Yang Ditumbuk, yang Kembali

9 hours ago 5

TARUNA - hayati

Entah kapan hari, Ibu membangunkanku dengan kasar. Telapak tangannya mendarat di pantatku. Aku terlonjak hebat, separuh sadar, tapi ada sesuatu yang terasa lain dari semestinya. Udara di kamar lebih berat dari biasanya, seolah mimpi semalam masih menggantung di antara kelopak mataku.

Bau kemenyan dibakar menyelinap di udara kamar, dingin dan menusuk. Ada bau yang lain, lebih pekat, lebih menyengat—bau logam menempel di udara, menyelinap ke indra penciuman, menyatu dengan napas pertama yang kutarik saat bangun.

Dari dapur, dua kamar dari kamarku, terdengar suara tumbukan alu dan lesung—cepat, berirama menyerupai detak jantung yang dipukul paksa dari luar.

Ibu tidak berkata banyak. Hanya satu kalimat sebelum meninggalkan kamar: “Jangan sampai telat. Kau tahu apa yang terjadi jika kau terlambat.”

Aku tidak mengerti, ada sesuatu yang tidak beres. Dada terasa sesak, seperti ada batu besar yang mengganjal, menekan pernapasan dan membuatku ingin berteriak.

Aku duduk di kasur. Dinding-dinding kamar terasa lebih dekat, menyempit tanpa suara. Lampu bercahaya kekuningan di langit-langit berkedip pelan, bukan seperti lampu rusak, melainkan seperti sedang bernapas—mengembang dan mengempis dalam ritme yang tidak beraturan. Aku berusaha berdiri, tapi ubin terasa lengket di telapak kaki, seperti baru saja dibersihkan bukan dengan air, melainkan dengan yang lebih kental.

Aku menoleh ke cermin di pojok kiri dekat lemari pakaian. Sosok di dalamnya tidak sepenuhnya mengikuti gerakanku—hampir. Aku mengangkat tangan, bayangan itu hanya diam seolah menunggu sesuatu. Aku miringkan kepala, dan ia justru tetap tidak bergerak, seakan memperhatikan sesuatu di belakangku. Aku tidak berani menoleh.

Aku menarik napas panjang. Dinding kamar masih terasa menyempit dan udara terlalu berat untuk dihirup. Aku butuh keluar; melihat sesuatu yang lebih nyata. Dengan langkah berat, aku berjalan menuju pintu dari kayu jati kemerah-hitaman, menekan kenopnya perlahan, dan udara pagi yang dingin bercampur aroma kemenyan di ruang tamu langsung menyergap indra penciuman. Aku melangkah lagi menuju pintu utama, membuka dengan pelan agar tidak mengeluarkan suara yang berisik.

Di luar rumah, langit masih ungu lebam tampak seperti luka yang baru dihantam. Jalanan sempit dengan tanah yang masih basah, seolah semalam yang seharusnya tetap terkubur. Rumah-rumah di pinggir jalan itu tampak miring, seolah fondasinya mulai melembek. Lampu-lampu di jalan berkedip seperti mata yang susah payah tetap terbuka dan burung hantu berpita merah muda melayang di langit, lalu bertengger di kabel listrik. Diam, tapi kedua bola matanya mengikuti gerakanku, seolah mencatat sesuatu.

Aku memilih jalur pintas di samping kuburan massal, menyusuri ilalang setinggi perutku dan tepi sungai yang biasanya mengalir deras tapi kini airnya diam. Tidak ada bunyi riak, tidak ada pantulan, seakan menolak keberadaan di sekitar.

Aku melongok ke permukaan air dan melihat bayanganku berdiri di sana, tak mengikuti gerakanku, hanya diam menatapku dengan mata yang lebih dalam, lebih kosong.

Di seberang sungai, aku melihat samar-samar tubuh seseorang duduk membungkuk seperti bersujud ke arah batu besar. Punggungnya melengkung ke depan seperti ranting tua yang hampir patah. Celananya berwarna coklat tua melorot sampai lutut menampakkan kulitnya pucat kebiruan, seperti daging yang lupa bernapas. Kodok liar bertengger di kulit pucatnya, enggan mengeluarkan suara. Menatapku dengan mata yang seakan memahami sesuatu yang tidak kupahami. Aku memberanikan diri, melangkah lebih dekat, dan udara di sekelilingku tiba-tiba membuat sesak, seolah ada sesuatu yang menekan dadaku dari dalam.

Suara burung hantu entah terdengar di mana, tapi suaranya seperti bisikan atau suara ibu memanggil.

Ia bangkit perlahan. Gerakannya patah-patah seperti daging yang enggan menempel pada rangka, bergerak dengan kesadaran sendiri. Kepalanya berputar ke belakang. Kedua bulatan itu membelalak, urat-uratnya tegang seperti hendak meloncat keluar dari rongganya. Tidak ada kulihat tanda kehidupan di sana, hanya kelam yang menatap lurus ke arah yang tak bisa kuikuti. Bau anyir merayap pelan ke cuping hidungku, semakin pekat. Aku bergerak mundur, tapi ada sesuatu yang lebih besar dari rasa takut, sesuatu yang menahan kakiku untuk tetap berdiri.

Aku mengenali bau ini. Bukan bau sungai yang kotor atau mayat yang mulai membusuk. Ada sesuatu yang lebih akrab, lebih dekat dengan ingatanku. Aku mengangkat tanganku ke wajah, menghirup kulitku sendiri. Bau itu. Bau itu ada di sana. Bau yang sama dengan tubuh di depanku.

Aku tahu bau ini. Bau darah yang mulai mendingin.

Mulut mayat itu perlahan menganga, lebih lebar dari seharusnya. Bibirnya pecah, serpihannya mengelupas seperti kulit yang disayat perlahan dari daging. Matanya melotot seperti orang kesakitan. Dari dalamnya, sesuatu mulai bergerak, merangkak keluar, seperti bayi yang lahir dari lubang yang salah.

Sebelah kaki menyembul, disusul lutut yang berbunyi ‘kruk’ saat meregang. Dua tangan meraba-raba bibir yang pecah, mencengkeram rahang bawah dan mendorongnya hingga mulut itu melebar tak wajar. Lalu kepala—kepala dengan wajahku—muncul, basah dan lengket, mataku yang kosong menatapku untuk pertama kalinya.

Makhluk itu keluar sempurna tampak kotor dan lusuh, dengan pandangan mata kosong dan telanjang. Ia berdiri di samping tubuh tadi, menatapku dengan ekspresi yang tak bisa kuartikan. Aku mundur selangkah, tetapi kakiku terasa berat, seakan terikat akar-akar yang tak terlihat. Aku menoleh ke permukaan air, berharap bayanganku akan menegaskan keberadaanku.

Tapi bayangan itu tetap diam. Aku menatap ke arah sungai lalu ke sosok yang kini berdiri di hadapanku. Dan semuanya mulai jelas. Potongan-potongan ingatan meledak seperti kembang api, membentuk ‘entah’ yang tak bisa kutolak.

Aku ingat bau ini. Aku ingat rasa dingin yang menjalari kulitku. Aku ingat bagaimana napasku semakin berat, semakin jarang, hingga akhirnya berhenti. Aku ingat bagaimana tubuhku jatuh, bagaimana dunia perlahan menghilang. Aku ingat semuanya.

Aku tidak bangun pagi ini.

Aku mati.

Tapi mengapa aku masih berdiri di sini? Mengapa aku bisa melihat tubuhku sendiri?

Makhluk yang keluar dari mayat itu tersenyum, sedikit, hanya sekilas, sebelum mulai melangkah mendekat. Aku ingin mundur, tetapi tanah di bawahku terasa seperti tangan—lembut dan sabar, menarikku perlahan ke bawah. Aku ingin berteriak, tetapi udara di dadaku telah digantikan sesuatu yang dingin, seperti kabut yang menelan suara.

Aku ingin lari, ingin bangun, tetapi tubuhku terasa semakin berat, seolah akar-akar yang tak terlihat telah menjalar ke sekujur kakiku, menahanku di tempat. Aku tahu, aku sudah terlalu terlambat.

Dalam sekejap, aku tenggelam ke dalam tubuh yang duduk di tepi sungai itu. Burung hantu berpita merah muda yang kulihat di kabel listrik tadi mematuk dan mengoyak tubuh kodok liar itu sampai mati, lalu menelannya.

Dunia yang kukenal mulai melipat dirinya sendiri. Sungai mengabur, tanah di bawahku lenyap, dan tiba-tiba aku bukan lagi aku.

Di dapur, suara tumbukan alu masih terdengar. Ibu berdiri di sana, tangannya bergerak lambat, menghancurkan sesuatu di dalam lesung.

Sosok yang baru berjalan masuk, melangkah mendekatinya.

Sebelum menoleh kembali ke lesung, matanya menyapu sekilas tubuh sosok baru itu, seakan memastikan tidak ada cacat. Di luar, matahari mulai merangkak dari langit timur. Cakrawala berubah merah tipis, seperti sisa darah yang dihapus setengah mati.

Seperti yang sudah seharusnya. [*]

Padang Pariaman, 2025

Palito lahir di Kabupaten Padang Pariaman, 18 Oktober 2001. Alumnus dari Universitas PGRI Sumatra Barat (UPGRISBA) dengan program studi Bimbingan dan Konseling (BK), 2023. Menulis adalah bagian dari ekspresi dirinya, dan beberapa karyanya ditulis untuk merenungkan kehidupan dan waktu. Beberapa karyanya dapat ditemui di OmpiOmpi.com, Kurungbuka.com, Omong-Omong.com, Nyangkem.id, Ngewiyak.com, GolAGongKreatif.com, Janang.id, Balipolitika.com, KBA News, Jernih.co, Ceritanet.com, RiauGlobe.id, dan Kalam Sastra.
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news