
Sejumlah pesawat milik maskapai Garuda Indonesia terparkir di areal Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu. Antara/Lucky R./Rei/kye/pri
Harianjogja.com, JAKARTA— Kenaikan harga avtur mulai menekan operasional maskapai. Sejak April 2026, sejumlah maskapai telah memangkas rute dan frekuensi penerbangan domestik maupun internasional sebagai bagian dari efisiensi.
Direktur Angkutan Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agustinus Budi Hartono mengatakan penyesuaian kapasitas penerbangan tersebut dilakukan setelah harga avtur mengalami lonjakan.
"Sebenarnya dengan dampak daripada harga avtur ini, teman-teman airline sudah mulai banyak yang mengurangi rute penerbangan. Itu bukan domestik saja, internasional juga," kata Agus, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, maskapai tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan operasional dengan kondisi biaya penerbangan yang meningkat.
"Mau tidak mau seperti itu mereka untuk efisiensi operasional perusahaannya, mereka memang mengurangi," tambahnya.
17 Rute Domestik Terdampak
Penyesuaian kapasitas penerbangan domestik masih berlangsung pada Agustus 2026. Penghentian sementara sejumlah layanan penerbangan dilakukan sebagai dampak penyesuaian terhadap ketersediaan dan kenaikan harga avtur.
Pada periode tersebut, terdapat tujuh badan usaha angkutan udara (BUAU) yang menghentikan sementara penerbangan dalam negeri pada 17 rute. Total dampaknya mencapai 108 frekuensi penerbangan per minggu.
Jumlah rute yang terdampak tersebut setara sekitar 6% dari 303 rute yang beroperasi selama periode Summer 2026. Sementara itu, frekuensi penerbangan yang terdampak mencapai 2%, atau lebih rendah dibandingkan kondisi pada Juli 2026.
Salah satu contohnya terjadi pada rute Jakarta (CGK)-Lombok (LOP). Dari 85 frekuensi penerbangan yang dilayani sejumlah maskapai, terdapat penghentian delapan rute pada Agustus 2026.
Pemangkasan frekuensi paling banyak pada periode tersebut terjadi pada rute Jakarta (CGK)-Yogyakarta International Airport (YIA), dengan jumlah mencapai 17 frekuensi penerbangan.
Penerbangan Internasional Juga Dipangkas
Tekanan harga avtur tidak hanya berdampak pada penerbangan domestik. Maskapai juga melakukan penyesuaian kapasitas pada penerbangan internasional selama Agustus 2026.
Penghentian sementara layanan penerbangan luar negeri dilakukan sebagai dampak penyesuaian terhadap ketersediaan dan kenaikan harga avtur. Terdapat satu BUAUNB dan 15 PAUA yang melakukan penghentian sementara penerbangan luar negeri pada 28 rute.
Total dampak dari penghentian sementara tersebut mencapai 193 frekuensi penerbangan per minggu. Adapun jumlah rute penerbangan internasional yang beroperasi pada periode Summer 2026 tercatat sebanyak 160 rute.
Dengan demikian, rute yang terdampak penghentian sementara mencapai 18% dari total rute yang beroperasi. Sementara frekuensi penerbangan yang terdampak mencapai 7%.
Harga Avtur September Naik 6,5%
Tekanan biaya bahan bakar penerbangan masih berlanjut hingga September 2026. Berdasarkan data publikasi harga per 1 September 2026, rata-rata harga avtur naik sekitar 6,5% menjadi Rp23.315 per liter dari Rp21.892 per liter pada Agustus 2026.
Kenaikan tersebut juga diikuti penyesuaian batas maksimal fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar untuk penerbangan domestik.
Mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 1041 Tahun 2026 tentang Besaran Biaya Tambahan (Surcharge) sebagai Dampak Adanya Fluktuasi Bahan Bakar (Fuel Surcharge) Tarif Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, Kemenhub menetapkan batas maksimal fuel surcharge September 2026 sebesar 40% dari Tarif Batas Atas (TBA).
Batas maksimal tersebut naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 30%.
Efisiensi Jadi Pilihan Maskapai
Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Bayu Sutanto mengatakan maskapai domestik kini menghadapi kondisi yang semakin sulit karena ruang untuk melakukan penyesuaian bisnis terbatas.
Menurutnya, Tarif Batas Atas (TBA), fuel surcharge, dan harga avtur masih diatur pemerintah. Kondisi tersebut membuat maskapai tidak memiliki fleksibilitas penuh untuk menyesuaikan tarif penerbangan.
Efisiensi akhirnya menjadi pilihan utama untuk menjaga keberlangsungan usaha. Bentuknya antara lain pengurangan frekuensi penerbangan serta berbagai langkah efisiensi operasional lainnya.
Sebelumnya, AirAsia Indonesia juga melakukan penyesuaian dan efisiensi sebagai dampak lonjakan harga avtur.
Director Indonesia Affairs & Strategic Communication Indonesia AirAsia Eddy Krismedi mengatakan efisiensi bahan bakar telah menjadi bagian dari budaya operasional Indonesia AirAsia, bukan hanya dilakukan ketika harga avtur mengalami kenaikan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengoptimalkan utilisasi armada sehingga setiap pesawat dapat beroperasi secara lebih produktif dan efisien. Optimalisasi rute serta prosedur operasional penerbangan juga dilakukan untuk menekan konsumsi bahan bakar tanpa mengurangi aspek keselamatan.
"Fokus kami adalah menjaga biaya operasional tetap efisien sehingga masyarakat tetap dapat menikmati layanan dengan tarif yang kompetitif," ujarnya beberapa waktu lalu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

7 hours ago
7
















































