Jumali Sabtu, 25 Juli 2026 20:27 WIB

Foto ilustrasi surat cerai, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—Ketika SK Group menikmati sorotan global berkat pertumbuhan bisnis semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI), pemimpin konglomerat tersebut, Chey Tae-won, justru menghadapi perkembangan besar dalam kehidupan pribadinya.
Pengadilan Korea Selatan memerintahkan Chey membayar 944 miliar won kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong, dalam perkara perceraian yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Dilansir dari Korea JoongAng Daily, putusan terbaru tersebut menjadi perhatian luas karena melibatkan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia bisnis Korea Selatan. Nilai kompensasi yang ditetapkan pengadilan setara sekitar Rp11 triliun dan termasuk salah satu putusan perceraian terbesar yang pernah menjadi sorotan publik di negara tersebut.
Meski nilainya sangat besar, angka tersebut lebih rendah dibandingkan putusan sebelumnya pada 2024 yang menetapkan kompensasi sebesar 1,38 triliun won.
Perubahan nilai itu terjadi setelah Mahkamah Agung Korea Selatan membatalkan putusan sebelumnya.
Mahkamah Agung menilai dana yang menjadi salah satu dasar perhitungan aset berasal dari dana gelap yang diperoleh secara ilegal sehingga tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dari aset pasangan dalam perkara perceraian.
Setelah proses hukum kembali berjalan, pengadilan akhirnya menetapkan kompensasi sebesar 944 miliar won.
Perkara perceraian ini berakar pada konflik rumah tangga yang mencuat lebih dari satu dekade lalu.
Pernikahan Chey Tae-won dan Roh Soh-yeong mengalami keretakan setelah terungkap bahwa Chey memiliki anak dari perempuan lain. Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi sengketa hukum yang menarik perhatian publik karena melibatkan keluarga dengan pengaruh besar di Korea Selatan.
Roh Soh-yeong merupakan putri mantan Presiden Korea Selatan Roh Tae-woo yang menjabat pada periode 1988 hingga 1993.
Dalam persidangan, tim hukum Roh berargumentasi bahwa ayahnya memberikan dukungan finansial yang berperan dalam perkembangan bisnis Chey.
Pengadilan sebelumnya menyatakan Roh Tae-woo memberikan dana sebesar 30 miliar won kepada Chey pada 1991. Dana tersebut menjadi salah satu unsur yang diperhitungkan dalam putusan awal sebelum kemudian dipersoalkan dalam proses banding dan peninjauan lebih lanjut.
Di tengah perkara hukum tersebut, SK Group justru berada dalam fase pertumbuhan yang kuat.
Konglomerat yang berdiri sebagai perusahaan tekstil pada 1953 itu kini berkembang menjadi kelompok usaha terbesar kedua di Korea Selatan setelah Samsung Group.
Salah satu motor utama pertumbuhan tersebut berasal dari SK Hynix yang menjadi pemasok chip bagi Nvidia dan sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya.
Perusahaan semikonduktor itu berada di pusat peningkatan permintaan global terhadap teknologi AI.
Lonjakan kebutuhan chip untuk pengembangan AI turut mendorong kenaikan nilai bisnis SK Hynix dalam beberapa tahun terakhir.
Perkembangan tersebut membuat posisi Chey Tae-won semakin menonjol dalam peta industri teknologi global, bahkan ketika perkara perceraian yang melibatkannya masih berlangsung di pengadilan.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya juga sempat memberikan apresiasi kepada Chey dan Ketua Samsung Electronics JY Lee dalam agenda peluncuran rencana investasi AI nasional.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya disebut sebagai tokoh yang berkontribusi terhadap perkembangan industri teknologi Korea Selatan.
Sementara itu, tim hukum Chey menyatakan kliennya menyesalkan perhatian publik yang muncul akibat proses perceraian tersebut.
"Kami akan menyampaikan tanggapan spesifik terhadap putusan tersebut setelah kami meninjau putusan tersebut secara saksama," ujar perwakilan hukum Chey.
Kasus ini terus menjadi perhatian publik Korea Selatan karena mempertemukan dua aspek yang selama ini memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat, yakni dunia bisnis chaebol dan dinamika keluarga pemilik konglomerat.
Di saat jutaan masyarakat Korea Selatan menggunakan layanan yang terhubung dengan bisnis SK Group, mulai dari telekomunikasi hingga energi, proses hukum yang melibatkan pemimpin perusahaan tersebut masih menjadi bagian dari perhatian publik dan media setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
3

















































