Migrain, Risiko dan Beragam Penyakit yang Berhubungan

2 hours ago 3

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF – Migrain bukan sekadar sakit kepala biasa. Meski hingga kini penelitian belum membuktikan bahwa migrain secara langsung menyebabkan penyakit lain, berbagai studi menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan sejumlah gangguan kesehatan.

Beberapa penyakit lebih sering dialami oleh orang yang menderita migrain. Di sisi lain, ada pula penyakit yang gejalanya mirip dengan migrain, sehingga kerap menimbulkan kebingungan dalam diagnosis.

Baca Juga

Risiko ini cenderung lebih tinggi pada penderita migrain dengan aura—gangguan sensorik yang bisa muncul sebelum, selama, atau setelah serangan migrain. Aura biasanya bersifat visual, seperti kilatan cahaya, titik buta, atau sensasi kesemutan di wajah dan tangan.

Kondisi Kesehatan yang Berkaitan dengan Migrain
1. Stroke

Risiko stroke sedikit lebih tinggi pada penderita migrain, terutama pada:

  • penderita migrain dengan aura,

  • perempuan,

  • orang berusia di bawah 45 tahun.

Menariknya, setelah usia 50 tahun, risiko stroke yang berkaitan dengan migrain menurun cukup signifikan. Gejala stroke—seperti sakit kepala hebat dan muntah—kadang disalahartikan sebagai migrain. Beberapa jenis migrain bahkan menyerupai stroke, seperti migrain dengan aura dan thunderclap migraine (sakit kepala mendadak dan sangat intens).

Perbedaannya terletak pada kecepatan munculnya gejala. Migrain biasanya berkembang perlahan, sedangkan stroke terjadi secara tiba-tiba. Tiga tanda utama stroke yang perlu diwaspadai:

  • Wajah terkulai atau mati rasa di satu sisi

  • Salah satu lengan terasa lemah atau mati rasa

  • Kesulitan berbicara atau bicara pelo

Jika stroke dicurigai, segera cari bantuan medis.

2. Penyakit jantung

Pria dengan migrain memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan serangan jantung. Pada perempuan, risiko ini juga meningkat, terutama jika migrain disertai aura. Frekuensi migrain tidak terbukti memengaruhi besar kecilnya risiko tersebut.

3. Tekanan darah tinggi

Belum ada bukti kuat yang mengaitkan migrain dengan hipertensi. Namun, tekanan darah tinggi diduga dapat memperparah atau memperbanyak frekuensi sakit kepala.

4. Kejang (seizure)

Beberapa gejala aura migrain—seperti gangguan penglihatan dan mual—mirip dengan kejang. Bedanya, kejang biasanya berlangsung 30 detik hingga 2 menit, sementara aura migrain bisa bertahan hingga satu jam. Serangan migrain sendiri dapat berlangsung 4 hingga 24 jam.

5. Gangguan pendengaran

Penderita migrain memiliki risiko lebih tinggi mengalami kehilangan pendengaran mendadak, yaitu penurunan pendengaran yang terjadi cepat dalam beberapa hari. Meski jarang, kondisi ini terjadi dua kali lebih sering pada penderita migrain dibandingkan orang tanpa migrain.

6. Fibromyalgia

Sindrom yang ditandai nyeri kronis, kelelahan, dan gangguan tidur ini sering ditemukan pada penderita migrain. Namun, belum ada bukti bahwa migrain menyebabkan fibromyalgia.

7. Depresi dan kecemasan

Migrain kerap terjadi pada orang dengan gangguan kecemasan. Kombinasi migrain dan kecemasan juga meningkatkan risiko depresi. Beberapa penelitian menunjukkan aura dapat memperbesar risiko gangguan psikologis, meski masih diperlukan riset lanjutan.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news