Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan Gunungkidul memprediksi kasus penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) masih akan landai hingga akhir tahun. Meski demikian, masyarakat diminta tetap mewaspadai potensi penyebaran penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti ini.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan hingga akhir Oktober, ada sebanyak 1.007 warga yang terjangkit penyakit DBD. Jumlah ini lebih sedikit ketimbang catatan di tahun 2024, di mana ada 1.844 warga yang terserang DBD.
“Kalau dilihat dari perkembangan kasus di 2024, memang cenderung menurun. Kemungkinan besar hingga akhir tahun kasusnya juga masih landai,” kata Ismono, Minggu (30/11/2025).
Puncak Serangan Terjadi pada Januari
Dia tidak menampik bahwa kasus penyebaran DBD termasuk dalam kategori penyakit musiman, khususnya meningkat saat musim penghujan. Kendati demikian, dari perkembangan beberapa bulan terakhir, catatan kasusnya menunjukkan penambahan kurang dari 40 kasus di setiap bulannya.
“Kalau dilihat dari perkembangan kasus, puncak serangan terjadi pada Januari karena ada 385 warga yang terjangkit DBD. Sedangkan, Februari ada 175 kasus, dan Maret–Oktober tercatat di bawah 100 kasus tiap bulannya,” katanya.
Meski masih terhitung landai, Ismono meminta kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi penyebaran penyakit ini. “Tidak boleh lengah karena penyakit ini tetap mengancam, khususnya saat musim penghujan,” katanya.
Pencegahan Melalui Germas dan PSN
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul, Sidig Hery Sukoco, mengatakan terus melakukan sosialisasi terhadap pencegahan penyakit DBD. Salah satunya melalui Gerakan Kesehatan Masyarakat (Germas) dengan melibatkan kader-kader kesehatan di tingkat kalurahan.
“Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta rutin berolahraga dan makan makanan bergizi sangat penting dalam upaya menjaga kesehatan sehingga tidak mudah terserang penyakit,” katanya.
Selain itu, untuk mengurangi risiko terjangkit juga dilakukan upaya Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Diharapkan ada upaya pemantauan lokasi-lokasi yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dengan melakukan pemberantasan jentik nyamuk sehingga angka bebas jentik paling sedikit mencapai 95%.
Ia menambahkan, masyarakat sudah mengetahui cara penanggulangan, mulai dari menutup tempat-tempat wadah air, menguras, hingga mengubur benda-benda yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Adanya aksi nyata dalam penanggulangan sebagai upaya menekan laju penyebaran sehingga kasusnya bisa lebih terkendali.
“Ini penting agar pencegahan terhadap penyebaran penyakit DBD bisa terus ditekan. Jadi, upaya penanggulangan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi warga harus ikut berperan aktif agar hasilnya bisa dimaksimalkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

15 hours ago
5















































