Rupiah Sentuh Level Terkuat Sejak Juni, Ada Apa?

2 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA—Rupiah menguat ke posisi Rp17.670 per dolar AS pada perdagangan Rabu (26/8/2026), sekaligus mencapai level terkuat sejak pertengahan Juni. Pergerakan rupiah terjadi bersamaan dengan penguatan sejumlah mata uang Asia, ketika penurunan harga minyak dunia dan perkembangan terkait Selat Hormuz memberikan sentimen positif bagi pasar kawasan.

Ringgit Malaysia menjadi mata uang yang mencatat penguatan paling menonjol. Mata uang Negeri Jiran itu naik hingga 0,5 persen ke level 4,02 per dolar AS, posisi terkuat sejak awal Juni.

Sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), ringgit telah menguat hampir 0,8 persen. Kinerja itu membuat ringgit termasuk salah satu mata uang yang relatif tangguh di kawasan Asia di tengah tekanan akibat konflik di Timur Tengah.

Ketahanan ringgit ditopang pertumbuhan ekonomi dan fundamental Malaysia yang solid. Kondisi tersebut membuat pergerakan mata uang Malaysia relatif lebih kuat dibandingkan sejumlah mata uang Asia Tenggara lainnya.

Rupiah Kembali Menguat

Penguatan juga terjadi pada rupiah yang naik tipis menjadi Rp17.670 per dolar AS. Posisi itu menjadi level terkuat rupiah sejak pertengahan Juni sekaligus memangkas sebagian pelemahan yang terjadi sejak awal Agustus.

Sentimen terhadap rupiah turut mendapat dorongan dari pencalonan tunggal Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pencalonan itu disebut membantu meredakan kekhawatiran investor mengenai tata kelola lembaga di Indonesia.

Di Filipina, peso bergerak menguat tipis. Bank sentral negara itu diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan untuk tiga pekan berturut-turut pada Kamis (27/8/2026), dengan inflasi dan pelemahan peso menjadi perhatian utama meski pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan.

Baht Thailand juga relatif stabil di level 32,71 per dolar AS menjelang keputusan suku bunga Bank of Thailand (BoT). Pasar memperkirakan suku bunga acuan Thailand akan bertahan pada level saat ini hingga 2027 karena permintaan domestik masih lemah.

Harga Minyak Turun Lebih dari 2 Persen

Pergerakan mata uang Asia tidak terlepas dari perkembangan harga energi. Harga minyak mentah turun lebih dari 2 persen setelah Iran menyatakan kembali membuka pembicaraan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz.

Iran dan Oman membahas koridor navigasi sementara di kawasan tersebut sekaligus menyepakati pembersihan ranjau di wilayah perairan Selat Hormuz. Perkembangan itu memunculkan harapan terhadap kelancaran kembali jalur pelayaran minyak di kawasan tersebut.

Penurunan harga minyak menjadi perhatian bagi negara-negara Asia yang sensitif terhadap biaya energi. Peso Filipina dan rupee India, misalnya, telah mengalami pelemahan antara 4,5 persen hingga 5,9 persen sepanjang tahun ini karena kenaikan biaya energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan prospek pertumbuhan.

Sebaliknya, kondisi harga minyak yang lebih rendah memberikan ruang bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia dan Malaysia. Pergerakan komoditas energi menjadi salah satu faktor yang turut diperhatikan pasar ketika menilai prospek ekonomi kedua negara.

Saham Teknologi Asia Menanjak

Optimisme juga terlihat di pasar saham Asia, khususnya sektor teknologi. Indeks saham Korea Selatan menguat hingga 2,1 persen dengan kenaikan didorong emiten produsen cip semikonduktor menjelang laporan kinerja Nvidia.

Pergerakan serupa terlihat di Taiwan. Indeks saham Taiwan naik hingga 1,5 persen dan mencapai level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Perhatian investor terhadap Nvidia membuat sektor cip dan teknologi menjadi salah satu fokus pasar. Laporan keuangan perusahaan produsen cip AI itu dinantikan karena dapat memberikan gambaran mengenai perkembangan bisnis yang berkaitan dengan kecerdasan buatan dan semikonduktor.

Kepala Ekuitas ASEAN di BNP Paribas Asset Management, Ernest Chew, menilai ketahanan ringgit berkaitan dengan kondisi fundamental Malaysia dan pelemahan dolar AS.

"Ketahanan ringgit didukung oleh pertumbuhan Malaysia yang relatif kuat, posisi perdagangan dan neraca transaksi berjalan yang sehat, serta arus masuk investasi yang berkelanjutan, sementara dollar AS yang lebih lemah memberikan dorongan tambahan," ujar Ernest Chew dikutip dari The Star.

Ia juga memperkirakan arah ringgit dalam waktu dekat akan dipengaruhi kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan kinerja perusahaan domestik.

"Arah jangka pendek kemungkinan besar akan bergantung terutama pada ekspektasi suku bunga AS, sinyal-sinyal Fed yang akan datang termasuk Jackson Hole, dan apakah pendapatan perusahaan domestik terus mengkonfirmasi prospek pertumbuhan Malaysia yang relatif tangguh," lanjutnya.

Sorotan Kebijakan Global

Pergerakan pasar Asia pada Rabu (26/8/2026) juga berlangsung bersamaan dengan sejumlah perkembangan ekonomi global. Bank of Japan (BOJ) disebut bersiap mempercepat pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen pada September.

Kebijakan itu menjadi bagian dari perubahan arah moneter Jepang setelah bertahun-tahun mempertahankan kebijakan yang sangat longgar.

Di sektor perdagangan, Kanada mengenakan tarif balasan terhadap produk Amerika Serikat senilai 20 miliar dolar AS. Kebijakan itu muncul ketika ketegangan perdagangan antara kedua negara meningkat dan menjadi perhatian pasar global karena berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan internasional.

Sementara itu, Huawei dan HP menandatangani kesepakatan lisensi silang paten Wi-Fi multi-tahun. Kesepakatan itu mencakup teknologi Wi-Fi, termasuk standar Wi-Fi 7, dan memungkinkan HP menggunakan sejumlah paten Huawei sementara Huawei memperoleh hak atas paten HP.

Reuters mengungkapkan, kesepakatan Huawei dan HP merupakan perjanjian lisensi kekayaan intelektual dan tidak disertai pengungkapan nilai finansial oleh kedua perusahaan. Investing melaporkan, HP juga menyebut kesepakatan itu sebagai lisensi teknologi yang bersifat standar industri, bukan penanda kerja sama komersial atau kemitraan strategis yang lebih luas.

Dengan demikian, penguatan rupiah dan ringgit pada perdagangan Rabu (26/8/2026) berlangsung di tengah kombinasi perkembangan harga minyak, kebijakan bank sentral, pergerakan dolar AS, serta sentimen terhadap saham teknologi. Pasar Asia selanjutnya masih akan mencermati arah kebijakan moneter global dan perkembangan geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan mata uang serta aset regional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news