Harianjogja.com, SLEMAN— Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan PolPay, sistem pembayaran digital berbasis biometrik sidik jari. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna melakukan transaksi tanpa membawa dompet, kartu fisik, maupun memindai kode QR.
Inovasi ini lahir dari persoalan yang masih ditemui dalam transaksi digital, terutama ketergantungan terhadap koneksi internet saat menggunakan pembayaran berbasis kode QR. Selain itu, tim PolPay juga melihat adanya risiko keamanan pada penggunaan kartu fisik.
Lima mahasiswa UGM yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) kemudian merancang sistem pembayaran yang mengedepankan tiga prinsip, yakni keamanan, kecepatan, dan kenyamanan atau 3K.
Tim tersebut terdiri atas Tiara Ramadhani, Al Farabi Obiansyah, Marcelino Budi Prakasya, M. Fakhri Ghonim Setyanda dan M. Rakhma Aifil Indira.
PolPay mengintegrasikan sensor sidik jari ke perangkat Electronic Data Capture (EDC). Data biometrik kemudian diproses menggunakan konsep edge computing sehingga sebagian pemrosesan dapat dilakukan lebih dekat dengan perangkat transaksi.
Untuk menjaga keamanan data, sistem tersebut menggunakan enkripsi Advanced Encryption Standard 256-bit (AES-256). Komunikasi data menuju server juga dilindungi melalui protokol SSL/TLS.
Berawal dari Masalah Transaksi Digital
M. Rakhma Aifil Indira, salah satu anggota tim PolPay, mengatakan konsep tersebut berangkat dari kebutuhan terhadap sistem pembayaran yang tidak hanya mudah digunakan, tetapi juga mampu mengatasi persoalan kecepatan dan keamanan.
Menurut Rakhma, pembayaran menggunakan kode QR masih sangat bergantung pada kualitas jaringan internet. Kondisi jaringan yang tidak stabil dapat membuat proses transaksi menjadi lebih lama.
"Kalau kita membuka aplikasi bank, itu kita kayak wah lama banget latensinya. Terus kita nge-scan juga kita nungguin yang namanya internet. Internet di sinilah yang jadi problem utama kita," terang Rakhma di UGM pada Selasa (1/9/2026).
Ia menilai persoalan tersebut semakin terasa di lokasi dengan konsentrasi massa tinggi. Ketika banyak orang menggunakan jaringan pada waktu yang bersamaan, koneksi internet dapat mengalami penurunan kualitas.
"Problem itulah yang akan menjadi fondasi utama dari PolPay ini," ungkapnya.
Selain pembayaran melalui kode QR, tim juga mempertimbangkan penggunaan kartu debit dan kredit. Rakhma menyebut sistem pembayaran kartu memiliki risiko skimming, yakni pencurian atau peretasan data kartu.
"Jadi skimming itu istilahnya peretasan data pada kartu. Jadi kalau misal kartu ditaruh di bagian EDC ataupun ditaruh di bagian ATM, itu bisa mengalami peretasan kepada pihak yang tidak bertanggung jawab," tuturnya.
Dari berbagai persoalan tersebut, tim kemudian mengembangkan PolPay sebagai alternatif transaksi yang ditujukan agar lebih aman, cepat, dan praktis.
"Kita pengin ngebuat sebuah solusi yang terjangkau, sebuah solusi yang tanpa gawai, sebuah solusi yang istilahnya efektif, dan solusi yang kita efisien gitu. Nah, makanya di sinilah kisah PolPay bermula," tandasnya.
Pemrosesan Data Dibagi dengan Edge Computing
Untuk mengejar kecepatan transaksi, PolPay tidak sepenuhnya membebankan pemrosesan kepada server pusat.
Marcelino Budi Prakasya, pengembang software PolPay, menjelaskan tim merancang pembagian beban pemrosesan antara perangkat pengguna, perangkat transaksi, dan edge server.
Ia menjelaskan data sidik jari pada dasarnya tidak perlu disimpan sebagai gambar mentah. Data tersebut dapat diubah menjadi template sehingga informasi biometrik yang disimpan tidak berupa gambar sidik jari secara langsung.
"Itu awalnya solusi kami untuk meningkatkan kecepatan pembayaran. Tapi kami juga sempat berdiskusi dengan dosen pendamping kami di ilmu komputer dan beliau menawarkan ide untuk membawa edge computing yang lebih advance. Jadi bukan hanya ada server dan EDC, tapi juga membawa edge server di tengah-tengah EDC tersebut," jelasnya.
Dengan skema tersebut, tidak seluruh pemrosesan data harus dilakukan oleh peladen pusat. Sebagian proses dapat ditangani oleh edge server sehingga beban server pusat dapat dikurangi sekaligus mempercepat proses transaksi.
Aspek keamanan juga menjadi perhatian utama tim. PolPay menggunakan komunikasi SSL/TLS dan enkripsi untuk mengantisipasi pencurian maupun penyadapan data selama proses transmisi.
"Salah satunya adalah dengan tidak menyimpan data secara mentah seperti yang tadi saya sebut. Menggunakan gambar mentah secara langsung dan disimpan di database tuh bukanlah solusi yang membawa privasi. Tapi dan untuk membawa privasi tersebut, kami menyimpannya dalam bentuk template terenkripsi," jelas Marcelino.
Bayar Pakai Dua Sidik Jari
Cara menggunakan PolPay dirancang relatif sederhana. Ketua Tim PolPay Tiara Ramadhani menjelaskan pengguna terlebih dahulu harus melakukan registrasi melalui perangkat dengan memasukkan nama, email, nomor telepon, serta bank yang digunakan.
Setelah data tersebut diisi, pengguna melakukan pendaftaran sidik jari. Pengguna dapat memilih jari tangan kanan maupun kiri, tetapi diwajibkan mendaftarkan dua jari sebagai kombinasi.
Urutan dua sidik jari tersebut harus diingat. Saat melakukan pembayaran, pengguna harus melakukan pemindaian dengan urutan yang sesuai agar transaksi dapat diproses.
Setelah registrasi selesai, pengguna dapat bertransaksi di toko yang telah menggunakan perangkat PolPay. Kasir memasukkan nominal pembayaran, kemudian pengguna melakukan pemindaian sidik jari.
"Lalu kalau misalkan kita datang ke toko lagi, ke toko yang sama, itu udah ada Polpay-nya, nanti dari kasirnya itu bakalan masukin nominal yang harus kita bayar. Nanti udah dimasukin di sini dari aplikasi PolPay-nya," ujarnya.
"Nah, masukin ke sidik jarinya juga, sama sidik jarinya juga dua kali. Dua kali dan nanti transaksinya bakalan diproses," imbuh Tiara.
Al Farabi Obiansyah, perancang perangkat PolPay, mengatakan sistem tersebut juga memiliki lapisan verifikasi tambahan untuk mengantisipasi penjiplakan atau pencurian sidik jari.
Bahkan jika seseorang berhasil meniru bentuk dan urutan sidik jari pengguna, masih terdapat tahapan keamanan lain yang harus dilewati.
"Nantinya akan ada yang namanya PIN dinamis. PIN dinamis itu akan terbuka dan berganti setiap harinya dan hanya dapat dilihat oleh pengguna di HP-nya masing-masing," jelasnya.
"Sehingga [PIN dinamis] itu akan membuat sistem keamanan PolPay menjadi lebih kuat lagi karena PIN dinamis setiap hari akan berganti dan lebih sulit diretas jika para pencuri ini ingin mengetahui urutan sidik jari ataupun ingin mengambil uang di bank si user dari PolPay itu sendiri," tandas Obi.
Dikembangkan Selama Tujuh Bulan
PolPay tidak dibuat dalam waktu singkat. M. Fakhri Ghonim Setyanda, anggota tim yang menangani bagian elektronik, mengatakan pengembangan prototipe telah berlangsung sekitar tujuh bulan sejak Februari 2026.
Selama periode tersebut, kelima mahasiswa melakukan riset, bongkar pasang perangkat, hingga mengembangkan sistem yang dinilai aman digunakan.
"Tujuh bulanan kita pengembangan untuk prototipe. Tapi ya karena masih prototipe, kita belum bisa semaksimal itu dan dimasifkanlah ke masyarakat luas," tuturnya.
Perangkat PolPay terdiri atas beberapa komponen utama. Di antaranya sensor fingerprint untuk membaca sidik jari, ponsel pintar yang berfungsi sebagai layar sekaligus perangkat pemrosesan, serta printer termal untuk mencetak bukti transaksi.
Komponen tersebut ditempatkan dalam wadah berbentuk balok yang dibuat menggunakan teknologi 3D printing. Untuk prototipe awal, tim menggunakan material PLA.
Sistem tersebut juga dilengkapi edge server berbasis mini PC. Perangkat ini berfungsi sebagai server lokal untuk mengumpulkan data hasil pemindaian sekaligus membagi beban pemrosesan data agar tidak seluruhnya ditangani server pusat.
Setelah rancangan perangkat menemukan bentuk yang sesuai, satu unit PolPay dapat dibuat dalam waktu sekitar dua hingga tiga hari.
"Karena juga secara software ini sudah dilakukan jauh sebelum-sebelumnya. Kemudian kalau pembelian alat itu kami tinggal merancang dari modifikasi wiring-nya, terus juga penyambungan terhadap dari si HP dan printer-nya itu sendiri," terang Obi.
Klaim Jadi Sistem Pembayaran Biometrik Pertama di Indonesia
Obi mengklaim PolPay menjadi sistem pembayaran berbasis biometrik sidik jari pertama yang dikembangkan di Indonesia.
Menurut dia, teknologi biometrik sebelumnya telah banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk akses masuk konser dan sektor transportasi seperti kereta api dengan teknologi pengenalan wajah atau face recognition.
Namun, menurut Obi, penggunaan biometrik sebagai metode pembayaran masih belum ditemukan di Indonesia.
"Untuk di Indonesia sejauh ini belum ada yang menggunakan biometrik sebagai pembayaran," tegasnya.
Harga PolPay Diklaim Lebih Terjangkau
Selain keamanan dan kecepatan, harga perangkat menjadi salah satu aspek yang diperhitungkan tim. Rakhma mengatakan biaya perangkat PolPay lebih rendah dibandingkan sejumlah sistem pembayaran biometrik yang dikembangkan perusahaan teknologi besar.
Ia membandingkannya dengan Amazon One yang menggunakan teknologi pengenalan telapak tangan serta sistem face recognition Alipay.
"Kalau misal ngomongin di Amazon One, itu memerlukan perangkat yang luar biasa mahal. Itu kayak 5.000 sampai 10.000 US dollar," ujarnya.
Sementara itu, harga perangkat biometrik Alipay disebut Rakhma berada di kisaran Rp11,5 juta. Ia juga menyebut sistem pengenalan wajah memiliki potensi mengalami kegagalan ketika terjadi perubahan pada pola wajah pengguna.
Adapun perangkat PolPay, menurut Rakhma, diperkirakan berada di kisaran Rp2 juta per unit.
"Kami unggul di bagian alat yang terjangkau, seperti itu. Jadi kalau misal dibandingin sama semuanya yang ada, kita memiliki harga yang lebih murah," ujarnya.
Berpeluang Dipakai di Lokasi dengan Banyak Pengunjung
Tim PolPay melihat teknologi tersebut memiliki peluang digunakan pada lokasi yang dipenuhi banyak orang. Konser, pertandingan sepak bola, dan kegiatan dengan jumlah pengunjung besar menjadi beberapa contoh situasi ketika transaksi digital dapat terkendala oleh kepadatan jaringan.
Dalam kondisi tersebut, pengguna PolPay cukup menggunakan sidik jari untuk menyelesaikan transaksi sehingga proses pembayaran tidak harus bergantung sepenuhnya pada pemindaian kode QR melalui ponsel.
Meski demikian, PolPay saat ini masih berada dalam tahap prototipe dan belum diarahkan untuk penggunaan komersial secara luas.
Tiara mengatakan tim berencana berkomunikasi dengan Bank Indonesia untuk memperoleh masukan mengenai pengembangan sistem tersebut, termasuk arah pengembangannya jika nantinya akan digunakan sebagai sarana pembayaran.
"Kalau untuk komersil, karena ini masih prototipe, jadi belum ke arah sana. Tapi mungkin ke depannya kita juga mau koordinasi sama Bank Indonesia untuk tanya-tanya tentang saran dan ke depannya alatnya mau dikembangkan ke arah mana," ujarnya.
Tim berharap PolPay suatu saat dapat dikembangkan menjadi sistem pembayaran biometrik yang dapat terhubung dengan berbagai bank sehingga transaksi masyarakat menjadi lebih praktis.
"Siapa tahu juga nanti bisa jadi benar-benar alat yang diterapkan dan bisa ke berbagai bank gitu ya, dihubungkan ke berbagai bank. Jadi pembayarannya jauh lebih mudah juga," tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
2
















































