Harian Jogja/Khairul Ma'arif - Sejumlah pekerja di rumah produksi kain perca Beny fokus menyelesaikan pekerjaannya, Kamis (8/1 - 2026).
Harianjogja.com, KULONPROGO—Berawal sebagai pedagang kaki lima di Malioboro, Beny Triono kini dikenal sebagai pengusaha kreatif yang mengolah limbah kain perca batik menjadi aneka produk bernilai ekonomi.
Awalnya, produk berbahan kain perca sempat dipandang sebelah mata. Namun seiring waktu, hasil karya Beny menemukan pasar tersendiri. Rumah produksinya pun berkembang dari ruangan kecil menjadi area produksi yang lebih luas.
Dengan dua pekerja tetap dan beberapa anak magang, Beny mampu mencetak omzet belasan juta rupiah per bulan. Produknya dipasarkan secara offline dan pernah menembus pasar ekspor, terutama ke Jerman dan Malaysia.
Tumpukan limbah kain bekas atau bisa disebut kain perca terhampar di ruangan seluas 20 x 12 meter di belakang rumah Beny Triono. Hamparan kain perca itu menumpuk secara terpisah sesuai desain yang akan dibuat nantinya. Rumah produksi yang tiada internitnya itu menjadi markas pembuatan berbagai produk fashion dan home decor dari limbah kain batik. Lokasinya berada di Padukuhan Banggan, Kalurahan Sukoreno, Kapanewon Sentolo, Kulonprogo.
Saat didatangi, sejumlah pekerja tampak begitu telaten dalam menyelesaikan pekerjaannya. Ada yang bertugas menggunting, menjahit, memisahkan, membersihkan dan mengumpulkan kain perca yang nantinya akan diolah menjadi berbagai produk bernilai jual. "Saya memulai ini sejak 2003 silam berawal dari ketidaksengajaan karena mendapat banyak kain perca sehingga saya olah menjadi produk bernilai jual," ujar Beny Triono yang merupakan pengusaha fashion dan home decor berbahan dasar kain perca, Kamis (8/1/2025).
Beny dulunya merupakan pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Malioboro sebelum seperti sekarang. Diawal era reformasi dia memulai berjualan di Jalan Malioboro dengan menjajakan sejumlah produk seperti sarung bantal, sarung tudung saji, sarung pintu kulkas dan sejenisnya. Ketika mencoba mengolah kain perca prosesnya tidak mudah. Butuh waktu satu tahun untuk Beny dapat menghasilkan produk yang dianggapnya layak.
Diawal-awal dia membuat kain perca itu menjadi tas, baju dan celana. Semua dilakoninya secara autodidak berdasarkan insting kreativitasnya. "Sempat saya jual waktu masih jadi PKL di Malioboro tetapi sama pedagang lainnya dianggap kaya orang gila karena pakai baju berbahan perca yang bentuknya potongan-potongan kain berbeda tampilannya," ungkapnya.
Perlahan tetapi pasti, produk dari kain perca Beny memiliki pangsa pasarnya tersendiri. Empat tahun pasca 2003 akhirnya diputuskan untuk terus menjahit kain perca dan berhenti berjualan sarung bantal, sarung tudung saji, sarung pintu kulkas dan sejenisnya. Awalnya, rumah produksinya hanya menggunakan ruangan 10 x 6 meter yang sekarang sudah bertambah luas dua kali lipatnya karena banyaknya produk yang dihasilkannya.
Kini, Beny juga bukan lagi sebagai PKL. Usahanya mengolah kain perca sudah dipasok untuk berbagai daerah seperti sampai Bali. "Kalau di Jogja produk saya dijual di Mirota, Hamzah Batik dan sejenisnya. Saya tidak jual lagi sebagai PKL karena sudah tidak ada waktunya," tuturnya. Termasuk tidak menjualnya secara online melalui berbagai marketplace sehingga hanya menyetorkannya ke berbagai toko offline saja.
Produk dari kain perca yang dihasilkan dari tangan dingin Beny sekarang berupa celana, daster, tas, sarung bantal, topi dan berbagai lainnya bisa sesuai permintaan yang mengorder. Beny mengungkapkan produk dari kain perca yang dihasilkan secara garis besar terbagi dua yakni fashion dan home decor. "Dalam sebulan saya bisa menghasilkan produk dari kain perca ini mencapai sekitar 800 pcs untuk fashion dan home decor," ujar pria berusia 51 tahun ini.
Jumlah sebanyak itu yang sudah laku terjual ke pasaran. Bahan yang digunakan Beny sepenuhnya merupakan kain perca bermotif batik sisa limbah pembuatan fashion batik dari Pekalongan. Bahan baku kain perca selalu dikirim dari Pekalongan ke rumah produksinya di Padukuhan Banggan, Sukoreno.
Saat ini, Beny hanya dibantu oleh dua pekerja tetapnya sehari-hari dan beberapa anak magang. "Omzet kotor saya dalam sebulan kisarannya bisa mencapai Rp15 juta hingga Rp20 juta," kata bapak dari dua anak ini.
Ekspor ke Jerman
Beny mengungkapkan, produknya sebenarnya pernah dikirim ke luar negeri. Sejak 2010 sampai 2024 kain perca hasil kreativitas Beny diekspor ke Jerman rutin sampai tiga dalam periode satu tahun. Namun, entah alasan apa memasuki 2025 ekspor itu tidak lagi dilakukannya dengan alasan yang tidak diketahui.
Pasalnya, produk fashion kain perca Beny dikirim ke Jerman melalui eksportir. Pria keturunan Minang-Jawa ini tidak pernah mengetahui alasan pasti kenapa perusahaan eksportir yang menyalurkannya itu tidak lagi meminta. "Mungkin memang permintaannya sedikit jadi berhenti, padahal itu setiap ekspor lumayan jumlahnya," ujarnya.
Selain Jerman, beberapa kali kain perca Beny sampai Malaysia tetapi intensitasnya tidak rutin. Setiap kali penjual produknya baik ke dalam negeri atau luar negeri harga yang dipatok berkisar dari Rp12 ribu sampai Rp150 ribu yang paling mahalnya.
Perjalanan Beny membuktikan bahwa ketekunan dan inovasi mampu mengangkat limbah kain perca menjadi produk bernilai dan berdaya saing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

18 hours ago
3
















































