Memasuki usia lanjut, sejumlah penyakit rentan terjadi pada lansia (Dok: Int)KabarMakassar.com — Memasuki usia lanjut, tubuh manusia secara alami mengalami berbagai perubahan fisik serta fungsi organ. Proses penuaan menyebabkan penurunan kinerja sejumlah organ vital, misalnya jantung, ginjal, otak, serta sistem otot dan saraf.
Kondisi tersebut membuat kelompok lanjut usia (lansia) lebih rentan mengalami gangguan kesehatan yang bisa memengaruhi kualitas hidup dan kemandirian mereka dalam beraktivitas sehari-hari.
Perubahan akibat penuaan tidak hanya terlihat dari luar, seperti rambut yang memutih atau pun kulit yang mengendur, tetapi juga terjadi pada organ dalam tubuh.
Otot dapat menjadi lebih lemah, tulang kehilangan kepadatan, dan sistem metabolisme melambat. Dampaknya, lansia membutuhkan perhatian kesehatan yang lebih intensif, mencakup lingkungan tempat tinggal yang aman serta ramah lansia agar risiko cedera dapat diminimalkan.
Penurunan fungsi organ seiring bertambahnya usia mampu memicu berbagai penyakit kronis.
Dilansir dari Alodokter, berikut lima penyakit yang paling sering dialami oleh lansia dan perlu mendapat perhatian serius:
1. Stroke
Stroke adalah salah satu penyakit serius yang banyak menyerang lansia. Penyakit tersebut terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada sebagian anggota tubuh, serta gangguan bicara dan koordinasi.
Dampak stroke bisa bersifat sementara maupun permanen. Oleh sebab itu, pasien pascastroke umumnya membutuhkan terapi lanjutan, seperti fisioterapi dan rehabilitasi medis, untuk membantu pemulihan fungsi tubuh.
Dalam sejumlah kasus, lansia yang mengalami stroke juga memerlukan bantuan orang lain dalam menjalani aktivitas harian.
2. Diabetes
Diabetes merupakan penyakit metabolik yang dapat ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Pada lansia, diabetes sering kali berkembang secara perlahan serta tidak langsung terdeteksi.
Gejala yang umum muncul antara lain sering merasa haus, sering buang air kecil, mudah lelah, kesemutan, juga luka yang sulit sembuh.
Apabila tidak terkontrol, diabetes dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf dan pembuluh darah, yang berujung pada komplikasi serius.
Pengendalian kadar gula darah melalui pengobatan rutin, pola makan sehat, serta aktivitas fisik ringan sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
3. Inkontinensia Urine
Inkontinensia urine adalah kondisi ketika seseorang tidak mampu mengontrol keluarnya urine, sehingga sering mengalami buang air kecil tanpa disadari.
Pada lansia, kondisi tersebut umumnya terjadi akibat melemahnya otot-otot dasar panggul dan kandung kemih seiring proses penuaan.
Selain faktor usia, gangguan saraf serta sumbatan pada saluran kemih juga dapat memicu inkontinensia. Meski tidak mengancam nyawa, kondisi tersebut dapat menurunkan rasa percaya diri dan kualitas hidup lansia.
Penanganannya meliputi pemberian obat-obatan, latihan otot dasar panggul misalnya senam kegel, fisioterapi, hingga tindakan medis tertentu sesuai rekomendasi dokter.
4. Penyakit Jantung
Seiring bertambahnya usia, kemampuan otot jantung dalam memompa darah juga bisa menurun. Risiko penyakit jantung semakin tinggi terhadap lansia yang memiliki riwayat hipertensi, kolesterol tinggi, atau jarang beraktivitas fisik.
Sejumlah jenis penyakit jantung yang umum dialami lansia meliputi penyakit jantung koroner, gagal jantung, serta serangan jantung.
Penanganannya bisa berupa pengobatan jangka panjang, perubahan gaya hidup, hingga tindakan medis lanjutan sesuai kondisi pasien.
Menjaga kesehatan lansia membutuhkan peran aktif keluarga serta lingkungan sekitar. Pemeriksaan kesehatan rutin, pola hidup sehat, serta hunian yang aman juga ramah lansia menjadi kunci untuk membantu mereka tetap mandiri dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
5. Hipertensi
Hipertensi atau yang dikenal dengan tekanan darah tinggi merupakan kondisi yang kerap dialami lansia dan sering disebut sebagai “silent killer” karena acap kali tidak menunjukkan gejala awal.
Tekanan darah yang terus berada di atas batas normal mampu meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal, bahkan gangguan penglihatan.
Pengelolaan hipertensi dilakukan melalui kombinasi pengobatan serta perubahan gaya hidup, seperti mengurangi asupan garam, menjaga berat badan ideal, serta rutin memeriksa tekanan darah. Dengan pengendalian yang baik, maka risiko komplikasi dapat ditekan.


















































