Harianjogja.com, JOGJA—Data Departemen Transportasi Inggris menunjukkan mobil hibrida memiliki risiko fatalitas lebih tinggi bagi pejalan kaki dibandingkan mobil bensin.
Daily Mail yang mengutip dan menganalisis data terbaru dari Departemen Transportasi Inggris (DfT) mengungkapkam, mobil hibrida memiliki tingkat fatalitas tiga kali lebih tinggi bagi pejalan kaki dibandingkan mobil bensin.
Meskipun secara angka absolut jumlah kematian akibat kecelakaan mobil hibrida (122 jiwa) lebih rendah daripada mobil bensin (777 jiwa), populasi unit hibrida di jalanan Inggris hampir 20 kali lebih sedikit. Jika dihitung berdasarkan rasio jumlah kendaraan yang beroperasi, tingkat fatalitas mobil hibrida jauh lebih mengkhawatirkan.
Para pakar keselamatan jalan raya mengidentifikasi tiga faktor kunci yang menyebabkan kendaraan hibrida lebih berisiko terlibat dalam tabrakan fatal dengan pejalan kaki:
Bobot Kendaraan Lebih Berat Mobil hibrida, terutama jenis plug-in hybrid (PHEV), memiliki bobot lebih besar karena menggabungkan mesin pembakaran internal dan baterai. Nicholas Lyes dari IAM RoadSmart menjelaskan bahwa bobot yang besar membuat kendaraan lebih sulit dikendalikan dan membutuhkan jarak pengereman yang lebih panjang, sehingga meningkatkan potensi tabrakan.
Operasi Senyap di Kecepatan Rendah Saat melaju perlahan, mobil hibrida menggunakan motor listrik yang hampir tanpa suara. Banyak model lama belum dilengkapi dengan Acoustic Vehicle Alerting System (AVAS)—suara peringatan buatan yang baru diwajibkan sejak 2021. Hal ini membuat keberadaan mobil sulit dideteksi oleh indra pendengaran pejalan kaki.
Intensitas Penggunaan di Area Perkotaan Mobil hibrida sangat populer digunakan sebagai armada taksi atau kendaraan sewa daring (ride-hailing) karena efisiensi bahan bakar dan pembebasan biaya emisi di kota besar. Tingginya frekuensi operasional di area padat pejalan kaki secara otomatis meningkatkan probabilitas konflik di jalan raya.
Penelitian ini menekankan bahwa secara teknis, konstruksi mobil hibrida tidaklah lebih mematikan. Profesor Zia Wadud dari Leeds University menemukan bahwa jika faktor kecepatan dikontrol, cedera akibat hibrida justru cenderung kurang parah.
Risiko utama terletak pada probabilitas (peluang) terjadinya tabrakan yang lebih tinggi. Selain itu, data Inggris juga membantah anggapan bahwa risiko kebakaran pada baterai hibrida berkontribusi pada angka kematian, karena insiden kebakaran pada mobil listrik/hibrida tidak lebih sering terjadi dibandingkan mobil konvensional.
Menyikapi fenomena ini, organisasi keselamatan RAC Foundation mendesak pemerintah untuk membentuk "cabang investigasi khusus" guna meneliti risiko teknologi kendaraan yang terus berevolusi. Direktur RAC Foundation, Steve Gooding, menegaskan pentingnya sumber daya spesialis untuk mengatasi tantangan keselamatan baru di jalan raya seiring transisi menuju energi hijau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

1 day ago
5
















































