Berikut Dampak Kebijakan Trump Terhadap Harga Emas dan Nilai Tukar Rupiah Menurut Pakar

18 hours ago 5

Harianjogja.com, JAKARTA—Harga emas dunia diproyeksi mencapai level 3.200 dolar AS per troy ons dalam waktu dekat. Hal ini dipengaruhi oleh kebijakan tarif timbal balik atau reciprocal tarrif Amerika Serikat (AS).

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan peningkatan ketegangan geopolitik, terutama di Timur Tengah, juga turut memperkuat tren kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.

“Tadi pagi sempat menyentuh level 3.180 (dolar AS per troy ons) ya artinya ada kemungkinan besar dalam minggu depan ya 3.200 (dolar AS per troy ons), itu akan tercapai untuk harga emas dunia. Kenapa? Karena permasalahan tensi geopolitik yang begitu kencang ya,” kata Ibrahim, Kamis (3/4/2025).

Selain itu, ultimatum AS terhadap Iran untuk bekerja sama dalam masalah reaktor nuklir, juga bisa menjadi faktor yang mempengaruhi peningkatan harga emas.

Sebagai informasi, melansir situs harga-emas.org, harga emas dunia saat ini berada di level 3.105,60 dolar AS per troy ons.

AS di bawah kepemimpinan Donald Trump mengenakan tarif impor khusus kepada beberapa negara yang mulai berlaku pada 9 April 2025, dengan China dikenakan tarif sebesar 34 persen, Vietnam 46 persen, Taiwan 32 persen, Korea Selatan 25 persen, Uni Eropa 20 persen, dan Swiss 31 persen.

Sementara, Indonesia berada di urutan ke delapan di daftar negara-negara yang terkena kenaikan tarif AS, dengan besaran 32 persen.

Selain itu, Ibrahim menyoroti perkembangan di Eropa, di mana meskipun Rusia dan Ukraina telah menyepakati perjanjian perdamaian, ada dua negara Eropa yang bersiap mengirimkan pasukan untuk mendukung Ukraina.

Situasi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan tersebut, yang semakin memperkuat daya tarik emas sebagai aset aman bagi investor.

Nilai Tukar Rupiah

Lebih lanjut, kebijakan tarif baru AS juga berdampak negatif pada nilai tukar rupiah dan pasar keuangan Indonesia.

Ibrahim memperkirakan rupiah bisa melemah hingga menyentuh level 16.900 per dolar AS, dengan potensi menembus 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi turun 2-3 persen pada perdagangan Senin mendatang akibat ketidakpastian global yang meningkat.

Untuk meredam dampak perang dagang ini, Ibrahim menyarankan Pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan balasan dengan mengenakan tarif impor yang setara terhadap barang dari AS.

Selain itu, pemerintah juga perlu mencari pasar ekspor baru, mengingat Indonesia merupakan bagian dari BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) yang dapat menjadi alternatif tujuan perdagangan. Stimulus ekonomi juga diperlukan untuk menanggulangi dampak negatif dari perang dagang ini.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) diharapkan terus melakukan intervensi di pasar keuangan, khususnya dalam perdagangan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) serta valuta asing dan obligasi, guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news