PADANG, KLIKPOSITIF — Pagi itu, Senin (24/8/2026), suasana di Kantor Forum Pemberdayaan Masyarakat (FPM) Koto Lua, Kecamatan Pauh, Kota Padang, terasa berbeda. Kebahagiaan, kebanggaan, dan rasa haru bercampur menjadi satu ketika Yoga Pratama duduk bersama orang tua serta sejumlah tokoh masyarakat yang melepas keberangkatannya menuju Jepang.
Bagi Yoga, acara tersebut bukan sekadar seremoni. Hari itu menjadi penanda dimulainya perjalanan baru dalam hidupnya—perjalanan seorang pemuda berusia 18 tahun dari Taratak, Kelurahan Koto Lua, menuju Negeri Sakura. Ia dijadwalkan bertolak ke Jepang pada Rabu (26/8/2026) dan akan bekerja di sektor pertanian di Numamoto Shinichi, Kota Tsuchiura, Prefektur Ibaraki.
Di balik keberhasilan lulusan SMA Negeri 15 Padang tahun 2025 itu tersimpan perjuangan panjang seorang anak sulung yang ingin mengubah kehidupan keluarganya. Yoga merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Huri Dekrinata (39) dan Dewi Sartika (37). Ia dinyatakan lulus menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang.
Yoga berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah bekerja sebagai petugas keamanan di PT Telkom, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga. Dua adik Yoga masih duduk di bangku sekolah. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas membuat Yoga memahami bahwa ia harus segera mengambil peran setelah menamatkan pendidikan.
Karena itu, ketika sebagian teman sebayanya memilih melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Yoga memantapkan hati untuk mencari pekerjaan. Ia ingin membantu orang tua sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan kedua adiknya. Namun, Yoga tidak pernah membayangkan jalan hidup justru akan membawanya ribuan kilometer dari rumah, ke sebuah negara yang sebelumnya hanya ia kenal melalui cerita, pelajaran, dan tayangan di layar kaca.
“Saya bangga, bersyukur, sekaligus sangat senang bisa menjadi bagian dari program PMI ini. Kesempatan tersebut sangat luar biasa dalam hidup saya dan tentunya harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, terutama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga saya yang kondisi ekonominya masih terbatas,” tuturnya.
Kesempatan itu datang melalui program pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang diselenggarakan FPM Koto Lua bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (LPK) Kamisato Gakuin Center. Program yang telah berjalan sejak 2025 tersebut didukung penuh oleh PT Semen Padang melalui program Basinergi Membangun Nagari.
Saat mengikuti pelatihan, Yoga harus berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar baru. Ia tidak hanya dituntut memahami bahasa Jepang, tetapi juga mengenal kebiasaan, budaya kerja, kedisiplinan, dan tata kehidupan masyarakat di negara tujuan.
Hari demi hari dilaluinya dengan belajar. Di tengah berbagai keterbatasan, ia berusaha menjaga tekad agar tidak goyah.
Tahapan yang harus dilewati pun tidak sedikit. Selain mengikuti pelatihan, Yoga menjalani berbagai seleksi, tes, serta proses administrasi sebelum akhirnya mendapatkan kontrak kerja.
“Perjalanan untuk sampai ke titik ini tidak mudah. Banyak proses yang harus saya lalui, mulai dari belajar bahasa dan budaya Jepang hingga menjalani berbagai tahapan tes,” katanya.
Setiap tahapan menjadi ujian bagi kesungguhannya. Namun, keinginan untuk membantu keluarga membuat Yoga terus bertahan. Ia sadar, kegagalan bukan hanya akan memupuskan impiannya, tetapi juga harapan yang mulai tumbuh di dalam keluarganya.
Kerja keras itu akhirnya berbuah manis. Yoga dinyatakan lolos dan memperoleh kesempatan bekerja di Jepang.
Dari delapan peserta pelatihan, ia menjadi orang pertama yang menuntaskan seluruh proses dan diberangkatkan.
“Saya sangat bangga kepada diri sendiri karena bisa berjuang sejauh ini. Alhamdulillah, saya akhirnya mendapat kesempatan menjadi PMI di Jepang,” ujarnya.
## Harapan Besar di Pundak Anak Sulung
Yoga akan menjalani kontrak kerja selama satu tahun. Namun, masa kerja tersebut berpeluang diperpanjang hingga lima tahun apabila ia mampu memenuhi ketentuan dan menunjukkan kinerja yang baik.
Meski begitu, lima tahun tentu bukan masa yang singkat. Bagi pemuda yang baru berusia 18 tahun, bekerja jauh dari orang tua dan saudara merupakan tantangan besar.
Ia harus belajar hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi perbedaan bahasa dan budaya, serta bertahan di tengah kerinduan terhadap kampung halaman. Namun, Yoga memilih melihat semua itu sebagai kesempatan. Semakin lama ia dapat bekerja di Jepang, semakin besar pula peluangnya membantu keluarga dan mengumpulkan modal untuk masa depan.
Di kepalanya, Yoga telah menyusun sebuah rencana sederhana. Setelah menyelesaikan kontrak dan kembali ke Indonesia, ia ingin membangun usaha rumah kos. Usaha itu diharapkan menjadi sumber penghasilan yang dapat menopang kehidupan dirinya dan keluarga dalam jangka panjang.
“Target saya setelah sukses di Jepang dan kembali ke Indonesia adalah membuka usaha rumah kos. Karena itu, kesempatan besar ini tidak akan saya sia-siakan,” katanya.
Ia pun menyadari bahwa keberhasilan tersebut tidak diraihnya sendirian. Ada orang tua yang terus mendoakan, FPM Koto Lua yang mendampinginya, lembaga pelatihan yang membekalinya, serta PT Semen Padang yang memberikan dukungan terhadap biaya pelatihan.
“Saya sangat berterima kasih kepada PT Semen Padang yang telah mendukung pelatihan bahasa dan budaya Jepang yang difasilitasi oleh FPM Koto Lua,” ujarnya.
## Pesan Ayah dari Koto Lua
Di tengah suasana pelepasan itu, Huri Dekrinata memandangi putra sulungnya dengan perasaan campur aduk. Ada kebanggaan karena Yoga berhasil memperoleh kesempatan besar. Namun, ada pula rasa haru karena anak yang selama ini tinggal bersamanya akan segera pergi jauh.
Sebagai ayah, Huri mengetahui betul perjuangan Yoga. Ia melihat bagaimana anaknya belajar, mengikuti pelatihan, dan menjalani setiap tahapan seleksi dengan penuh kesungguhan.
Huri sejak awal mendukung keinginan Yoga untuk langsung bekerja setelah menamatkan SMA. Pilihan itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi keluarga dan kebutuhan biaya pendidikan kedua adiknya. Selain itu, keinginan tersebut bukan semata-mata untuk memperoleh penghasilan, melainkan juga menjadi pijakan bagi Yoga untuk membangun kemandirian ekonomi.
Namun, Huri tidak pernah menyangka pekerjaan pertama putranya justru berada di Jepang.
“Saya tidak menyangka anak saya bisa sampai sejauh ini. Sejak kecil, ia memang memiliki keinginan untuk menjadi orang sukses. Mudah-mudahan kesempatan bekerja di Jepang ini menjadi pintu menuju kesuksesan baginya,” kata Huri.
Tidak banyak pesan yang disampaikannya. Huri hanya meminta Yoga menjaga kesehatan, tidak meninggalkan ibadah, dan selalu berdoa ketika menghadapi kesulitan.
“Jaga kesehatan, jangan lupa salat, dan teruslah berdoa. Semoga kelak Yoga menjadi orang sukses dan dapat membuat kami sebagai orang tua bangga,” ujarnya penuh haru.
Pesan itu sederhana, tetapi menyimpan kasih sayang dan harapan besar. Di pundak Yoga, keluarga menitipkan doa agar perjalanan ke Jepang menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik.
Di usia 18 tahun, Yoga Pratama tidak hanya berangkat untuk bekerja. Ia membawa harapan orang tua, masa depan kedua adiknya, dan impian untuk pulang sebagai pemuda mandiri yang mampu mengubah kehidupan keluarganya.
## Membuka Jalan bagi Peserta Lain
Ketua FPM Koto Lua Nofial mengatakan, Yoga merupakan satu dari delapan peserta pelatihan bahasa dan budaya Jepang. Lima peserta berasal dari Kelurahan Koto Lua, sedangkan tiga lainnya berasal dari Kelurahan Limau Manis Selatan.
Dari delapan peserta tersebut, empat orang telah mendapatkan kontrak kerja di Jepang. Namun, Yoga menjadi peserta pertama yang memperoleh kepastian keberangkatan.
Tiga peserta lainnya masih menunggu Certificate of Eligibility (COE) atau dokumen izin tinggal, sedangkan dua peserta masih menjalani proses menuju wawancara akhir. Adapun dua peserta lainnya memutuskan tidak melanjutkan seleksi karena telah mendapatkan pekerjaan di Kota Padang.
“Sebenarnya, dari delapan peserta, empat orang telah memperoleh kontrak kerja di Jepang. Namun, baru Yoga yang diberangkatkan. Tiga peserta lainnya masih menunggu COE,” jelas Nofial.
Bagi Nofial, keberangkatan Yoga menjadi bukti bahwa program tersebut memberikan hasil nyata. Pencapaian itu juga diharapkan dapat menjaga semangat peserta lain yang masih menjalani tahapan seleksi.
Ia mengatakan, perjalanan menuju Jepang memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk keberangkatan saja, setiap calon pekerja membutuhkan dana sekitar Rp30 juta. Namun, FPM Koto Lua telah menggandeng investor yang bersedia menyediakan dana talangan.
“Sejak awal kami telah berkomitmen dengan investor. Jadi, Yoga maupun calon PMI lainnya tidak perlu khawatir mengenai biaya keberangkatan. Investor siap menanggung biaya tersebut,” katanya.
Menurut Nofial, dana talangan tersebut nantinya dikembalikan oleh peserta setelah mulai bekerja di Jepang. Dengan tingkat penghasilan yang diperoleh di Jepang, pengembalian dana tersebut diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar empat bulan.
“Skema ini dirancang agar keterbatasan ekonomi tidak menghalangi anak-anak muda dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh pekerjaan. Mereka tetap bisa berangkat tanpa harus membebani orang tua dengan biaya besar di awal,” ujarnya.
## Satu Orang Berangkat, Satu Keluarga Berdaya
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Koto Lua Indra Gunawan, yang turut hadir dalam acara pelepasan tersebut, melihat keberangkatan Yoga sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar keberhasilan seorang peserta pelatihan.
Menurutnya, program tersebut berpotensi menjadi salah satu jalan untuk mengurangi jumlah rumah tangga miskin (RTM).
Ketika seorang anak dari keluarga kurang mampu memperoleh pekerjaan dengan pendapatan yang layak, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Penghasilan tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan orang tua, membiayai pendidikan adik, memperbaiki tempat tinggal, hingga membuka peluang usaha.
“Satu orang yang berangkat bekerja ke Jepang berpotensi mengangkat satu keluarga dari kategori RTM. Karena itu, kami berharap PT Semen Padang terus mendukung program ini. Biaya pelatihan yang mencapai Rp6,5 juta untuk setiap peserta cukup besar sehingga kami membutuhkan dukungan dari PT Semen Padang,” katanya.
Meski biaya pelatihan cukup besar, Indra mengatakan dana tersebut tidak berhenti sebagai bantuan sekali pakai. Setelah peserta bekerja di Jepang, biaya pelatihan akan dikembalikan secara bertahap dan digunakan kembali untuk membiayai calon peserta berikutnya.
“Nah, dengan demikian, satu dukungan dari PT Semen Padang akan dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak anak muda. Ini menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan,” ujar Indra.
## Investasi Sosial untuk Masa Depan
Bagi PT Semen Padang, keberangkatan Yoga menjadi tonggak penting dari program yang telah dirintis bersama masyarakat sejak 2025.
Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang Win Bernadino mengapresiasi FPM Koto Lua yang berhasil mendampingi seorang warga dari keluarga kurang mampu hingga memperoleh pekerjaan di Jepang.
Menurutnya, keberhasilan Yoga sejalan dengan tujuan awal perusahaan dalam mendukung program pelatihan bahasa dan budaya Jepang tersebut. Program itu tidak hanya diarahkan untuk menambah pengetahuan peserta, tetapi juga diharapkan menghasilkan perubahan nyata terhadap kehidupan mereka.
“Sejak awal direncanakan, program ini memang bukan sekadar pelatihan, melainkan investasi sosial jangka panjang untuk menekan angka kemiskinan di sekitar wilayah perusahaan. Alhamdulillah, tujuan tersebut mulai terwujud. Kami sangat bersyukur dan terharu melihat pencapaian ini,” kata Win.
Sementara itu, Kepala Unit CSR PT Semen Padang Hernes menambahkan, pelatihan bahasa dan budaya Jepang tersebut merupakan bagian dari program Basinergi Membangun Nagari yang dijalankan perusahaan bersama FPM Koto Lua.
Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga memperoleh kemampuan dan akses menuju lapangan kerja.
“Sejak awal, pendekatan tersebut diharapkan dapat melahirkan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan. Alhamdulillah, Yoga menjadi peserta pelatihan pertama yang berhasil menjadi PMI di Jepang. Untuk itu, kami berpesan agar Yoga menjaga amanah, bekerja dengan disiplin, menghormati budaya setempat, dan menjaga nama baik Indonesia selama berada di Jepang,” katanya.
Hernes juga berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak warga. Terlebih, potensinya dinilai sangat besar dalam membantu keluarga kurang mampu keluar dari kemiskinan.
“Mudah-mudahan pencapaian Yoga ini dapat memotivasi teman-teman dan adik-adiknya untuk mengikuti jejak yang sama,” pungkas Hernes. (*)

2 hours ago
2


















































