KabarMakassar.com — Keprihatinan terhadap anak-anak yang kesulitan melanjutkan pendidikan karena persoalan biaya menjadi titik awal perjalanan Stefanus Pallunan membangun SMK Taruna Bintang Muda.
Bagi Stefanus, pendidikan tidak semestinya menjadi sesuatu yang hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi. Keprihatinan itu kemudian mendorongnya mendirikan sekolah kejuruan yang memberikan akses pendidikan sekaligus asrama tanpa membebani siswa dengan biaya.
Stefanus Pallunan, yang akrab disapa Steve, merupakan pendiri Yayasan Bintang Muda sekaligus Kepala SMK Taruna Bintang Muda. Sekolah yang dirintis sejak 2023 itu berada di wilayah perbatasan Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, tepatnya di Lembang Tallung Penanian, Kabupaten Toraja Utara.
Empat tahun perjalanan bukan waktu yang singkat bagi Steve dan jajaran sekolah. Dari awal berdiri dengan jumlah siswa yang masih terbatas serta sarana dan prasarana yang sederhana, SMK Taruna Bintang Muda terus berkembang dan berupaya memberikan pelayanan pendidikan terbaik bagi peserta didiknya.
Perjalanan tersebut memasuki babak penting setelah sekolah melaksanakan penamatan siswa angkatan pertama pada tahun pelajaran 2025/2026. Sebanyak 12 siswa menjadi lulusan perdana SMK Taruna Bintang Muda.
Steve menyebut penamatan 12 siswa tersebut sebagai pencapaian penting bagi sekolah yang kini telah mengantongi akreditasi B.
“Saya senang dengan angka 12 karena Tuhan Yesus memilih murid dulu dengan angka 12,” tutur Steve, Jumat (18/09).
Kini, SMK Taruna Bintang Muda memiliki sekitar 153 siswa. Mereka tidak hanya berasal dari Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara, tetapi juga dari sejumlah daerah di Indonesia.
Para siswa tersebut antara lain berasal dari Manado, Mamasa, Mamuju, Makassar, Kalimantan, Morowali, hingga Papua. Mereka datang dari latar belakang suku, daerah, dan agama yang beragam.
Keberagaman tersebut menjadi bagian dari kehidupan sekolah yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk hidup bersama dan saling mengenal perbedaan.
Komitmen terhadap pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu juga diwujudkan melalui kebijakan sekolah yang membebaskan berbagai biaya pendidikan.
Steve mengatakan sekolah tidak memungut biaya pendaftaran, SPP, uang pangkal, maupun biaya asrama.
Kebijakan tersebut terutama ditujukan untuk membantu anak-anak yang memiliki keterbatasan ekonomi, termasuk mereka yang kehilangan orang tua atau tidak lagi mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
“Ada siswa yang yatim piatu, tidak mempunyai orang tua, sejak kecil ditinggalkan orang tua dan hidup bersama nenek. Karena itu, sekolah ini meskipun dilengkapi dengan asrama, tidak membebankan biaya apa pun bagi para siswa,” jelasnya.
Menurut Steve, kebutuhan siswa juga menjadi perhatian pihak sekolah. Bahkan, ketika ada siswa yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian sekolah maupun makanan, sekolah berupaya memberikan bantuan.
“Biaya pendaftaran gratis, biaya SPP gratis, gratis uang pangkal, gratis asrama. Bahkan jika ada siswa yang tidak menyumbang beras, tidak mungkin dibiarkan kelaparan. Ada yang tidak punya baju sekolah, kita antar untuk beli baju,” kata Steve.
Seiring perkembangan sekolah, SMK Taruna Bintang Muda kini mengembangkan tiga kompetensi keahlian, yakni Alat Berat, Akuntansi, dan Tata Busana.
Ketiga kompetensi tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan pendidikan kejuruan yang dapat membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan sesuai bidang yang diminati.
Proses pembelajaran didukung tenaga pendidik yang kompeten, profesional, dan berdedikasi. Para guru tidak hanya menjalankan proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga membimbing siswa agar mampu mengembangkan keterampilan sesuai kompetensi masing-masing.
Perkembangan sekolah juga terlihat dari keterlibatan siswa dalam berbagai kegiatan di tengah masyarakat.
Salah satunya melalui Marching Band SMK Taruna Bintang Muda yang untuk pertama kalinya ambil bagian dalam rangkaian kegiatan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang digelar Pemerintah Kabupaten Toraja Utara.
Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi para siswa sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan di SMK Taruna Bintang Muda tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dan keterampilan kejuruan.
Di luar pembelajaran tersebut, siswa juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kedisiplinan, serta bakat nonakademik.
Bagi Steve, perjalanan SMK Taruna Bintang Muda masih panjang. Namun, dari sebuah keprihatinan terhadap anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan, sekolah itu kini tumbuh menjadi ruang yang membuka harapan bagi mereka untuk mendapatkan pendidikan dan menyiapkan masa depan.

















































