Pemantauan Hilal di Menara Unismuh Makassar. (Dok: Ist)KabarMakassar.com — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Selatan sukses menggelar pemantauan hilal (rukyatul hilal) untuk menetapkan 1 Zulhijah 1447 Hijriah.
Kegiatan ini berlangsung di Gedung Menara Iqra Lantai 18, Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar pada Minggu (17/5).
Meski secara astronomis posisi hilal tergolong kuat, faktor cuaca di Kota Makassar membuat hilal gagal terlihat secara kasat mata.
Sejak sore hari, tim rukyat yang terdiri dari unsur BMKG, Pengadilan Agama, dan Badan Hisab Rukyat Sulsel telah melakukan pengamatan intensif ke arah ufuk barat. Namun, hingga batas akhir pemantauan pada pukul 18.20 WITA, hilal tidak berhasil menembus ketebalan awan yang menyelimuti langit Makassar.
Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, H. Ali Yafid, menegaskan bahwa kendala utama murni karena faktor alam.
“Kendala kita di Sulawesi Selatan hari ini adalah cuaca. Kota Makassar sejak sore hingga pukul 18.20 WITA tertutup awan tebal sehingga hilal tidak terlihat,” ujar Ali Yafid.
Berdasarkan hasil pemantauan fisik dan keputusan Pengadilan Agama Kota Makassar, hilal akhirnya dinyatakan tidak terlihat di wilayah Sulawesi Selatan. Hasil ini segera dilaporkan ke Jakarta sebagai bahan pertimbangan dalam Sidang Isbat Kementerian Agama RI.
Menariknya, secara sains dan data astronomi, posisi hilal di atas langit Makassar sebenarnya sudah sangat ideal dan memenuhi kriteria Imkanur Rukyat yang ditetapkan oleh MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Ketua Tim Kerja Geofisika BMKG Sulsel, R. Jamroni, menambahkan bahwa posisi hilal di seluruh Indonesia sebenarnya bernilai positif. Bahkan, ketinggian hilal tertinggi tercatat di wilayah Aceh yang mencapai sekitar 7 derajat.
Pelaksanaan rukyatul hilal kali ini juga menjadi potret kolaborasi yang apik. Rektor Unismuh Makassar, Abd. Rakhim Nanda, menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan Kemenag Sulsel yang kembali memilih Observatorium Unismuh sebagai pusat pemantauan.
“Di Unismuh kami memiliki fasilitas observatorium yang mendukung proses rukyat. Kami hanya memfasilitasi dan menjadi tuan rumah, sementara pelaksanaan rukyat dilakukan oleh Kementerian Agama bersama tim hisab rukyat dan BMKG,” tutur Abd. Rakhim Nanda.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Urais Kanwil Kemenag Sulsel, H. Abd. Gaffar, mengingatkan bahwa proses ini merupakan bentuk pelayanan keagamaan yang memadukan ilmu pengetahuan dan aspek syariat.
“Kita mengedepankan sinergi antara ilmu falak, data astronomi, dan hasil rukyat lapangan agar keputusan yang diambil memiliki dasar yang kuat dan dapat diterima bersama,” pungkasnya.
Walau hilal di Makassar terhalang mendung, proses pemantauan di Menara Iqra Unismuh tetap berjalan dengan khidmat dan siap digabungkan dengan hasil pemantauan dari titik-titik lain di seluruh Indonesia.


















































