan reaktif. Melalui simulasi dan praktik komunikasi layanan, pelaku UMKM mulai menerapkan pola komunikasi yang lebih ramah, terstruktur, dan responsif. Perubahan kecil ini ternyata berdampak besar dalam membangun loyalitas pelanggan dan citra usaha.

Di sisi lain, pengelolaan marketplace mengalami pembenahan signifikan. Etalase produk yang sebelumnya kurang rapi kini disusun secara sistematis, dilengkapi deskripsi produk yang informatif dan visual yang lebih menarik. Marketplace tidak lagi diperlakukan sekadar sebagai tempat “menitipkan barang”, tetapi sebagai kanal strategis yang memerlukan pengelolaan serius dan konsisten.

Menariknya, pendampingan LPPM UNAND tidak berhenti pada aspek pemasaran digital semata. Program ini juga menyentuh manajemen produksi dan pencatatan keuangan. Proses produksi yang sebelumnya belum terstandarisasi mulai ditata agar lebih efisien dan konsisten. Sementara itu, pencatatan keuangan yang semula dilakukan secara manual dan tidak terorganisasi beralih menjadi lebih rapi dan mudah dievaluasi. Langkah ini penting agar UMKM tidak hanya tumbuh secara pemasaran, tetapi juga sehat secara manajerial.

Pengalaman Achi Craft Gallery menunjukkan bahwa transformasi digital UMKM bukanlah proses instan. Ia membutuhkan pendampingan yang memahami konteks lokal, keterbatasan pelaku usaha, serta dinamika belajar orang dewasa. Inilah nilai penting dari pengabdian berbasis keilmuan yang dilakukan perguruan tinggi. Pengetahuan akademik tidak berhenti di jurnal, tetapi diterjemahkan menjadi praktik yang membumi dan berdampak.

Bagi Universitas Andalas, program ini menegaskan peran kampus sebagai agen perubahan sosial. Melalui LPPM, pengabdian kepada masyarakat tidak hanya menjadi kewajiban tridharma, tetapi ruang aktualisasi keilmuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Bagi UMKM seperti Achi Craft Gallery, pendampingan ini membuka jalan untuk beradaptasi dengan ekosistem digital tanpa kehilangan identitas lokalnya.

Ke depan, model pendampingan semacam ini memiliki potensi besar untuk direplikasi pada UMKM lain di Sumatera Barat dan wilayah lainnya. Tantangan digitalisasi UMKM tidak bisa diselesaikan dengan solusi instan, melainkan melalui proses belajar bersama yang berkelanjutan. Dari sinilah, pengabdian kepada masyarakat menemukan maknanya yang paling substantif: menjembatani ilmu pengetahuan dengan realitas kehidupan sehari-hari.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news