Pengamat UGM: Ketegangan AS-Venezuela Tak Berdampak ke RI

1 day ago 7

Harianjogja.com, SLEMAN—Ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela akibat penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dinilai tidak akan berimplikasi signifikan terhadap Indonesia. Hal itu disampaikan Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Rochdi Mohan Nazala.

Rochdi menjelaskan setidaknya ada tiga poin utama yang dapat dibaca dari langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela. Pertama, peristiwa tersebut disebutnya sebagai kejadian paling besar sejak berakhirnya Perang Dingin.

“Setelah Perang Dingin selesai, tahun 1990-an itu hampir tidak pernah ada kepala negara yang kemudian diculik atau Amerika Serikat melakukan intervensi secara langsung untuk menjatuhkan presiden di wilayah benua Amerika,” kata Rochdi, Senin (5/1/2026).

Jika ditarik ke belakang, Rochdi menilai tindakan Amerika Serikat tidak lepas dari doktrin pengamanan backyard atau halaman belakang negara tersebut. Venezuela dipandang sebagai bagian dari kawasan strategis yang menjadi prioritas pengamanan Washington.

“Kita tahu Venezuela itu wilayah belakang daripada Amerika Serikat. Jadi ini tidak terlepas dari doktrin Amerika Serikat. Kita kenal namanya Monroe Doctrine,” tandasnya.

Menurut Rochdi, sejak lama Amerika Serikat kerap melakukan intervensi terhadap negara-negara Amerika Latin yang dianggap membahayakan kepentingannya.

“Dulu di Kuba, di Panama, sekarang di Venezuela,” ujarnya.

Poin kedua, Rochdi melihat intervensi Amerika Serikat ke Venezuela tidak semata terkait sikap politik Caracas yang berseberangan dengan Washington, tetapi juga karena faktor Rusia yang berada di belakang Presiden Maduro.

“Bagaimana Maduro itu secara konsisten mencoba melawan Amerika Serikat dan siapa di balik Maduro, kita tahu adalah Rusia. Jadi sebetulnya Venezuela ini adalah proksi dari Rusia,” tuturnya.

Selain faktor geopolitik, Rochdi menilai kekayaan sumber daya alam Venezuela juga menjadi pertimbangan penting. Negara tersebut bukan hanya produsen minyak besar dunia, tetapi juga memiliki cadangan mineral yang melimpah.

“Celakanya Venezuela juga didukung oleh natural resources yang besar. Tidak hanya minyak bumi—yang kita tahu dia nomor satu dunia, nomor duanya Arab Saudi—tetapi juga cadangan mineral yang luar biasa,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika Venezuela dapat dikuasai, maka cadangan dan produksi sumber daya strategis tersebut akan lebih mudah diatur.

“Bisa dibayangkan dengan adanya invasi ke Venezuela, maka setidaknya salah satu pemilik cadangan maupun produsen mineral itu sudah bisa diatur,” katanya.

Rochdi melanjutkan, apabila produksi minyak Venezuela digenjot hingga terjadi oversupply, maka harga minyak dunia berpotensi turun. Kondisi ini akan berdampak besar pada negara-negara yang bergantung pada ekspor minyak seperti Rusia dan Iran.

“Kalau minyak dikuasai lalu diproduksi besar-besaran, harga akan turun. Negara-negara seperti Rusia atau Iran yang menggantungkan diri pada minyak bumi bisa ‘berteriak’, dan dalam jangka panjang pemerintahannya bisa jatuh,” ujarnya.

Implikasi terhadap Indonesia

Meski demikian, Rochdi menegaskan ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela tidak akan berdampak besar bagi Indonesia. Salah satu alasannya adalah nilai perdagangan Indonesia dengan Venezuela yang relatif kecil.

“Saya kira tidak terlalu berimplikasi dengan Indonesia. Kalau kita lihat, ekspor-impor kita ke Venezuela juga tidak terlalu besar, sehingga tidak akan berdampak panjang,” katanya.

Namun, Rochdi menyebut Indonesia justru berpotensi menikmati dampak turunnya harga minyak dunia.

“Kalau dari sisi resources, terutama minyak bumi, kalau harganya turun, ya kita akan menikmatinya,” imbuhnya.

Menurut Rochdi, penurunan harga minyak bisa mendorong pergerakan ekonomi. Meski demikian, pihak yang paling diuntungkan dari dinamika tersebut tetap Amerika Serikat.

“Siapa yang paling menikmati tentu saja Amerika. Sampai sejauh mana dampaknya ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia, saya kira dalam jangka pendek tidak akan signifikan,” pungkasnya.

Rochdi menegaskan Indonesia masih berada di posisi relatif aman dari dampak langsung konflik Amerika Serikat dan Venezuela, meskipun dinamika geopolitik global tetap perlu dicermati, terutama terkait pergerakan harga minyak dunia dan stabilitas ekonomi internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news