Newswire Minggu, 20 September 2026 18:07 WIB

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat memenuhi komitmen dalam kesepakatan yang dicapai pada Juni 2026 serta memenuhi persyaratan yang ditetapkan Teheran.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyampaikan sikap tersebut dalam pidatonya di hadapan parlemen pada Minggu (20/9/2026). Menurut laporan stasiun penyiaran pemerintah Iran, IRIB, Teheran telah menyampaikan persyaratan tersebut kepada pihak lawan melalui para perantara.
“Pihak lawan sangat menyadari bahwa upaya penipuan dan pemaksaan sepihak telah tertutup. Sampai persyaratan ini dipenuhi, hak-hak sah rakyat Iran diakui, dan komitmen Amerika dipenuhi, tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi perundingan sebelumnya atau membuka kembali Selat Hormuz,” kata dia.
Pernyataan Qalibaf menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut masih dikaitkan dengan pelaksanaan komitmen Amerika Serikat dan pemenuhan tuntutan Iran.
Ketegangan AS dan Iran meningkat
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut kemudian memicu respons Iran terhadap negara-negara di kawasan yang menjadi lokasi aset militer AS.
Dalam perkembangan konflik tersebut, Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur perairan penting bagi pengiriman minyak dan gas dunia. Kondisi itu turut meningkatkan perhatian terhadap keamanan pelayaran dan pasokan energi global.
Washington dan Teheran sebelumnya mencapai kesepakatan pada Juni yang mencakup penghentian operasi militer serta pengaturan untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas pelayaran.
Namun, kesepakatan tersebut kemudian gagal setelah kedua pihak berselisih mengenai pengaturan pelayaran dan keamanan di jalur perairan strategis tersebut.
Pada Juni, Iran juga menyatakan bahwa pembukaan jalur pelayaran berdasarkan kesepakatan tersebut memiliki ketentuan tertentu. Perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa perselisihan mengenai pelaksanaan kesepakatan tetap menjadi salah satu persoalan antara Washington dan Teheran.
Dengan pernyataan terbaru Qalibaf, Iran kembali menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz bergantung pada pemenuhan komitmen Amerika Serikat dan persyaratan yang telah disampaikan Teheran melalui jalur perantara.
Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit dan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman serta Laut Arab, memisahkan wilayah pesisir utara Iran dengan pesisir selatan Oman dan Uni Emirat Arab. Perairan ini dikenal sebagai chokepoint atau titik tumpit energi paling vital di dunia, karena menjadi rute lalu lintas utama bagi sekitar 20% pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global setiap harinya.
Sebagian besar komoditas energi yang melintasi celah selebar sekitar 33 kilometer ini didistribusikan ke pasar-pasar besar di Asia, seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan. Karena lokasinya yang sangat padat dan dikelilingi oleh negara-negara produsen minyak utama Teluk, dinamika geopolitik serta ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz kerap berdampak langsung pada stabilitas pasokan dan fluktuasi harga energi secara global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
6
















































