Wisatawan sedang bermain air di pantai Parangtritis Bantul. - Harian Jogja / Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Pendapatan Asli Daerah (PAD) pariwisata Bantul 2025 tercatat Rp26,7 miliar, turun sekitar Rp4 miliar dari 2024. Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul menyebut ekonomi dan study tour sebagai faktor.
Dispar Bantul melaporkan total kunjungan wisatawan mencapai 1.848.776 orang dengan perolehan PAD sebesar Rp26,7 miliar.Angka tersebut hanya memenuhi sekitar 54,6 persen dari target awal yang ditetapkan sebesar Rp49 miliar. Realisasi ini menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun 2024, di mana PAD pariwisata Bantul mampu menembus angka Rp30,6 miliar.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekraf Ahli Muda Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi, mengonfirmasi adanya penurunan pendapatan sekitar Rp4 miliar dibandingkan tahun lalu. Menurutnya, melemahnya kondisi ekonomi masyarakat menjadi faktor utama berkurangnya minat rekreasi.
"Pendapatan masyarakat menurun sehingga masyarakat lebih irit dalam pengeluaran uang untuk rekreasi atau wisata," ujar Markus, Jumat (2/1/2026).
Selain faktor ekonomi, kebijakan pelarangan study tour bagi pelajar memberikan pukulan telak bagi pariwisata daerah. Selama ini, rombongan pelajar merupakan penopang utama volume kunjungan di berbagai objek wisata andalan Bantul. Markus menambahkan bahwa perilaku wisatawan kini cenderung lebih hemat, seperti membawa bekal sendiri dari rumah, sehingga omzet pedagang lokal pun ikut terdampak.
Tren penurunan ini juga terlihat jelas pada momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Pada periode 20–31 Desember 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bantul tercatat sebanyak 116.788 orang dengan PAD Rp1,6 miliar.
Angka ini merosot signifikan jika dibandingkan dengan periode Nataru 2024 yang mampu menarik 163.152 wisatawan dengan perolehan PAD mencapai Rp2,2 miliar. Kondisi ini mempertegas tantangan besar yang dihadapi industri pariwisata di wilayah tersebut.
Menanggapi kegagalan pencapaian target dalam dua tahun terakhir, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Saryadi, menyatakan bahwa target Rp49 miliar dinilai terlalu tinggi dan kurang relevan dengan kondisi riil di lapangan.
Sebagai langkah evaluasi, Pemerintah Kabupaten Bantul resmi melakukan penyesuaian target untuk tahun anggaran berikutnya. "Tahun 2024 dan 2025 target PAD sebesar Rp49 miliar tidak pernah terealisasi. Oleh karena itu, target PAD tahun 2026 disesuaikan menjadi Rp29 miliar. Angka tersebut jauh lebih realistis melihat kondisi di lapangan saat ini," tutur Saryadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

2 hours ago
2
















































