UMKM, Teknologi, dan Masa Depan Ekonomi Umat

1 day ago 4

UMKM, Teknologi, dan Masa Depan Ekonomi Umat Prof. Ir. Tole Sutikno, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN.Eng, Guru Besar Teknik Elektro, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

UMKM sering disebut sebagai tulang punggung ekonomi umat. Namun di tengah laju digitalisasi, pertanyaan mendesaknya bukan lagiberapa jumlah UMKM, melainkan berapa banyak yang benar-benarsiap bertahan tanpa teknologi. Tanpa inovasi dan pendampingan yang tepat, UMKM berisiko tertinggalbahkan tersingkirdari arusekonomi digital.

Kondisi ini nyata di banyak daerah. UMKM—mulai dari usahapangan rumahan, bengkel kecil, hingga industri kreatif berbasiskomunitasmasih menghadapi keterbatasan dalam proses produksi, pencatatan usaha, distribusi, dan pemasaran. Persoalan UMKM seringkali disederhanakan sebagai masalah permodalan, padahal akarpersoalannya justru terletak pada rendahnya pemanfaatan teknologidan minimnya pendampingan teknis.

Teknologi yang dibutuhkan UMKM sejatinya adalah teknologi tepatguna—bukan yang paling canggih, tetapi yang paling relevan dengankebutuhan lapangan. Otomasi sederhana, misalnya, dapatmeningkatkan kapasitas dan konsistensi produksi tanpa investasibesar. Proses yang sebelumnya memakan waktu dan tenaga dapatdibuat lebih efisien melalui rekayasa teknik yang tepat.

Pemanfaatan Internet of Things (IoT) juga mulai membuka peluangbaru bagi UMKM, khususnya di sektor produksi dan logistik. Sensor sederhana dapat digunakan untuk memantau kualitas bahan, suhupenyimpanan, atau alur distribusi, sehingga mengurangi pemborosandan meningkatkan keandalan produk. Bagi UMKM pangan dan manufaktur kecil, teknologi ini dapat menjadi pembeda kualitas yang signifikan.

Selain itu, sistem informasi UMKM memegang peran penting dalampengelolaan usaha. Pencatatan keuangan digital, manajemen inventori, serta integrasi penjualan daring membantu pelaku usaha mengambilkeputusan berbasis data, bukan sekadar intuisi. UMKM dengan sisteminformasi yang tertata akan lebih siap berkembang, mengaksespembiayaan, dan membangun kepercayaan pasar.

Bahkan kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan secara ringan dan kontekstual. AI tidak selalu berarti teknologi mahal. Dalam pemasaran, misalnya, AI sederhana dapat membantu analisis trenpermintaan, rekomendasi harga, hingga segmentasi pelanggan. Kemampuan membaca pasar secara lebih akurat menjadi modal strategis bagi UMKM untuk bertahan dan tumbuh.

Di sinilah peran bidang Teknik Elektro, Komputer, dan Informatikamenjadi sangat strategis. Insinyur dan akademisi memiliki tanggungjawab moral untuk menerjemahkan ilmu menjadi solusi nyata bagiUMKM. Kampus tidak boleh berdiri jauh dari realitas lapangan. Melalui riset terapan, pendampingan teknologi, serta kolaborasi dosendan mahasiswa dengan pelaku usaha, kampus dapat menjadi mitrastrategis pembangunan ekonomi umat.

Dalam perspektif keislaman, ilmu dan teknologi adalah amanah. Iabukan sekadar alat efisiensi, tetapi wasilah untuk menghadirkankemaslahatan. Ketika teknologi digunakan untuk memberdayakanUMKM, sesungguhnya kita sedang membuka jalan menuju keadilanekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan kemandirian umat.

Upaya ini tentu tidak dapat berjalan sendiri. Diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, kampus, industri, dan komunitas UMKM. Kebijakan publik harus mendorong adopsi teknologi yang inklusif, memberi ruang bagi inovasi lokal, serta memperkuat ekosistempendampingan berbasis pengetahuan. Masa depan ekonomi umat akansangat ditentukan oleh keberanian kita memadukan teknologi dengannilai—agar UMKM Indonesia tumbuh, mandiri, dan memberimaslahat yang luas bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news