Pelatihan Menjahit DIY Disnaker Mempersiapkan Para Ibu untuk Membuka Usaha Mandiri dan Meningkatkan Perekonomian Keluarga
Harianjogja.com, SLEMAN - UKM, para pelaku industri manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Sektor ini bahkan mengalami pertumbuhan selama pandemi Covid-19 melalui adaptasi digital, inovasi produk, dan respons terhadap perubahan kebutuhan konsumen.
Potensi ini kemudian dimanfaatkan dan dimaksimalkan oleh DPRD DIY dan Pusat Pelatihan dan Pengembangan Produktivitas Tenaga Kerja (BLKPP) dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY melalui serangkaian pelatihan untuk masyarakat.
Di Kalurahan Sumbersari, Moyudan, sebanyak 20 ibu rumah tangga mengikuti pelatihan menjahit. Siti Muslimah sebagai instruktur mendampingi para ibu agar mereka dapat menghasilkan sejumlah produk.
Mengusung judul "Unit Pelatihan Bergerak (MTU) APBD 2026 Pelatihan Keterampilan", kegiatan ini merupakan upaya pemerintah untuk mendorong ibu rumah tangga agar memiliki keterampilan kerja, sehingga mereka mampu membuka usaha sendiri.
Pelatihan yang berlangsung dari 6 April hingga 13 Mei 2026 ini diikuti oleh peserta dengan latar belakang keterampilan yang berbeda, mulai dari peserta yang sudah memiliki dasar-dasar menjahit hingga mereka yang benar-benar baru belajar.
Instruktur BLKPP DIY, Siti Muslimah, mengatakan bahwa perbedaan kemampuan peserta menjadi tantangan tersendiri selama proses pelatihan. Menurutnya, beberapa peserta mampu memahami materi dengan cepat, sementara yang lain membutuhkan bantuan yang lebih intensif.
"Para peserta sangat beragam. Ada yang masih muda, ada juga ibu-ibu muda. Ada yang benar-benar dari nol, ada yang sudah memiliki keterampilan dasar. Tingkat keterampilan masing-masing berbeda, jadi kita harus lebih tekun," kata Siti saat ditemui di Sumbersari, Moyudan, Selasa (12/5/2026).

Ia mengatakan, instruktur terus memotivasi para peserta agar mereka tidak mudah menyerah selama pelatihan. Karena, menurutnya, keterampilan menjahit membutuhkan proses dan jam terbang agar keterampilan tersebut dapat diasah.
"Kami selalu mengatakan bahwa keterampilan ini nantinya dapat menjadi bekal untuk membuat keluarga mereka sejahtera. Jadi para ibu harus tetap termotivasi, jangan putus asa, dan jangan mudah menyerah karena semuanya membutuhkan proses," katanya.
Siti menjelaskan bahwa peserta yang lebih cepat memahami materi diharapkan juga mampu membantu peserta lain yang masih mengalami kesulitan. Pendekatan ini dilakukan agar proses pembelajaran berjalan bersama dan semua peserta mampu menguasai keterampilan dasar menjahit.
"Bagi mereka yang sudah mampu, kami berharap dapat menemani teman-teman mereka yang lain. Sementara bagi mereka yang masih dari nol tetap antusias karena semuanya hanya masalah pelatihan dan jam terbang," katanya.
Dalam program ini, peserta tidak hanya mendapatkan pelatihan menjahit teknis, tetapi juga kewirausahaan dan pemasaran digital. Materi kewirausahaan diberikan selama dua hari, termasuk cara mengelola bisnis dan memasarkan produk secara online.
“Ilmu yang didapat di sini sebenarnya sudah lengkap. Awalnya mereka mendapat materi kewirausahaan, cara mengelola usaha, kemudian digital marketing, bagaimana memasarkan dan menampilkan produk, baru setelah itu teknis menjahit,” lanjutnya.
Menurut dia, tujuan utama program tersebut adalah mendorong masyarakat DIY menjadi lebih sejahtera melalui keterampilan produktif yang dapat dikembangkan menjadi usaha rumahan maupun usaha skala kecil.
“Harapannya nanti ketika mereka sudah bisa membuka usaha sendiri, masyarakat sekitar juga ikut terbantu dan ekonomi warga DIY bisa lebih sejahtera,” ujarnya.
Selain pelatihan dasar, BLKPP DIY juga membuka peluang bagi peserta untuk melanjutkan pelatihan tingkat lanjutan di BLK, termasuk pelatihan desain busana dan kreasi pakaian modern berbahan batik.
“Pelatihan MTU ini memang tingkat dasar. Kalau nanti ingin belajar desain pakaian atau kreasi yang lebih tinggi tingkatannya, peserta bisa datang langsung ke BLK dan mendaftar pelatihan lanjutan,” kata Siti.
Sementara itu, Ketua Pelatihan MTU, Anisyah Ariftiyasari, menunjukkan pakaian yang ia dan peserta pelatihan kenakan merupakan produk hasil pelatihan selama hampir satu bulan ini. Batik dengan warna dasar merah muda bermotif bunga ini hanya salah satu produk mereka.
Anisyah mengaku sebelum mengikuti pelatihan tersebut belum pernah menjahit sama sekali. Pendampingan mentor yang intensif membuat ia dan peserta lain lebih mudah memahami proses belajar.
Selama pelatihan, peserta mendapat bantuan perlengkapan menjahit berupa mesin jahit, mesin obras, setrika, meja setrika, serta bahan dan perlengkapan produksi lainnya. Produk yang dipelajari meliputi kemeja pria, kemeja wanita, rok, dan gamis.
“Kalau mesin jahit satu orang dapat satu. Kalau peralatan dan perlengkapan lain buat kelompok,” kata Anisyah.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh dapat menjadi modal untuk membuka usaha butik atau menerima pekerjaan menjahit dari rumah. Menurutnya, kepemilikan mesin jahit pribadi juga menjadi peluang besar bagi peserta untuk mulai berwirausaha setelah pelatihan selesai.
“Insyaallah nanti inginnya buka butik sendiri atau kerja dari rumah karena sekarang sudah punya mesin jahit sendiri,” katanya.
Selain mengikuti pelatihan menjahit, sebagian peserta diketahui tetap menjalankan aktivitas lain seperti bertani dan berkebun di rumah. Namun demikian, pelatihan menjahit dinilai menjadi peluang tambahan untuk meningkatkan pendapatan keluarga.
Di sisi lain, Kepala BLKPP Disnakertrans DIY, Tunggul Bomo Aji, menghadiri pelatihan MTU tata kecantikan di Kalurahan Giring, Paliyan, Gunungkidul pada Selasa (12/5). Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa program ini merupakan pelatihan noninstitusional yang dirancang untuk mewadahi aspirasi masyarakat melalui dukungan DPRD DIY. Pada 2026, program MTU disebut hanya memiliki lima paket pelatihan di DIY dengan berbagai bidang keterampilan.
Menurutnya, keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari selesainya proses pembelajaran, tetapi juga dampak berkelanjutan berupa munculnya bisnis baru dari para peserta setelah pelatihan berakhir.
BLKPP DIY memastikan bahwa program pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pemantauan dan pendampingan tetap dilakukan untuk memastikan bahwa keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan dan dikembangkan menjadi usaha produktif di masyarakat.
Pemerintah akan mengevaluasi apakah pelatihan tersebut mampu melahirkan usaha produktif di masyarakat. Karena, semua fasilitas dan alat yang diberikan kepada peserta diharapkan benar-benar dapat digunakan untuk membuka usaha.
Jika tidak ada kegiatan bisnis yang sedang berjalan, ini dapat menjadi evaluasi untuk memutuskan apakah kegiatan yang sama akan tetap dilaksanakan tahun depan atau tidak.
"Pelatihan telah selesai. Hasilnya telah tercapai. Pelatihan untuk 20 orang selama 20 hari telah berhasil. Yang masih kita tunggu adalah dampaknya," kata Tunggul.
Selain keterampilan teknis, Tunggul menilai bahwa peserta juga perlu dibekali dengan keterampilan pemasaran agar bisnis yang mereka jalankan dapat berkembang. Menurutnya, kemampuan memproduksi barang atau jasa saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan strategi pemasaran yang baik.
"Jika kita bisa membuat produk sekarang, itu saja tidak cukup jika kita hanya berbicara tentang bisnis. Bagaimana memasarkannya juga penting," katanya.
Ia menambahkan bahwa BLKPP DIY masih membuka ruang untuk evaluasi dan masukan dari peserta agar materi pelatihan di masa mendatang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan dunia bisnis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

5 hours ago
5

















































