
Tumpukan sampah di TPA Piyungan Kabupaten Bantul. – Antara/Hery Sidik
Harianjogja.com, BANTUL— Kabupaten Bantul akan memasok sekitar 250 ton sampah per hari untuk memenuhi kebutuhan operasional fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan yang ditargetkan mulai menerima pasokan sampah pada akhir 2028.
Kebutuhan sampah untuk mengoperasikan PSEL diperkirakan mencapai sedikitnya 1.000 ton per hari. Pemda DIY pun telah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota di wilayah aglomerasi Yogyakarta guna memastikan pasokan sampah dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Kepala Balai Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY, Aris Prasena, mengatakan setiap daerah telah menyusun rencana induk pengelolaan sampah sebagai acuan dalam mendukung operasional PSEL, mulai dari penyiapan wilayah layanan hingga fasilitas pendukung.
“Rinciannya itu suplai sampah dari Kota Yogyakarta sebanyak 300 ton, Kabupaten Sleman sebanyak 450 ton, dan sisanya sebanyak 250 ton akan dipenuhi oleh Kabupaten Bantul,” ucapnya, Sabtu (25/7/2026).
Pembagian kuota tersebut menjadi bagian penting dari sistem yang sedang dibangun. Pasokan sampah harus sesuai dengan kebutuhan karena akan berpengaruh terhadap keberlangsungan operasional PSEL nantinya.
Pemerintah daerah akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak agar distribusi sampah dari masing-masing wilayah dapat berjalan sesuai perencanaan. Pengelolaan pasokan dinilai sama pentingnya dengan pembangunan fisik fasilitas tersebut.
“Kalau kuotanya kurang nanti didenda, sementara kalau kelebihan berarti manajemennya perlu diperbaiki. Jadi kami selalu koordinasi agar semua bisa berjalan dengan baik, mungkin juga nanti dari Kulon Progo juga bisa menyusul di tahun-tahun selanjutnya,” ujarnya.
Selain memastikan pasokan sampah, pemerintah juga mulai menyiapkan tahapan pembangunan fisik proyek. Aris menyebut proses pematangan lahan masih berlangsung dan ditargetkan selesai sebelum dimulainya konstruksi.
Apabila seluruh proses berjalan sesuai jadwal, pembangunan PSEL akan ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada akhir 2026. Setelah itu, proyek ditargetkan selesai dan mulai menerima pasokan sampah pada penghujung 2028.
“Lahan sudah tersedia dan masih tahap pematangan. Groundbreaking atau tahapan pembangunan targetnya pada akhir tahun ini dan mulai menerima pasokan sampah pada akhir 2028,” katanya.
Selama masa persiapan tersebut, Pemda DIY juga melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak yang terlibat dalam rantai pengelolaan sampah. Pembahasan tidak hanya menyangkut pemerintah daerah, tetapi juga masyarakat, pengepul, pengelola depo sampah, hingga sistem pengangkutan menuju fasilitas PSEL.
Aris mengatakan dua tahun ke depan akan dimanfaatkan untuk menyempurnakan mekanisme tersebut sehingga ketika PSEL mulai beroperasi, seluruh alur distribusi sampah sudah berjalan secara terpadu.
“Masih ada waktu dua tahun untuk mengonsolidasikan semua, termasuk dari masyarakat, pengepul, depo sampah, hingga masuk ke PSEL. Sistemnya akan diperbaiki sehingga alur pengiriman sampah bisa disusun dengan optimal,” ucapnya menambahkan.
Persiapan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Piyungan terus dimatangkan. Keberadaan PSEL di Piyungan diharapkan menjadi salah satu solusi jangka panjang dalam penanganan sampah di DIY. Selain mengurangi timbunan sampah yang selama ini menjadi persoalan, fasilitas tersebut juga dirancang mampu mengubah sampah menjadi energi listrik melalui teknologi pengolahan modern.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































