PADANG, KLIKPOSITIF — Sastra kembali menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan negara-negara serumpun. Melalui kata-kata, puisi, dan pertukaran kebudayaan, para penyair Sumatera Barat bersiap membawa cerita tentang Indonesia ke panggung internasional dalam Safari Puisi Empat Negara: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Pelepasan delegasi SatuPena Sumatera Barat menuju safari puisi tersebut dilakukan Wali Kota Padang Fadly Amran dalam kegiatan Malam Safari Puisi Empat Negara yang berlangsung di Galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Selasa (28/7/2026).
Kegiatan itu turut dihadiri Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Republik Indonesia Ganjar Harimansyah, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sumbar Rahmat, Kepala Bidang Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya, serta Ketua I Dewan Pimpinan Daerah (DPD) SatuPena Sumbar Sastri Bakry.
Dari panggung sastra tersebut, Fadly secara resmi melepas delegasi SatuPena Sumbar yang akan menjalani rangkaian safari puisi lintas negara. Perjalanan ini bukan semata-mata agenda pertunjukan sastra, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus membangun jejaring kebudayaan dengan negara-negara tetangga.
Bagi Fadly, pembangunan sebuah kota tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik. Jalan, jembatan, gedung, dan berbagai infrastruktur memang menjadi bagian penting dalam kemajuan sebuah daerah. Namun, di balik kemajuan material itu, terdapat unsur kebudayaan yang menjadi ruh dan identitas sebuah kota.
Ia menilai pembangunan tanpa kebudayaan, tradisi, sastra, bahasa, dan narasi peradaban akan kehilangan dimensi kemanusiaannya.
“Pembangunan itu bukan hanya soal infrastruktur semata. Mau pembangunan semegah apapun, mau infrastruktur semewah apapun, tanpa ada harmoni, tanpa ada cerita tentang peradaban dan kekerabatan kita bersama yang ditampilkan melalui tradisi, narasi, bahasa, sastra, dan budaya, tentu semuanya akan terasa hambar,” ujar Fadly.
Karena itu, menurut dia, kegiatan kebudayaan seperti safari puisi memiliki posisi penting dalam pembangunan Kota Padang. Sastra tidak hanya berbicara mengenai karya dan estetika, tetapi juga menjadi medium untuk menyampaikan identitas, nilai, sejarah, dan karakter masyarakat kepada dunia.
Melalui puisi, kata Fadly, masyarakat dapat membangun komunikasi lintas batas. Bahasa sastra mampu menghadirkan cerita tentang sebuah daerah tanpa harus selalu bergantung pada narasi pembangunan dalam bentuk angka dan infrastruktur.
“Pembangunan itu bukan hanya soal infrastruktur. Kita juga harus membangun manusia, kebudayaan, dan peradaban,” katanya.
Fadly juga mengaitkan penguatan kebudayaan tersebut dengan agenda besar Pemerintah Kota Padang dalam rangkaian peringatan Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357 tahun 2026.
Rangkaian HJK Padang dijadwalkan berlangsung pada 6 hingga 10 Agustus 2026 dengan mengusung tema “Taste of Padang Experience: Road to Gastronomy City”.
Tema tersebut, kata Fadly, bukan sekadar slogan perayaan hari jadi. Lebih jauh, tema itu menjadi bagian dari tekad Pemerintah Kota Padang untuk mengembangkan kota melalui sektor kreatif, kebudayaan, kuliner, serta kekayaan tradisi yang dimiliki masyarakat.
“Tema tersebut mencerminkan tekad kuat Pemerintah Kota Padang untuk menjadikan Padang sebagai kota kreatif UNESCO melalui pengembangan sektor gastronomi. Untuk itu, kita harus kreatif dalam sastra, kreatif dalam budaya, dan kreatif dalam mengembangkan masyarakat,” ujar Fadly.
Sejumlah agenda telah disiapkan untuk menyemarakkan HJK Padang ke-357. Di antaranya Pawai Telong-Telong, Padang Gastronomy Market, Padang Harmoni Festival, peresmian Jembatan Hildesheim, Selaju Sampan, Padang Bajamba Festival, Gowes Siti Nurbaya, Donor Darah, Blue Ocean Minang (BOM) Run, Talks on Taste, Padang Fashion Summit, hingga Xploria Padang.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi perayaan ulang tahun kota, tetapi juga ruang untuk memperlihatkan kekayaan identitas Padang kepada masyarakat luas.
Dalam konteks itulah, keberangkatan SatuPena Sumbar melakukan safari puisi ke tiga negara menjadi bagian penting dari upaya memperluas jejaring kebudayaan. Sastra Sumatera Barat akan dibawa keluar dari ruang-ruang pertunjukan lokal untuk bertemu dengan publik di negara-negara tetangga.
Ketua I DPD SatuPena Sumbar Sastri Bakry mengatakan, sebanyak 10 orang akan mengikuti safari puisi empat negara tersebut. Delegasi dijadwalkan berangkat dari Indonesia pada 29 Juli 2026 dan kembali pada 4 Agustus 2026.
Selama perjalanan, para penyair akan tampil di sejumlah ruang sastra dan kebudayaan. Di antaranya Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, Malaysia, serta Woodlands Regional Library Auditorium di Singapura.
“Peserta yang berangkat bersama kami dalam safari puisi empat negara ini sebanyak 10 orang. Kami akan berangkat pada 29 Juli, dan akan kembali ke Indonesia 4 Agustus 2026 mendatang. Kami akan tampil di antaranya di Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, dan Woodlands Regional Library Auditorium Singapura,” kata Sastri.
Menurut Sastri, safari puisi tersebut dirancang tidak hanya sebagai panggung bagi para penyair untuk membacakan karya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan kebudayaan antara Indonesia dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Pertemuan para penyair dari berbagai negara diharapkan membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai kebudayaan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Puisi menjadi titik temu untuk saling mengenal tradisi, pengalaman, cara pandang, serta nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat masing-masing negara.
“Safari puisi empat negara tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan karya sastra, tetapi juga menjadi sarana pertukaran budaya, mempererat silaturahmi, serta memperkuat hubungan Indonesia dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand,” ujar Sastri.
Ia menambahkan, Sumatera Barat memiliki modal budaya yang kuat untuk diperkenalkan melalui kegiatan tersebut. Sastra, bahasa, tradisi, sejarah, dan kearifan lokal Minangkabau merupakan bagian dari identitas yang dapat menjadi cerita menarik ketika dibawa ke ruang perjumpaan internasional.
Bagi SatuPena Sumbar, perjalanan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperlihatkan bahwa sastra daerah tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kehidupan masyarakat, tradisi, lingkungan, sejarah, dan dinamika sosial yang terus berkembang.
Puisi akhirnya tidak hanya menjadi rangkaian kata yang dibacakan di atas panggung. Ia menjadi cara untuk membawa ingatan sebuah daerah melintasi batas geografis.
Dari Padang, kata-kata itu akan bergerak menuju Kuala Lumpur, Singapura, hingga Thailand. Di setiap tempat, para penyair membawa cerita tentang Indonesia sekaligus membuka ruang untuk mendengarkan cerita dari negeri lain.
Pelepasan delegasi pada Malam Safari Puisi Empat Negara pun menjadi penanda bahwa pembangunan kebudayaan di Kota Padang tidak berhenti pada pelestarian tradisi di dalam daerah. Kebudayaan juga harus berani bergerak, berjejaring, dan berdialog dengan dunia.
Di tengah pembangunan kota yang terus berkembang, sastra menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi bangunan berdiri atau seberapa panjang jalan dibangun. Ada pula nilai, cerita, bahasa, tradisi, dan karya yang membuat sebuah kota memiliki jiwa.
Dan melalui safari puisi tersebut, SatuPena Sumbar membawa jiwa itu melintasi empat negara dari Indonesia untuk bertemu dengan dunia serumpun di Asia Tenggara.

4 hours ago
1


















































