
Kopi Sapuangin Klaten kembali menggeliat. Permintaan mencapai 10 ton, tetapi petani baru mampu memenuhi kurang dari 10 persen. /Espos.
Harianjogja.com, KLATEN—Kopi Sapuangin di Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Klaten, tengah menghadapi persoalan yang justru lahir dari tingginya permintaan pasar. Produksi kopi yang dibudidayakan di lereng Gunung Merapi itu belum mampu mengejar kebutuhan pembeli yang mencapai 10 ton, sementara kelompok petani pada 2025 hanya memproses sekitar 3 ton biji kopi.
Kondisi tersebut membuat pengelola Kopi Sapuangin kewalahan memenuhi pesanan dari berbagai daerah. Bahkan, sejumlah pembeli harus menunggu atau inden hingga enam bulan untuk mendapatkan kopi dari kawasan Sapuangin.
Srijono, salah satu pegiat yang mengawali kembali budi daya kopi di kawasan tersebut, mengatakan permintaan yang tinggi menjadi peluang besar bagi petani Tegalmulyo untuk mengembangkan komoditas kopi. Namun, kemampuan produksi saat ini masih jauh dari kebutuhan pasar.
“Untuk permintaan yang bisa kami penuhi itu 10 persen saja belum mencapai,” ungkap Jono saat ditemui, Kamis (6/8/2026).
Kopi Lereng Merapi yang Kembali Bangkit
Budi daya kopi di wilayah Sapuangin, Tegalmulyo, sebenarnya bukan hal baru. Penanaman kopi di lereng Gunung Merapi tersebut telah dilakukan sejak era kolonial.
Namun, perjalanan komoditas kopi di kawasan itu sempat terhenti. Pada 1990-an, petani melakukan penebangan tanaman kopi secara besar-besaran setelah harga kopi jatuh di pasaran.
Kebangkitan kembali mulai terlihat sekitar 2017. Petani di Sapuangin kembali menanam kopi, termasuk bibit kopi Arabika varietas Yellow Bourbon yang diperoleh dari Classic Bean Bandung.
Sejak saat itu, para pemuda Sapuangin tidak hanya belajar menanam kopi. Mereka juga mempelajari proses pengolahan hingga pascapanen agar hasil produksi memiliki kualitas yang lebih baik.
Srijono menjadi salah satu pegiat yang turut mengawali masa kebangkitan kopi di Tegalmulyo. Dia mengingat kembali masa ketika dirinya dan sejumlah teman mulai menanam kopi, meski saat itu tidak sedikit pihak yang pesimistis terhadap upaya tersebut.
“Tetapi waktu itu berpikir yang penting kami terus berkembang,” kata Srijono.
Lebih dari 2.000 Tanaman Kopi
Perkembangan pengetahuan tentang teknik budi daya dan pengolahan pascapanen kemudian mendorong semakin banyak petani kembali tertarik menanam kopi di ladang mereka.
Saat ini, lebih dari 2.000 tanaman kopi telah dibudidayakan petani di wilayah Tegalmulyo, Klaten. Pengelolaannya dilakukan dengan dua pola, yakni melalui kelompok petani maupun secara mandiri.
Menurut Srijono, pemahaman mengenai budi daya dan pengolahan pascapanen menjadi salah satu faktor yang mendorong perkembangan kopi di wilayah tersebut. Dengan teknik pengolahan yang tepat, petani dapat menghasilkan kopi berkualitas yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Kondisi itu pula yang membuat kopi asal Tegalmulyo, khususnya Kopi Sapuangin, mulai mendapat perhatian pembeli dari berbagai daerah.
Pesanan Menunggu hingga Enam Bulan
Tingginya permintaan pasar kini menjadi tantangan tersendiri bagi petani. Pada 2025, kelompok petani kopi Sapuangin memproses sekitar 3 ton biji kopi, sedangkan permintaan yang masuk telah mencapai 10 ton.
Kapasitas produksi yang belum sebanding dengan permintaan membuat pengelola belum mampu memenuhi kebutuhan pasar secara optimal. Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat pembeli beralih karena sebagian justru bersedia menunggu.
Sejumlah pembeli bahkan harus inden hingga enam bulan untuk mendapatkan kopi berkualitas dari petani Tegalmulyo.
“Ke depan sangat potensial untuk terus dikembangkan. Ditambah isu internasional terkait stok kopi arabika,” kata Srijono.
Menurut Srijono, Kopi Sapuangin memiliki daya tarik tersendiri karena tidak hanya mengandalkan proses pascapanen. Varietas Yellow Bourbon yang dibudidayakan petani di Tegalmulyo juga masih relatif jarang ditemui.
“Varietas Yellow Bourbon belum banyak,” ungkap Srijono.
Kerja Sama Klaten-Gayo Lues Jadi Harapan
Melihat potensi tersebut, Srijono berharap budi daya kopi di Tegalmulyo terus berkembang. Dia juga menyambut positif kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Klaten dan Kabupaten Gayo Lues, Aceh, yang salah satunya mencakup sektor pertanian kopi.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat ikut mendorong perkembangan perkopian di Klaten sekaligus meningkatkan semangat petani untuk mengembangkan komoditas tersebut.
“Semoga saja dengan kerja sama ini perkopian di Klaten semakin maju serta petani semakin semangat,” kata Srijono.
Perangkat Desa Tegalmulyo, Subur, turut membenarkan perkembangan budi daya kopi di wilayah tersebut. Menurut dia, peningkatan kemampuan petani dalam menerapkan teknik budi daya dan pengolahan menjadi salah satu faktor yang membuat tanaman kopi semakin berkembang.
“Sejak petani sudah paham tekniknya, sekarang semakin berkembang. Terutama pada pengolahan pascapanen,” jelas Subur.
Kebangkitan kopi di lereng Merapi wilayah Tegalmulyo kini memasuki fase berbeda. Setelah sempat ditinggalkan akibat anjloknya harga pada 1990-an, kopi kembali menjadi komoditas yang diminati pasar. Tantangan berikutnya bagi petani adalah meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengabaikan kualitas yang selama ini menjadi daya tarik Kopi Sapuangin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Espos

3 hours ago
3

















































