Harianjogja.com, JOGJA—Harga emas dunia bergerak menguat tipis di tengah sikap wait and see investor yang menantikan rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat atau nonfarm payrolls. Selain faktor data ekonomi, pergerakan logam mulia saat ini masih dibayangi oleh ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed) serta tekanan teknis akibat penyesuaian indeks komoditas global.
Berdasarkan data CNBC, harga emas spot sempat menyentuh posisi terendah harian di level 4.406,89 dolar AS per ons sebelum akhirnya parkir di level 4.452,64 dolar AS per ons. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup sedikit melemah di posisi 4.460,70 dolar AS per ons.
Memasuki Jumat (9/1/2026) pagi, harga emas spot menunjukkan tren positif dengan menguat 0,52% ke level 4.475 dolar AS per ons.
Ahli Strategi Pasar Senior di RJO Futures, Bob Haberkorn, menjelaskan bahwa tekanan jangka pendek saat ini berasal dari rebalancing tahunan indeks komoditas Bloomberg. "Akan ada tekanan pada emas dan perak selama beberapa sesi ke depan sementara indeks komoditas tersebut menyesuaikan diri," ujarnya. Namun, ia menilai koreksi ini bersifat sementara dan justru menjadi peluang beli bagi investor.
Fokus utama pasar kini tertuju pada rilis data nonfarm payrolls AS. Survei Reuters memproyeksikan penambahan 60.000 lapangan kerja pada Desember, angka yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 64.000. Sementara itu, tingkat pengangguran diperkirakan melandai ke angka 4,5%.
Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung lebih menarik bagi kolektor dan investor saat suku bunga rendah. Saat ini, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan melakukan dua kali penurunan suku bunga sepanjang tahun 2026. Ekspektasi ini diperkuat oleh melemahnya data lowongan kerja serta kenaikan klaim tunjangan pengangguran di AS.
Selain faktor ekonomi, ketidakpastian geopolitik global tetap menjadi penyangga kuat harga emas. Isu penyitaan kapal tanker minyak terkait Venezuela hingga dinamika diplomatik AS di Greenland meningkatkan status emas sebagai aset aman (safe haven).
Lembaga keuangan global HSBC bahkan memberikan proyeksi optimistis jangka panjang. Harga emas diprediksi berpotensi menembus level psikologis 5.000 dolar AS per ons pada paruh pertama 2026, didorong oleh risiko geopolitik yang persisten dan tren kenaikan harga komoditas secara luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

18 hours ago
2
















































