
Tanaman cabai - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Cabai rawit menjadi komoditas hortikultura dengan luas tanam terbesar di Kabupaten Sleman selama semester pertama 2026. Selain mendominasi area budidaya, harga jual cabai rawit di tingkat petani juga tercatat paling tinggi, mencapai Rp56.059,01 per kilogram (kg).
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman periode Januari–Juni 2026, luas tanam cabai rawit mencapai 3.108,85 hektar (ha), lebih tinggi dibandingkan bawang merah, cabai keriting, dan tomat.
Analis Kebijakan Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Putri Early Anggari, mengatakan hingga Juni 2026 luas lahan cabai rawit yang telah dipanen mencapai 547,30 ha, sedangkan luas lahan yang belum dipanen tercatat 1.615,35 ha.
Lahan cabai rawit yang telah selesai dipanen menghasilkan 2.878,70 kuintal. Sementara itu, lahan yang masih dalam proses panen telah menghasilkan 12.326,59 kuintal.
Cabai keriting menempati urutan kedua dengan luas tanam 1.269,20 ha. Komoditas ini memiliki luas panen 277,80 ha dan luas lahan panen 692,90 ha, dengan produksi masing-masing sebesar 1.167,90 kuintal dan 6.750,59 kuintal. Harga jual di tingkat petani mencapai Rp23.376,50 per kg.
Sementara itu, bawang merah dan tomat memiliki luas lahan budidaya yang jauh lebih kecil. Bawang merah tercatat memiliki luas tanam 9,55 ha dengan harga jual petani Rp27.471,47 per kg.
Adapun tomat memiliki luas lahan tanam 11,60 ha dengan harga jual Rp3.674,30 per kg. Nilai tersebut menjadi yang terendah di antara empat komoditas hortikultura yang tercatat.
Terkait kondisi iklim dalam tiga bulan terakhir dan pengaruhnya terhadap sektor pertanian hortikultura, Putri menyebut belum ada dampak signifikan terhadap produktivitas tanaman.
"Mengenai kondisi iklim tiga bulan terakhir, berdasarkan laporan dan diskusi dengan petugas kami di lapangan, belum ada dampak signifikan, seperti penurunan produktivitas akibat kekurangan air," kata Putri saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).
Menurutnya, perhatian kelompok tani dan petugas di lapangan saat ini lebih banyak tertuju pada organisme pengganggu tanaman (OPT), khususnya serangan hama serangga.
"Terutama serangan hama serangga," katanya.
Di sisi lain, Kepala Divisi Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Eko Sugianto Ngadirin, mengatakan pihaknya terus memantau komoditas hortikultura yang rentan terdampak kekeringan, seperti cabai dan tomat.
"Pada hari Kamis minggu ini, kami juga berencana untuk memeriksa irigasi waduk air untuk tanaman cabai sebagai tindak lanjut dari musim kemarau saat ini," kata Eko.
Ketersediaan air dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas hortikultura. Penurunan produktivitas dikhawatirkan dapat memicu kenaikan harga komoditas strategis yang selama ini berkontribusi terhadap inflasi, meskipun dampaknya masih bergantung pada kecukupan pasokan dari daerah lain.
Cabai, bawang merah, dan tomat merupakan komoditas yang memengaruhi inflasi. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu memastikan infrastruktur pendukung pertanian dalam kondisi baik, terutama untuk menjamin distribusi air tetap berjalan selama musim kemarau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
2

















































