Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.049, Dipicu Geopolitik dan Minyak

11 hours ago 5

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp18.049, Dipicu Geopolitik dan Minyak

Dana Desa. - Ilustrasi Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,46 persen ke level Rp18.049 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.966 per dolar AS.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pergerakan pasar.

Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor dominan yang membuat investor cenderung mengambil sikap hati-hati. Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

“Washington mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, namun implementasinya masih bergantung pada penghentian serangan oleh Hizbullah,” ujar Ibrahim.

Situasi semakin memanas setelah muncul laporan serangan rudal Iran ke wilayah Kuwait dan Bahrain, serta aksi militer Amerika Serikat yang menargetkan Pulau Qeshm di Iran, yang lokasinya strategis di dekat Selat Hormuz.

Di saat yang sama, Israel juga dilaporkan memperluas operasi militernya di Lebanon selatan dengan menyasar wilayah yang dikuasai Hizbullah.

Dari Amerika Serikat, dinamika politik turut menambah ketidakpastian. DPR AS yang dikuasai Partai Republik telah menyetujui resolusi untuk membatasi Presiden Donald Trump dalam melanjutkan konflik militer dengan Iran. Namun, kebijakan tersebut masih harus melalui persetujuan Senat dan berpotensi menghadapi veto presiden.

Pelaku pasar kini juga menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan non-farm payrolls yang akan menjadi indikator penting arah kebijakan moneter The Fed.

Sementara itu, dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak lonjakan harga minyak mentah. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi memperlebar defisit fiskal hingga mendekati batas 3 persen, sekaligus menekan neraca transaksi berjalan.

Selain itu, pasar juga mencermati potensi intervensi pemerintah di sektor komoditas serta ketidakpastian status klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.

Data perdagangan April menunjukkan surplus neraca perdagangan mulai menyusut, seiring kenaikan impor minyak yang melampaui pertumbuhan ekspor.

Di sisi lain, inflasi pada Mei tercatat mencapai 3,08 persen atau melampaui titik tengah target Bank Indonesia. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga barang impor.

Sentimen tambahan datang dari lembaga pemeringkat Moody’s Ratings yang memberikan peringkat Baa2 untuk program global medium-term note PT Danantara Investment Management. Meski demikian, outlook yang diberikan masih negatif.

Menurut Ibrahim, outlook negatif tersebut mencerminkan kuatnya keterkaitan antara Danantara Investment Management, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, dan Pemerintah Indonesia sebagai pemegang saham penuh.

“Dalam jangka panjang, peringkat tersebut kemungkinan akan bergerak mengikuti peringkat sovereign Indonesia. Jika peringkat Indonesia turun, maka Danantara juga berpotensi mengalami penurunan,” jelasnya.

Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp18.050 hingga Rp18.120 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah belum mereda, terutama di tengah ketidakpastian global dan tantangan ekonomi domestik yang masih berlanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news