Kondisi Desa Bunin, Kecamatan Serbajadi, Kabupaten Aceh Timur setelah banjir bandang, Kamis (27/11/2025). ANTARA - ist.Warga
Harianjogja.com, JAKARTA—Penyelidikan Bareskrim Polri mengungkap dugaan pembalakan liar di hulu Sungai Tamiang yang dijalankan menggunakan teknik panglong untuk mengalirkan kayu melalui sungai.
Kayu hasil potongan ditumpuk di tepian sungai lalu dihanyutkan saat air meninggi sehingga mudah berpindah lokasi tanpa terdeteksi. Untuk pembukaan lahan, pelaku memotong batang besar menjadi bagian kecil agar turut terbawa arus.
Bareskrim menemukan mayoritas penebangan dilakukan di kawasan hutan lindung tanpa izin resmi. Kayu yang diambil merupakan jenis non-keras. Proses pendalaman kasus terus dilakukan guna memastikan pelaku dan jaringan pembalak di wilayah tersebut.
Dirtipidter Bareskrim Polri Brigjen Mohammad Irhamni mengatakan temuan itu diperoleh saat melakukan penyelidikan di lokasi.
"Informasi awal di hulu Sungai Tamiang terdapat aktivitas illegal logging dan land clearing oleh masyarakat," ujar Irhamni dilansir Bisnis.com, Selasa (9/12/2025).
Modus yang dilakukan pelaku pembalakan pohon liar itu dengan mekanisme panglong. Pada intinya, mekanisme panglong ini dilakukan dengan menumpuk kayu yang sudah dipotong untuk selanjutnya dihanyutkan saat air naik pada bantaran sungai.
"Mekanisme panglong kayu dipotong, ditumpuk di bantaran, lalu dihanyutkan saat air naik seperti rakit," katanya.
Adapun mekanisme pembukaan lahan dilakukan dengan memotong kayu besar menjadi kecil agar mudah terbawa arus sungai. Penebangan hutan liar sepanjang Sungai Tamiang ini secara mayoritas diduga tidak berizin.
"Penebangan di hutan lindung sepanjang Sungai Tamiang, Aceh Tamiang mayoritas tidak berizin, dan kayu bukan jenis kayu keras," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

1 month ago
17
















































