Jumali Jum'at, 18 September 2026 08:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Pendiri ByteDance, Zhang Yiming, naik ke posisi orang terkaya di Asia setelah kekayaannya melampaui miliarder India Gautam Adani.
Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Zhang telah menembus US$105 miliar. Kenaikan tersebut terutama berkaitan dengan pembaruan valuasi ByteDance serta perkembangan bisnis kecerdasan buatan (AI) perusahaan yang menaungi TikTok.
Zhang yang berusia 43 tahun pertama kali masuk perhitungan kekayaan Bloomberg dengan estimasi sekitar US$13 miliar pada Maret 2019. Artinya, nilai kekayaannya dalam estimasi terbaru telah meningkat lebih dari delapan kali lipat dalam sekitar tujuh tahun.
Kekayaan Zhang Bertambah US$12 Miliar dalam Sebulan
Lonjakan terbaru terjadi dalam waktu relatif singkat. Bloomberg menambahkan lebih dari US$12 miliar ke estimasi kekayaan Zhang sepanjang September setelah memasukkan pembaruan valuasi ByteDance berdasarkan penilaian dari sejumlah perusahaan investasi, termasuk BlackRock, Fidelity Investments, dan T. Rowe Price.
Kenaikan tersebut membuat Zhang melewati Gautam Adani dalam Bloomberg Billionaires Index.
Kekayaan Adani sebelumnya sempat mencapai sekitar US$120 miliar pada Juni. Namun, nilainya kemudian turun setelah perubahan bobot saham dalam indeks MSCI dan aksi jual di pasar yang turut dipengaruhi kenaikan harga minyak serta imbal hasil obligasi.
ByteDance Tak Lagi Hanya Mengandalkan TikTok
Sumber utama kekayaan Zhang tetap berasal dari kepemilikannya di ByteDance, perusahaan teknologi yang mengembangkan TikTok.
Namun, ByteDance dalam beberapa tahun terakhir juga memperluas bisnisnya ke sektor AI. Dua produk yang menjadi bagian dari ekspansi tersebut adalah chatbot Doubao dan alat pembuat video berbasis AI, Seedance. Perkembangan bisnis tersebut ikut menjadi pertimbangan dalam penilaian terhadap ByteDance.
Analis utama Omdia Lian Jye Su menilai Zhang konsisten mempertahankan investasi ByteDance di bidang AI meski perusahaan menghadapi tekanan regulasi dan persoalan geopolitik terkait TikTok.
ByteDance juga memiliki basis data dalam jumlah besar dari berbagai platform media sosialnya. Menurut analisis tersebut, sumber data tersebut dapat menjadi salah satu keunggulan dalam pengembangan model AI, meskipun persaingan industri AI di China juga semakin ketat.
Kekayaan US$105 Miliar Itu Bukan Uang Tunai
Ada hal penting dalam membaca angka kekayaan Zhang.
ByteDance merupakan perusahaan privat sehingga sahamnya tidak diperdagangkan secara terbuka seperti perusahaan yang tercatat di bursa. Bloomberg Billionaires Index karena itu menggunakan metode valuasi tertentu dan menerapkan diskon risiko 10 persen terhadap valuasi ByteDance ketika menghitung kekayaan Zhang.
Dengan demikian, angka lebih dari US$105 miliar merupakan estimasi nilai kekayaan, bukan berarti Zhang memiliki uang tunai sebesar nominal tersebut.
Perbedaan metode juga dapat menghasilkan angka kekayaan yang berbeda antarindeks. Karena itu, posisi Zhang sebagai orang terkaya Asia dalam konteks ini merujuk secara spesifik pada Bloomberg Billionaires Index.
Bisnis AI dan Masa Depan ByteDance
Kenaikan kekayaan Zhang juga terjadi setelah ByteDance melewati periode panjang ketidakpastian terkait operasional TikTok di Amerika Serikat.
Pada awal 2026, sebagian operasional TikTok di AS dialihkan kepada investor Amerika. Langkah tersebut mengurangi sebagian ketidakpastian mengenai keberlangsungan bisnis TikTok di pasar tersebut, menurut laporan yang dikutip dari Bloomberg.
Meski demikian, ByteDance masih menghadapi tantangan dari persaingan industri teknologi di China. Ekspansi ke AI menjadi salah satu bidang yang kini diperhitungkan dalam perkembangan bisnis perusahaan.
Kenaikan Zhang juga menunjukkan perubahan dalam daftar orang terkaya Asia. Kekayaan yang berasal dari perusahaan teknologi dan bisnis AI kini berada di antara sumber kekayaan terbesar di kawasan tersebut, berdampingan dengan kekayaan yang selama ini dibangun dari sektor energi, infrastruktur, ritel, dan industri lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2
















































