Labuhan Dalem Taun Dal Digelar, Bantul Terima Ubo Rampe

17 hours ago 5

Labuhan Dalem Taun Dal Digelar, Bantul Terima Ubo Rampe Bupati Bantul Abdul Halim Muslih saat menghadiri upacara Hajad Dalem Labuhan di Kapanewon Kretek, Bantul, Senin (19 - 1). Kiki Luqman

Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul turut ambil bagian dalam pelaksanaan Upacara Hajad Dalem Labuhan Pengetan Tingalan Jumenengan Dalem Taun Dal 1959/2026 yang digelar di Pendopo Kantor Kapanewon Kretek, Bantul, Senin (19/1/2026).

Prosesi ini merupakan bagian dari tradisi sakral Keraton Yogyakarta yang dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus ikhtiar spiritual untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi raja, negara, serta masyarakat.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyampaikan apresiasi atas kelancaran jalannya prosesi serta kehadiran seluruh pihak yang terlibat. Ia menegaskan bahwa Labuhan Dalem memiliki makna mendalam sebagai simbol doa dan harapan bagi kehidupan masyarakat.

“Saya menyampaikan terima kasih atas kehadiran panjenengan semua. Pada kesempatan ini kami menerima ubo rampe Labuhan Dalem,” ujar Halim Muslih.

Menurutnya, tradisi Labuhan tidak hanya bernilai budaya, tetapi juga menjadi pengikat harmoni antara Keraton Yogyakarta, pemerintah daerah, dan masyarakat. Melalui prosesi ini, doa dipanjatkan agar masyarakat senantiasa dianugerahi keselamatan, ketenteraman, serta umur panjang.

“Ini merupakan wujud syukur dan permohonan doa agar kita semua mendapatkan raharjaning kawula dalem dan pangestu melalui lantaran Labuhan ini,” katanya.

Halim Muslih juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat kekurangan. Usai prosesi serah terima di tingkat kabupaten, ubo rampe Labuhan selanjutnya diserahkan kepada juru kunci untuk menjalani ritual utama di kawasan Parangkusumo.

Panewu Kretek Cahya Widada menjelaskan, prosesi Labuhan Dalem tidak langsung dilakukan di lokasi pelarungan. Tahapan awal berupa serah terima ubo rampe dari Keraton Yogyakarta kepada Pemerintah Kabupaten Bantul, yang dipusatkan di Kapanewon Kretek.

“Labuhan di Parangkusumo diawali dengan serah terima ubo rampe dari Keraton kepada Pemkab Bantul, dan proses itu dilaksanakan di Kapanewon Kretek,” jelas Cahya.

Setelah diterima oleh Bupati Bantul, ubo rampe tersebut kemudian diserahkan kepada juru kunci Parangkusumo untuk dilaksanakan ritual Labuhan di Cepuri Parangkusumo. Seluruh rangkaian prosesi berlangsung berdasarkan dawuh atau perintah resmi Bupati Bantul.

“Ubo rampe dibawa ke Cepuri Parangkusumo untuk didata kembali, disaksikan bersama, lalu dilakukan prosesi pelarungan,” ujarnya.

Cahya Widada menambahkan, pelaksanaan Labuhan tahun ini memiliki kekhususan karena berlangsung pada Tahun Dal, yang dalam tradisi Keraton Yogyakarta dipandang sebagai tahun besar bagi pelaksanaan Labuhan.

“Tahun Dal merupakan tahun paling ageng untuk Labuhan. Tahun ini juga istimewa karena lokasi Labuhan tidak hanya di tiga tempat, melainkan empat, termasuk di Wonogiri yang tidak rutin dilaksanakan setiap tahun,” katanya.

Ia berharap, tradisi ini dapat membawa dampak positif bagi masyarakat, tidak hanya secara spiritual tetapi juga sosial dan ekonomi, terutama bagi sektor pariwisata di kawasan Kretek dan Parangtritis.

“Mudah-mudahan masyarakat semakin tenteram, sejahtera, dan aktivitas pariwisata di Parangkusumo serta sekitarnya terus berkembang,” pungkas Cahya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news