Jumali Selasa, 28 Juli 2026 11:57 WIB

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Gelombang baru penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI) mulai mengkhawatirkan dunia kesehatan. Ratusan iklan di Facebook dan Instagram diketahui menggunakan sosok dokter palsu berbasis AI untuk mempromosikan berbagai produk kesehatan dan suplemen dengan klaim yang belum terbukti secara ilmiah.
Temuan tersebut terungkap dalam investigasi The New York Times yang menemukan pola serupa pada ratusan iklan kesehatan yang beredar di media sosial. Konten-konten tersebut memanfaatkan teknologi AI generatif untuk menciptakan avatar yang tampak meyakinkan, mulai dari dokter, ahli pengobatan tradisional, hingga lansia yang mengaku berhasil sembuh setelah mengonsumsi produk tertentu.
Sekilas, video-video itu terlihat seperti testimoni atau edukasi kesehatan biasa. Namun setelah ditelusuri lebih jauh, banyak sosok yang tampil ternyata bukan manusia sungguhan, melainkan karakter hasil rekayasa AI.
Sebagian avatar mengenakan jas dokter lengkap dengan latar ruang praktik dan sertifikat pendidikan yang tampak profesional. Bahkan ada video yang menampilkan ijazah palsu dengan tulisan "University of Degree" di belakang sosok yang mengaku sebagai dokter.
Ada pula avatar lansia yang berbicara langsung ke kamera seolah membagikan pengalaman pribadi setelah mengonsumsi suplemen tertentu. Mereka direkam di tempat parkir, dapur rumah, toko bahan makanan, atau lingkungan perumahan yang dibuat terlihat sangat alami sehingga sulit dibedakan dari manusia asli.
Salah satu pola yang ditemukan adalah penggunaan simbol-simbol yang identik dengan Amerika Serikat, seperti bendera nasional dan lingkungan suburban, untuk membangun kesan terpercaya di mata calon konsumen.
Masalahnya, sejumlah iklan tersebut memuat klaim kesehatan yang dinilai menyesatkan dan berpotensi membahayakan masyarakat. Salah satu produk yang disorot adalah suplemen herbal bernama Sculptique yang mengklaim mampu membantu mengatasi penyakit ginjal dengan hasil yang disebut lebih baik dibandingkan pengobatan medis konvensional.
Iklan tersebut juga menampilkan video AI yang memperlihatkan orang-orang yang disebut sebagai pengguna produk sedang mengangkat botol suplemen secara bersamaan sebagai bukti keberhasilan terapi. Namun klaim tersebut tidak disertai bukti ilmiah yang dapat diverifikasi.
Investigasi juga mengungkap pengalaman Pamela Wundrow, perempuan berusia 71 tahun yang membeli suplemen moringa setelah melihat iklan di Facebook dari perusahaan bernama Rosabella. Ia berharap produk tersebut dapat membantu mengatasi gejala penyakit autoimun yang dideritanya.
Beberapa bulan setelah mengonsumsi produk tersebut, regulator federal Amerika Serikat mengumumkan penarikan suplemen moringa Rosabella dari peredaran karena diduga terkontaminasi bakteri salmonella. Meski tidak mengalami gejala infeksi, Wundrow mengaku kondisi kesehatannya justru memburuk setelah rutin mengonsumsi suplemen tersebut.
“Mereka menargetkan kami, orang-orang yang memiliki masalah kesehatan,” ujar Wundrow dalam wawancara dengan The New York Times.
Fenomena ini berkembang pesat karena biaya produksi konten AI yang sangat murah. Salah satu perusahaan pemasaran asal China yang diwawancarai media tersebut mengklaim mampu membuat hingga 1.200 video AI setiap hari dengan biaya sekitar US$10 per video.
Dengan biaya rendah dan proses produksi yang cepat, perusahaan dapat membanjiri media sosial dengan berbagai iklan kesehatan yang dirancang untuk terlihat autentik dan meyakinkan.
Meski sejumlah platform telah berupaya menindak konten menyesatkan, tantangannya tidak sederhana. TikTok menyatakan telah melarang akun yang menyebarkan klaim kesehatan palsu, sementara Meta mengatakan telah menerapkan label khusus pada konten yang dibuat menggunakan AI.
Namun investigasi menemukan sejumlah video kesehatan berbasis AI masih dapat ditemukan dan ditonton publik sebelum akhirnya dihapus dari platform.
Para ahli menilai kondisi tersebut menjadi tantangan baru dalam era kecerdasan buatan. Selain meningkatkan literasi digital, masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap klaim kesehatan yang beredar di media sosial, terutama jika berasal dari akun yang tidak jelas identitas maupun kredibilitasnya.
Bagi kelompok lansia, risiko menjadi korban informasi palsu dinilai lebih tinggi karena tidak semua pengguna mampu mengenali perbedaan antara video asli dan video hasil rekayasa AI.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan keamanan informasi. Di tengah semakin canggihnya kemampuan AI menghasilkan sosok dan suara yang menyerupai manusia, masyarakat dituntut lebih kritis sebelum mempercayai klaim kesehatan atau membeli produk yang dipromosikan melalui media sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
1

















































