Harianjogja.com, JOGJA—Banyak orang menilai kualitas hubungan dari seberapa sering pasangan menunjukkan perhatian, memberikan kejutan, atau seberapa jarang konflik terjadi. Namun, para peneliti menemukan ada satu faktor yang tak kalah penting dalam menjaga hubungan tetap sehat, yaitu perasaan benar-benar dipahami oleh pasangan.
Ketika seseorang merasa didengar, diterima, dan dimengerti apa adanya, hubungan cenderung terasa lebih aman dan nyaman. Sebaliknya, jika perasaan tersebut terus-menerus tidak terpenuhi, dampaknya tidak hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga kesehatan fisik dalam jangka panjang.
Temuan ini diperkuat oleh sejumlah penelitian yang menunjukkan bahwa kualitas hubungan romantis memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan psikologis maupun kesehatan tubuh.
Dilansir dari Psychology Today, salah satu penelitian jangka panjang yang dipublikasikan dalam jurnal Psychosomatic Medicine mengungkap hubungan antara kualitas interaksi pasangan dan risiko kesehatan.
Penelitian longitudinal tersebut berlangsung selama 20 tahun dan melibatkan lebih dari 1.200 orang dewasa. Para peneliti melakukan pengumpulan data dalam tiga tahap untuk melihat bagaimana kualitas hubungan memengaruhi kehidupan peserta dalam jangka panjang.
Fokus utama penelitian ini adalah mengukur apa yang disebut sebagai perceived partner responsiveness atau responsivitas pasangan yang dirasakan. Istilah tersebut menggambarkan sejauh mana seseorang merasa pasangannya memahami, peduli, serta menerima dirinya.
Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang merasa kurang dipahami atau kurang mendapatkan respons emosional dari pasangannya cenderung mengalami peningkatan reaksi emosional negatif dalam kehidupan sehari-hari.
Perasaan kecewa, kesepian, frustrasi, atau tidak dihargai yang terus berlangsung dari waktu ke waktu ternyata dapat menumpuk dan memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Yang lebih mengejutkan, penelitian tersebut menemukan bahwa rendahnya responsivitas pasangan berkaitan dengan meningkatnya risiko kematian akibat berbagai penyebab selama masa penelitian berlangsung.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan yang tidak memberikan dukungan emosional yang memadai bukan hanya berdampak pada suasana hati, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan harapan hidup seseorang.
Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2022 juga menemukan hasil yang sejalan.
Dalam studi tersebut, para peneliti mengamati bagaimana perasaan dipahami oleh pasangan memengaruhi cara seseorang menjalani berbagai bentuk pengorbanan dalam hubungan.
Pengorbanan yang dimaksud mencakup berbagai keputusan penting, seperti berkompromi dalam perbedaan pendapat, pindah tempat tinggal demi pasangan, hingga mengalah untuk kepentingan bersama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang merasa benar-benar dipahami oleh pasangannya cenderung memandang pengorbanan tersebut secara lebih positif.
Mereka mengaku lebih mudah menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil bersama, memiliki tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi, dan lebih sedikit merasakan penyesalan setelah berkorban.
Tidak hanya itu, individu yang merasa dihargai dan dimengerti juga cenderung lebih siap memberikan dukungan kepada pasangan sejak awal karena merasa hubungan yang dijalani berjalan secara seimbang.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa perasaan dipahami bukan sekadar kebutuhan emosional, melainkan fondasi penting yang membantu pasangan menghadapi berbagai tantangan hidup bersama.
Hubungan yang sehat pada akhirnya bukan berarti tidak pernah bertengkar atau selalu memiliki pandangan yang sama. Konflik tetap dapat terjadi dalam hubungan yang harmonis.
Yang membedakan adalah bagaimana kedua pihak mampu menciptakan ruang yang aman untuk saling mendengarkan, memahami sudut pandang masing-masing, dan menunjukkan empati ketika menghadapi perbedaan.
Bagi pasangan yang ingin meningkatkan kualitas hubungan, langkah sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, menanyakan perasaan pasangan, serta memberikan perhatian penuh saat berkomunikasi dapat menjadi awal yang penting.
Menunjukkan penerimaan terhadap pasangan apa adanya juga membantu membangun rasa aman emosional yang menjadi dasar hubungan yang kuat.
Pada akhirnya, kesehatan emosional dan kesehatan fisik tidak dapat dipisahkan. Hubungan yang dipenuhi rasa saling memahami dapat menjadi sumber dukungan yang membantu seseorang menghadapi tekanan hidup sehari-hari.
Karena itu, merasa dipahami oleh pasangan bukan hanya tentang kenyamanan dalam hubungan. Lebih dari itu, kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kualitas hidup, kesehatan, dan kebahagiaan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

1 hour ago
1

















































