Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Dilarang Mendekat 3 Km

4 hours ago 1

Newswire

Newswire Sabtu, 05 September 2026 11:47 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Dilarang Mendekat 3 Km

Foto ilustrasi: Gunung Anak Krakatau semburkan abu vulkanik. /Antarafoto

Harianjogja.com, JAKARTA— Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan nelayan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Imbauan tersebut dikeluarkan setelah Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB. Aktivitas erupsi yang terjadi teridentifikasi memiliki karakteristik lava fountain atau lava air mancur.

Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan erupsi masih berlangsung ketika laporan pengamatan terakhir dibuat.

Erupsi Gunung Anak Krakatau Masih Berlangsung

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau, Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), aktivitas Gunung Anak Krakatau pada periode Jumat (4/9/2026) pukul 18.00-24.00 WIB masih menunjukkan erupsi.

“Durasi letusan masih menerus sampai laporan ini dibuat,” kata Suwarno, Sabtu (5/9/2026).

Suwarno menjelaskan erupsi menerus tersebut telah berlangsung sekitar 1 jam 30 menit sejak dimulai pada pukul 23.07 WIB. Berdasarkan karakter aktivitas yang teramati, kondisi tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur.

Fenomena tersebut juga disertai asap kawah berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal. Asap tersebut teramati mencapai ketinggian sekitar 100-400 meter di atas puncak kawah.

Aktivitas Gempa Anak Krakatau Terekam

Selain mengamati erupsi dan kondisi asap kawah, Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau mencatat sejumlah aktivitas kegempaan selama periode pengamatan.

Tercatat enam kali gempa letusan dengan amplitudo 19-70 milimeter dan durasi 29-3.153 detik.

“Selain itu, tercatat delapan kali gempa hembusan dengan amplitudo 12-27 milimeter dan durasi 20-43 detik, 39 kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 7-31 milimeter dan durasi 6-19 detik, serta 35 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 7-43 milimeter dan durasi 7-20 detik,” katanya.

Aktivitas tremor menerus atau microtremor juga masih terekam. Amplitudonya berada pada kisaran 1-60 milimeter dan dominan pada 25 milimeter.

Data kegempaan tersebut menjadi bagian dari pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Badan Geologi melalui Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau.

Status Gunung Anak Krakatau Level III atau Siaga

Peningkatan aktivitas vulkanik yang terjadi pada awal Juli menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Gunung Anak Krakatau.

Status gunung api tersebut dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Meski berada pada Level III, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada dalam kategori yang dapat dipantau dengan menerapkan langkah-langkah mitigasi sesuai rekomendasi PVMBG.

Karena itu, masyarakat diminta mengikuti seluruh rekomendasi yang dikeluarkan otoritas vulkanologi dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk zona bahaya.

Wisatawan hingga Nelayan Diminta Waspada

PVMBG secara khusus mengingatkan masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan nelayan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.

Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko yang dapat muncul akibat aktivitas erupsi maupun lontaran material vulkanik dari gunung api.

Masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau juga diminta tidak mendekati pusat erupsi meskipun aktivitas gunung api masih dapat dipantau.

Bagi nelayan yang beraktivitas di sekitar perairan Selat Sunda, kewaspadaan juga perlu ditingkatkan. Nelayan diminta terus memantau perkembangan informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Selain aktivitas vulkanik, nelayan juga diminta memperhatikan kondisi cuaca sebelum memutuskan untuk melaut. Pemantauan informasi resmi penting dilakukan untuk membantu mengurangi risiko keselamatan selama beraktivitas di perairan Selat Sunda.

Dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih mengalami erupsi menerus, masyarakat dan pengunjung diharapkan mematuhi rekomendasi PVMBG. Pembatasan aktivitas dalam radius tiga kilometer menjadi bagian dari langkah mitigasi untuk mengantisipasi potensi bahaya selama aktivitas vulkanik berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news