SAWAHLUNTO, KLIKPOSITIF — Suara bahasa Inggris terdengar dari lapangan SMP SDI Silungkang, Kota Sawahlunto, pada suatu siang yang terik. Di bawah rindangnya pepohonan, beberapa siswa berdiri bergantian membawakan sebuah cerita.
Ada yang masih terbata-bata mengucapkan setiap kalimat. Ada pula yang sesekali berhenti, menarik napas panjang, lalu mencoba melanjutkan cerita yang sedang dibawakannya.
Sesekali terdengar tawa kecil ketika pelafalan sebuah kata belum tepat. Namun, tak ada ejekan. Teman-teman mereka justru memberikan semangat agar cerita tetap dilanjutkan.
Pemandangan itu sekilas tampak sederhana. Tidak ada panggung megah, tidak ada lampu sorot, apalagi perangkat multimedia canggih. Hanya lapangan sekolah, pepohonan yang menaungi, dan sekelompok siswa yang sedang belajar menaklukkan rasa takut untuk berbicara dalam bahasa Inggris.
Di tempat sederhana itulah kemampuan sekaligus keberanian mereka ditempa.
Guru pembimbing, Mahat Marirani, S.S., bahkan tidak selalu berada di lapangan saat latihan berlangsung. Ketika para siswa mulai berlatih, ia masih mengajar di kelas lain.
“Latihan saja dulu. Nanti setelah jam pelajaran selesai kita evaluasi bersama,” begitu pesan yang sudah akrab didengar para siswa.
Pesan itu menjadi bagian dari proses belajar. Para siswa berlatih secara mandiri, saling menyimak, dan sesekali memberikan masukan kepada teman. Setelah menyelesaikan tugas mengajar, Mahat kemudian menuju lapangan untuk melanjutkan proses pembinaan.
Tanpa pengeras suara, tanpa ruang multimedia, dan tanpa laboratorium bahasa, latihan kembali dimulai.
Satu per satu siswa diminta mengulang intonasi. Pelafalan diperbaiki. Ekspresi dibenahi. Gerak tubuh diarahkan agar lebih natural. Bahkan karakter dalam cerita pun harus benar-benar dihidupkan.
Bagi mereka, lapangan sekolah bukan sekadar tempat berolahraga. Di sanalah bahasa Inggris dipraktikkan, keberanian dilatih, dan rasa percaya diri perlahan tumbuh.
Rutinitas semacam itu telah berlangsung selama bertahun-tahun di SMP SDI Silungkang.
Sekolah swasta di Kota Sawahlunto tersebut memang jauh dari kesan mewah. Tidak tersedia ruang khusus untuk pembinaan storytelling. Lapangan sekolah, mushala, hingga sudut-sudut kelas dapat berubah fungsi menjadi ruang belajar sesuai kebutuhan.
Alat peraga pun tak selalu harus dibeli. Barang-barang sederhana yang sudah tidak terpakai kerap disulap menjadi media pembelajaran.
Namun, keterbatasan fasilitas tidak membuat semangat berprestasi ikut terbatas.
Justru dari ruang-ruang sederhana itulah lahir sederet prestasi.
Sejak 2015, siswa SMP SDI Silungkang berkali-kali meraih juara dalam kompetisi storytelling tingkat Kota Sawahlunto. Sejumlah siswa bahkan mampu melangkah lebih jauh hingga tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Prestasi tersebut tidak datang dalam satu malam. Ada proses panjang di belakangnya. Ada teks cerita yang dibaca berulang kali, kata-kata yang berkali-kali dilafalkan, ekspresi yang terus diperbaiki, dan keberanian yang dibangun sedikit demi sedikit.
Ketika kompetisi resmi sempat tidak diselenggarakan, semangat itu pun tidak ikut berhenti.
Sekolah tetap berupaya mencari berbagai ajang lain yang dapat menjadi ruang bagi para siswa untuk berlatih dan menunjukkan kemampuan. Sebab, bagi Mahat, kompetisi bukan semata-mata tentang siapa yang membawa pulang piala.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada trofi.
“Yang paling membahagiakan bukan saat mereka membawa pulang piala, tetapi ketika anak yang dulu selalu berkata, ‘Bu, saya takut salah,’ akhirnya berani berdiri dan berbicara di depan banyak orang,” ujar Mahat.
Kalimat tersebut seolah menjadi gambaran utuh tentang filosofi mengajarnya.
Storytelling bukan sekadar lomba. Bahasa Inggris juga bukan hanya mata pelajaran yang harus dikuasai untuk memperoleh nilai bagus.
Keduanya menjadi medium untuk membangun keberanian.
Sebab, sebelum seorang anak mampu berbicara dengan lancar di hadapan orang lain, ada rasa takut yang harus lebih dulu ditaklukkan.
Di setiap sesi latihan, siswa tidak hanya diminta menghafal cerita. Mereka berdiskusi, saling menyimak, memberikan masukan, memperbaiki pelafalan bersama, hingga belajar menerima kritik tanpa merasa direndahkan.
Mereka belajar bahwa kesalahan dalam pengucapan bukan sesuatu yang memalukan. Kesalahan justru menjadi bagian dari proses untuk menjadi lebih baik.
Dari sana, tumbuh pula kemampuan lain yang tidak selalu terlihat di atas panggung.
Mereka belajar bekerja sama. Belajar mendengarkan. Belajar menghargai pendapat orang lain. Belajar menerima kekurangan dan kelebihan teman. Yang paling penting, mereka belajar untuk tidak menyerah hanya karena pernah melakukan kesalahan.
Kebiasaan itu kemudian berkembang menjadi budaya belajar di sekolah.
Siswa-siswa yang pernah meraih prestasi tidak berhenti setelah mendapatkan piala. Mereka kembali ke sekolah dan berbagi pengalaman dengan adik-adik kelas.
Pengetahuan dan pengalaman tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Mereka berbagi tentang bagaimana memilih cerita, menghafal teks, membangun ekspresi, mengatur intonasi, hingga menghadapi rasa gugup ketika harus tampil di depan banyak orang.
Lebih dari sekadar teknik storytelling, mereka sedang mewariskan keyakinan.
Bahwa anak-anak dari sekolah sederhana juga mampu bersaing. Bahwa keterbatasan fasilitas tidak otomatis membatasi mimpi.
Dan bahwa kemampuan tidak selalu lahir dari ruang belajar yang lengkap, tetapi dari proses yang dilakukan secara konsisten.
Di SMP SDI Silungkang, keberhasilan dengan demikian tidak semata-mata diwariskan melalui piala yang tersimpan di lemari.
Keberhasilan diwariskan melalui cerita, semangat, pengalaman, dan keteladanan.
Mahat sendiri tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti melangkah. Baginya, fasilitas memang penting, tetapi kemauan untuk belajar jauh lebih menentukan.
“Kalau belum punya laboratorium bahasa, ya lapangan sekolah menjadi laboratorium kami,” kata dia.
Kalimat itu sederhana. Namun, di baliknya tersimpan cara pandang yang kuat tentang pendidikan.
Laboratorium tidak selalu harus berupa ruangan dengan peralatan lengkap. Lapangan bisa menjadi laboratorium ketika di sana seorang anak berani mencoba. Mushala bisa menjadi ruang belajar ketika di sana siswa berlatih bersama. Bahkan sudut kelas yang sederhana pun dapat menjadi tempat lahirnya sebuah keberanian.
Di tempat-tempat itulah pendidikan menemukan maknanya.
Kisah SMP SDI Silungkang menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa lengkap fasilitas yang dimiliki sebuah sekolah. Lebih dari itu, pendidikan ditentukan oleh bagaimana guru dan siswa memanfaatkan apa yang tersedia untuk menciptakan ruang belajar.
Guru yang tekun dapat mengubah keterbatasan menjadi peluang. Siswa yang diberi ruang untuk mencoba dapat menemukan keberanian yang sebelumnya tidak mereka sadari.
Dan pada akhirnya, piala hanyalah salah satu tanda dari sebuah perjalanan.
Yang jauh lebih berharga adalah perubahan seorang anak yang dahulu menundukkan kepala karena takut salah, kemudian berani berdiri, menatap orang-orang di hadapannya, dan menyelesaikan sebuah cerita dengan suaranya sendiri.
Setiap kali suara bahasa Inggris kembali terdengar dari lapangan SMP SDI Silungkang, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya kemampuan berbahasa.
Di sana sedang dibangun keberanian.
Keberanian untuk mencoba. Keberanian untuk salah.
Keberanian untuk memperbaiki diri.
Dan pada akhirnya, keberanian untuk percaya bahwa dirinya mampu. Sebab, mungkin saja sebuah sekolah tidak memiliki laboratorium bahasa yang lengkap.
Tetapi selama masih ada guru yang mau membimbing dan anak-anak yang mau terus mencoba, lapangan sekolah pun dapat menjadi tempat lahirnya mimpi-mimpi besar.

2 hours ago
1


















































