UGM AI Tech4Disaster Himpun 1.400 Laporan Pascabencana NTT

4 hours ago 2

UGM AI Tech4Disaster Himpun 1.400 Laporan Pascabencana NTT

Tangkapan layar portal UGM AI Tech4disaster/Istimewa

Harianjogja.com, SLEMAN—Portal berbasis kecerdasan buatan (AI) UGM AI Tech4Disaster yang dikembangkan tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menghimpun sekitar 1.400 laporan masyarakat hingga 21 Agustus 2026. Data tersebut digunakan untuk mendukung pemetaan wilayah terdampak dan kebutuhan logistik dalam penanganan pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Portal UGM AI Tech4Disaster menyediakan layanan bagi masyarakat untuk melaporkan kebutuhan logistik sekaligus menyampaikan kondisi wilayah yang membutuhkan bantuan. Informasi tersebut kemudian dihimpun menjadi data spasial untuk membantu melihat sebaran wilayah terdampak dan kebutuhan di lapangan.

Data pemetaan tersebut dapat diakses melalui portal geoportal UGM.

Laporan NTT Capai 1.400, Lebih Banyak dari Sumatera

Ketua Tim Pengembang UGM AI Tech4Disaster, Dr. Nur Mohammad Farda, mengatakan jumlah laporan masyarakat yang masuk hingga 21 Agustus 2026 mencapai sekitar 1.400 laporan.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan laporan yang dihimpun saat penanganan bencana di Sumatera yang berada di kisaran 300 laporan.

"Hampir sekitar 1.400-an laporan," tegas Farda pada Senin (24/8/2026).

Laporan dari masyarakat tersebut menjadi salah satu sumber informasi untuk membantu tim melihat kondisi di wilayah terdampak. Data yang telah dihimpun kemudian dirapikan dan dianalisis menggunakan teknologi AI.

"Kalau data sudah rapi, ketika diunggah dan disimpan, itu akan mempermudah tim logistik. Kemudian, ada juga proses analisis," jelasnya.

Dari peta yang tersedia, sistem dapat membantu menganalisis daerah yang paling banyak terdampak sekaligus melihat kebutuhan logistik yang menjadi prioritas.

"Jadi, data tersebut dapat dikelompokkan untuk membantu proses penanganan," terang Farda.

AI Dibatasi untuk Perapian dan Analisis Data

Meski memanfaatkan teknologi AI, Farda menegaskan penggunaannya dalam portal UGM AI Tech4Disaster tetap dibatasi. Data awal yang digunakan berasal dari masyarakat dan relawan, sedangkan tim UGM melakukan proses cleaning untuk memastikan data serta lokasi yang dilaporkan sesuai.

"Data yang digunakan berasal dari warga atau volunteer. Kemudian, kami melakukan cleaning terhadap data, terutama untuk memastikan lokasi-lokasi yang dilaporkan sesuai," ungkapnya.

Farda menjelaskan pembatasan penggunaan AI tersebut juga berkaitan dengan risiko dalam pengolahan informasi kebencanaan. AI digunakan untuk membantu merapikan data dan melakukan analisis berdasarkan informasi yang tersedia.

"Jadi, dari sisi risiko AI, penggunaannya dibatasi pada proses perapian data dan analisis. Untuk analisis pun, AI hanya mengambil dan merangkum informasi dari peta-peta yang tersedia," imbuh Farda.

Kendala Jaringan Internet Jadi Tantangan

Penggunaan portal untuk menghimpun laporan masyarakat juga menghadapi tantangan berupa ketersediaan jaringan internet. Gangguan jaringan yang terjadi akibat bencana dapat membuat proses pengiriman laporan ikut terkendala.

Sebagai solusi sementara, data dapat disimpan terlebih dahulu pada perangkat dan dikirimkan ketika perangkat tersebut kembali mendapatkan sinyal.

"Bagaimanapun, dukungan konektivitas juga dapat diberikan melalui mobile tower atau menara jaringan bergerak," tuturnya.

Selain menghimpun laporan masyarakat, data pemetaan yang dikumpulkan UGM juga dapat ditampilkan dalam sistem BNPB melalui map services. Mekanisme tersebut memungkinkan informasi yang dihimpun UGM tersinkron dengan informasi kebencanaan yang digunakan BNPB.

Dikembangkan untuk Analisis Citra Satelit hingga IoT

Pengembangan UGM AI Tech4Disaster tidak berhenti pada pemetaan laporan masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut masih akan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan kebencanaan.

Pengembangan tersebut mencakup analisis citra satelit, pemetaan longsor, manajemen shelter, manajemen logistik, hingga pemanfaatan Internet of Things (IoT) dan pengembangan berbagai model AI.

Farda berharap semakin banyak riset UGM yang memanfaatkan AI. Menurut dia, langkah tersebut diharapkan dapat mendorong UGM berkembang menjadi AI Factory dan menjadi salah satu institusi terdepan dalam pengembangan AI.

Dalam konteks kebencanaan, Farda berharap pengembangan Tech4Disaster dapat terus diperluas sehingga mendukung penanganan berbagai jenis bencana.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news