Wisata Konservasi Dinilai Cocok Jadi Arah Pariwisata DIY

5 hours ago 3

Wisata Konservasi Dinilai Cocok Jadi Arah Pariwisata DIY Wisata konservasi dinilai relevan sebagai arah pariwisata DIY karena menjaga lingkungan sekaligus mendorong ekonomi masyarakat. - Instagram.

Harianjogja.com, JOGJA—Pengembangan wisata berbasis konservasi dinilai semakin relevan sebagai arah pembangunan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Penilaian tersebut disampaikan Komisi B DPRD DIY setelah meninjau Kampung Satwa Moyudan di Kalurahan Sumberagung, Moyudan, Sleman, yang dianggap mencerminkan praktik wisata konservasi berbasis masyarakat dengan pendekatan edukasi lingkungan.

Model wisata ini dipandang selaras dengan karakter pariwisata DIY yang bertumpu pada kekuatan alam dan budaya, serta menjadi alternatif pengembangan destinasi yang berkelanjutan di tengah tekanan terhadap sumber daya alam.

Ketua Komisi B DPRD DIY, Andriana Wulandari, menyebut karakter pariwisata DIY memiliki fondasi kuat pada alam dan budaya. Menurutnya, pendekatan konservasi memberi ruang agar pariwisata tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga keberlanjutan ekosistem.

“Pariwisata di DIY bersumber dari kekuatan alam dan budaya. Wisata konservasi menjadi salah satu model yang bisa memastikan pariwisata tetap hidup tanpa mengorbankan lingkungan, sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi warga,” ujar Andriana, belum lama ini.

Kampung Satwa Moyudan dilihat sebagai contoh konkret wisata berbasis masyarakat yang memadukan pelestarian lingkungan dan aktivitas ekonomi lokal. Namun, pihaknya menilai penguatan tata kelola masih menjadi pekerjaan penting agar model serupa dapat berkembang di wilayah lain.

“Kami ingin memastikan pengembangan desa wisata konservasi memiliki manajemen yang kuat, anggaran yang transparan, serta payung hukum yang jelas melalui peraturan daerah,” kata Andriana.

Pengelola Kampung Satwa Moyudan, Hanif Kurniawan, menjelaskan bahwa konsep wisata yang dikembangkan tidak menempatkan satwa sekadar sebagai tontonan. Edukasi pelestarian ekologi dan keseimbangan rantai makanan menjadi fokus utama dalam pengelolaan kawasan.

“Satwa yang ada di sini, seperti lebah madu, buaya, salamander, hingga beberapa mamalia, merupakan bagian dari upaya menjaga ekosistem agar tetap lestari, bukan hanya untuk menarik wisatawan,” ujar Hanif.

Ia menambahkan, Kampung Satwa Moyudan juga membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi dan komunitas, terutama untuk memastikan praktik konservasi berbasis riset dan pengetahuan ilmiah.

“Kami berharap bisa bekerja sama dengan kampus, khususnya di bidang biologi, agar pengelolaan konservasi tidak sekadar asumsi, tetapi berbasis penelitian,” katanya.

Keunikan lain yang memperkuat posisi Kampung Satwa Moyudan sebagai wisata konservasi adalah keberadaan burung-burung migran antarbenua yang rutin singgah setiap akhir tahun. Fenomena ini memberi nilai edukasi sekaligus daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Melalui peninjauan tersebut, Komisi B DPRD DIY menegaskan pentingnya pendampingan berkelanjutan dari pemerintah daerah agar wisata konservasi dapat berkembang secara konsisten. Penguatan regulasi, tata kelola, dan partisipasi masyarakat diharapkan menjadikan wisata konservasi sebagai pilar pariwisata DIY yang berkelanjutan, dengan Kampung Satwa Moyudan sebagai salah satu contoh penerapannya.

Dengan penguatan regulasi dan pendampingan berkelanjutan, wisata konservasi diharapkan menjadi pilar penting pariwisata DIY yang ramah lingkungan dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news