Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat Meninjau Urban Farming (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi menegaskan urban farming bukan lagi program pelengkap, melainkan strategi utama menghadapi krisis lahan dan memperkuat ketahanan pangan kota.
Penegasan itu disampaikan saat ia meninjau langsung pengembangan pertanian lorong di dua wilayah, yakni Kecamatan Tamalate dan Kecamatan Wajo, Kamis (30/04).
Kunjungan tersebut sekaligus memperlihatkan arah kebijakan baru Pemkot Makassar yang mendorong pemanfaatan ruang sempit menjadi lahan produktif.
“Program urban farming menjadi prioritas karena tidak hanya menjawab keterbatasan lahan, tapi juga memperkuat kemandirian pangan masyarakat,” tegas Appi.
Di Kelurahan Tanjung Merdeka, Tamalate, ia menemukan praktik nyata pertanian kota yang sudah berjalan efektif. Kelompok tani lorong mampu menghasilkan kangkung hingga 150 kilogram per bulan hanya dari satu bedeng, dengan siklus panen tiga hingga empat minggu.
“Pasarnya jelas, lahannya kecil, tapi hasilnya nyata. Ini peluang ekonomi yang harus diperluas,” ujarnya.
Appi bahkan mengungkapkan kebutuhan pasar kangkung di wilayah tersebut bisa mencapai 150 kilogram per hari, membuka ruang besar bagi masyarakat untuk terlibat dan mendapatkan penghasilan tambahan.
Sementara itu di Kelurahan Butung, Kecamatan Wajo, konsep urban farming dikembangkan lebih terpadu. Warga tidak hanya bertani, tetapi juga menggabungkannya dengan budidaya ikan dan peternakan ayam petelur dalam satu kawasan lorong.
“Di Wajo ini menarik, sudah ada produksi telur yang bahkan dimanfaatkan untuk intervensi stunting. Ini bukti program kolaboratif bisa berdampak langsung,” kata Appi.
Ia menegaskan, pola seperti ini akan direplikasi ke seluruh wilayah Makassar dengan dukungan lintas sektor, mulai dari dinas perikanan, lingkungan hidup hingga ketahanan pangan.
“Daripada lahan kosong tidak dimanfaatkan, lebih baik dimaksimalkan. Pemerintah akan terus men-support agar dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat,” tambahnya.
Appi juga mengeluarkan pernyataan tegas bahwa tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam program ini.
“Semua kecamatan tanpa terkecuali harus punya urban farming. Kita sesuaikan dengan potensi masing-masing,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Camat Wajo, Ivan Kala’lembang menyebut pengembangan urban farming di wilayahnya telah mengubah wajah lorong menjadi pusat produksi pangan skala rumah tangga.
Di satu lokasi, warga mampu mengelola budidaya ikan nila, ayam petelur jenis Australorp (ayam coper), hingga tanaman hortikultura seperti cabai, tomat, dan terong.
“Produksi telur saat ini sudah mencapai 12 sampai 20 butir per hari dan terus meningkat,” ungkap Ivan.
Ia menambahkan, program tersebut juga diperkuat dengan kemitraan peternakan dan dukungan mesin penetasan telur, sehingga siklus produksi berjalan lebih terintegrasi.
Tak hanya berdampak ekonomi, program ini juga diarahkan untuk intervensi sosial, khususnya penanganan stunting.
“Ke depan kami siapkan program satu telur per hari untuk anak stunting. Ini kontribusi langsung urban farming terhadap gizi masyarakat,” tukasnya.


















































