Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipus) Jeneponto. (Dok: Ist)KabarMakassar.com – Kondisi perpustakaan di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, tengah berada dalam sorotan tajam. Dari total 484 unit perpustakaan yang tersebar di jenjang pendidikan, desa, hingga kelurahan, baru 10 unit yang dinyatakan memenuhi standar dan mengantongi sertifikat akreditasi.
Rendahnya angka akreditasi ini menjadi sinyal merah bagi kualitas pengelolaan pusat literasi di daerah tersebut.
Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarsipus) Jeneponto, Taufik, menegaskan bahwa realita ini memerlukan pembenahan serius dan menyeluruh.
“Jumlah perpustakaan kita cukup banyak, tetapi yang terakreditasi masih sangat minim. Ini adalah rapor yang harus kita benahi bersama secara serius,” ungkap Taufik kepada media, Selasa (28/4).
Taufik menjelaskan bahwa akreditasi adalah tolok ukur kualitas sebuah perpustakaan. Penilaian mencakup aspek koleksi buku, sistem pengelolaan digital, sarana prasarana, hingga kompetensi SDM pengelolanya.
Menurutnya, minimnya perpustakaan yang terakreditasi dipicu oleh sejumlah kendala klasik di lapangan, seperti keterbatasan anggaran dan kurangnya pemahaman teknis dari masing-masing satuan pendidikan.
“Banyak perpustakaan yang sebenarnya sudah beroperasi, namun belum memenuhi standar nasional. Kami mendorong agar setiap sekolah mulai memenuhi aspek-aspek penilaian tersebut agar layanan literasi kita lebih berkualitas,” jelasnya.
Sebagai langkah konkret, Disarsipus Jeneponto memasang target peningkatan jumlah perpustakaan terakreditasi minimal 10 persen dalam waktu dekat.
Taufik optimistis angka ini bisa tercapai jika ada sinergi kuat antara sekolah, tenaga pendidik, dan pemangku kepentingan lainnya.
“Peningkatan kualitas perpustakaan bukan tugas dinas semata. Semua pihak harus terlibat. Sekolah tidak boleh lagi melihat perpustakaan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi harus menjadi ruang belajar yang hidup dan inovatif,” tegas Taufik.
Lebih jauh, Taufik menekankan bahwa penguatan perpustakaan merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kualitas sumber daya manusia di Butta Turatea.
Keberadaan perpustakaan yang standar diharapkan mampu mendongkrak minat baca pelajar yang selama ini masih menjadi tantangan besar.
“Ini bukan sekadar mengejar target angka di atas kertas, tetapi soal bagaimana kita membangun ekosistem pendidikan yang lebih baik. Perpustakaan harus menjadi pusat literasi yang mampu menarik minat baca siswa dan mendukung kegiatan belajar mengajar secara maksimal,” tandasnya.
Diharapkan dengan adanya upaya percepatan akreditasi ini, manfaat nyata dapat dirasakan langsung oleh para pelajar di Jeneponto guna menciptakan generasi yang lebih kompetitif.


















































