Seorang volunteer susTANIable sedang mengambil foto sebuah potret pengelolaan lingkungan di GIK UGM, Sabtu (29/11/2025). - Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN—UGM menilai persoalan sampah DIY tak hanya soal pengelolaan, tetapi juga sistem pangan yang belum sirkuler sehingga limbah terus meningkat.
Menurut Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Mukhlish Jamal Musa Holle, persoalan sampah dapat tuntas jika pemerintah dan masyarakat mampu menerapkan sistem pangan berkelanjutan.
Jamal, yang juga merupakan Koordinator susTANIable (proyek kolaboratif antara civitas UGM dan organisasi kepemudaan), menjelaskan bahwa sampah adalah bagian dari sistem pangan, mulai dari tahap produksi hingga post-consumption (pasca-konsumsi). Ia mengatakan, idealnya sistem pangan berbentuk sirkuler, di mana limbah pangan dapat diolah kembali, dimanfaatkan, dan masuk kembali ke siklus produksi.
"Tapi realitas tidak mengikuti sirkuler. Sebaliknya, justru linier. Setelah jadi sampah, ya terbuang begitu saja," kata Jamal saat ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sabtu (29/11/2025).
Untuk mencapai sistem pangan berkelanjutan yang ramah lingkungan, diperlukan upaya simultan antara pemangku kepentingan, masyarakat, dan civitas perguruan tinggi, seperti yang dilakukan oleh susTANIable. Melalui proyek susTANIable, Jamal dan para relawan mencoba mengurai persoalan atau kendala dalam mewujudkan sistem pangan berkelanjutan tersebut.
Upaya ini salah satunya dilakukan melalui Forum Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan di GIK UGM pada Sabtu (29/11/2025). Forum tersebut mempertemukan perwakilan akademisi pemerhati lingkungan, komunitas/organisasi, UMKM, tokoh masyarakat, pemerintah, media, hingga pengelola TPS/TPA.
"Dari diskusi kali ini, perwakilan pemerintah merasa sudah melakukan banyak hal untuk menyelesaikan persoalan sampah, tetapi ada perwakilan yang merasa pemerintah kurang bertindak," ungkapnya. Adanya perbedaan pandangan ini menunjukkan adanya kesenjangan (gap) yang perlu diisi, dan hal ini menjadi salah satu masukan penting bagi pemerintah. Sejauh ini, susTANIable baru memulai proyek percontohan mereka dari lingkungan UGM, dan berencana memperluas proyek serta kerja sama ke depannya.
Adapun FGD tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan di GIK UGM. Selain FGD, rangkaian acara tersebut juga mencakup ekspo karya, produk, dan inisiatif terkait sistem pangan berkelanjutan dan zero waste, lokakarya, gelar wicara, booth bank sampah, serta kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan. Kegiatan ini juga didukung oleh Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) Seed Grants.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

14 hours ago
4

















































