BRIN Percepat Ekosistem Hidrogen untuk Dukung Transisi Energi

6 hours ago 6

Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat pengembangan ekosistem riset hidrogen sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional. Lembaga tersebut menilai tantangan utama saat ini bukan lagi sebatas penguasaan teknologi, melainkan membangun kolaborasi yang mampu menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat.

Kepala BRIN Prof. Arif Satria menegaskan pengembangan hidrogen sebagai sumber energi masa depan membutuhkan sinergi yang kuat antara lembaga riset, pemerintah, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya.

"Persoalan transisi energi, khususnya pengembangan hidrogen, harus dibangun melalui sebuah ekosistem," tegas Arif dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta Convention Centre (JCC), Kamis (23/7).

Menurut Arif, seluruh riset yang dikembangkan BRIN diarahkan untuk menjawab kebutuhan nyata sehingga memiliki peluang lebih besar untuk dihilirisasikan.

"Riset-riset yang kita kembangkan berbasis pada kebutuhan. Kalau riset dikembangkan berdasarkan kebutuhan, saya yakin hasilnya akan lebih mudah dihilirisasi," katanya.

Hidrogen Dinilai Berpotensi Jadi Energi Masa Depan

Hidrogen semakin dipandang sebagai salah satu sumber energi masa depan karena menghasilkan emisi yang sangat rendah, tersedia melimpah, serta dapat diproduksi melalui berbagai metode, termasuk memanfaatkan biomassa maupun energi terbarukan.

Melalui berbagai pusat riset, BRIN mengembangkan teknologi hidrogen dari sisi hulu hingga hilir agar dapat dimanfaatkan dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus memperluas akses energi bersih bagi masyarakat.

Biohidrogen Dikembangkan dari Biomassa

Dalam rangkaian Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Centre (JCC) pada 21–23 Juli 2026, para peneliti BRIN memaparkan sejumlah hasil riset mengenai potensi hidrogen sebagai bagian dari sistem energi terbarukan Indonesia.

Salah satunya disampaikan Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan (PRMT) BRIN, Prof. Dwi Susilaningsih, yang mengembangkan teknologi produksi biohidrogen menggunakan biomassa dan agen mikroba melalui proses fermentasi.

Menurut Dwi, biohidrogen tidak dirancang sebagai sumber energi yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari sistem energi terintegrasi yang mengombinasikan berbagai sumber energi terbarukan.

"Targetnya adalah wilayah pesisir atau pulau-pulau kecil yang masih kekurangan energi. Hidrogen dapat memperkuat sistem energi yang sudah ada melalui pemanfaatan berbagai sumber energi terbarukan," jelasnya.

Dwi menambahkan, panas yang dihasilkan selama proses produksi hidrogen juga berpotensi dimanfaatkan untuk proses desalinasi air laut sehingga satu sistem dapat menghasilkan energi sekaligus menyediakan air bersih bagi masyarakat di wilayah kepulauan.

Tantangan Beralih ke Skala Industri

Meski hasil penelitian di laboratorium dinilai menjanjikan, Dwi mengatakan tantangan terbesar berikutnya adalah meningkatkan skala teknologi menuju tahap pilot plant hingga implementasi industri.

"Kalau di laboratorium fotofermentasi dan dark fermentation sudah selesai. Sekarang tantangannya masuk ke pilot plant, apakah hasilnya akan tetap sama seperti di laboratorium?" ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan produksi hidrogen pada skala laboratorium belum tentu menghasilkan performa yang sama ketika diterapkan dalam skala industri.

Karena itu, BRIN membuka peluang kerja sama dengan sektor industri agar proses hilirisasi teknologi dapat berjalan lebih cepat.

"Kami mengundang industri maupun para pengguna hidrogen untuk bekerja sama mengembangkan teknologi ini," katanya.

BRIN Kembangkan Kapal Listrik untuk Masyarakat Pesisir

Selain mengembangkan teknologi produksi hidrogen, BRIN juga mendorong pemanfaatan energi bersih di sektor transportasi melalui inovasi kapal listrik.

Peneliti Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Aam Muharam, mengatakan kapal listrik yang dikembangkan BRIN telah diterapkan di Morotai, Maluku Utara, serta Sungai Maron, Jawa Timur.

Teknologi tersebut dimanfaatkan nelayan untuk melaut, mengangkut hasil budidaya rumput laut, hingga menjadi sarana transportasi bagi anak sekolah.

"Perahu listrik di Morotai juga digunakan untuk transportasi anak-anak sekolah. Hal ini sangat membantu dan meringankan biaya yang harus dikeluarkan orang tua," ungkapnya.

Menurut Aam, biaya operasional kapal listrik jauh lebih rendah dibandingkan penggunaan mesin berbahan bakar minyak. Namun, penerapan teknologi tersebut tetap membutuhkan dukungan regulasi serta ekosistem yang mendukung.

"Kalau teknologinya saja diterapkan tanpa dukungan ekosistem, tentu tidak akan berjalan optimal. Dukungan regulasi dan kebijakan menjadi faktor penting agar teknologi ini menarik untuk dikembangkan," ujarnya.

Aam menyebut respons masyarakat terhadap pemanfaatan kapal listrik sejauh ini cukup positif.

"Di beberapa lokasi masyarakat sudah merasakan manfaat elektrifikasi perahu, bahkan mereka menanyakan kapan teknologi ini kembali diterapkan atau ditambah jumlahnya," tambah Aam.

Melalui pengembangan teknologi biohidrogen, inovasi transportasi berbasis energi bersih, serta kolaborasi dengan dunia industri, BRIN berharap proses hilirisasi inovasi dapat dipercepat sehingga mampu mendukung terwujudnya sistem energi nasional yang lebih bersih, berkelanjutan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news