Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul mengungkapkan mayoritas sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Wukirsari di Kalurahan Baleharjo, Kapanewon Wonosari masih berupa sampah organik. Kondisi tersebut dinilai dapat mempercepat penuh kapasitas TPAS apabila masyarakat belum melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Kepala DLH Gunungkidul, Edy Basuki, mengatakan volume sampah yang masuk ke TPAS Wukirsari mencapai sekitar 50 hingga 60 ton setiap hari. Dari jumlah tersebut, hampir 70 persen merupakan sampah organik.
“Hampir 70% sampah yang masuk ke TPAS Wukirsari merupakan jenis organik. Tanpa, adanya pengolahan, maka TPAS akan cepat penuh,” kata Edy Basuki, Selasa (28/7/2026).
Pemkab Targetkan TPAS Bebas Sampah Organik
Edy menjelaskan, kondisi tersebut tidak sejalan dengan program Pemerintah Kabupaten Gunungkidul yang menargetkan TPAS bebas dari pembuangan sampah organik. Meski regulasi mengenai larangan pembuangan sampah organik telah tersedia, implementasinya masih membutuhkan sosialisasi secara masif kepada masyarakat.
Menurutnya, edukasi mengenai pemilahan sampah harus terus dilakukan agar sampah yang dibuang ke TPAS benar-benar berupa sampah residu yang sudah tidak dapat diolah kembali.
“Tentunya terus diupayakan untuk memberikan edukasi ke masyarakat berkaitan dengan memilah sampah dari rumah sehingga yang dibuang ke TPAS yang benar-benar residu,” katanya.
Sampah Organik Dapat Diolah Menjadi Pupuk
Edy menuturkan banyak jenis sampah yang sebenarnya masih memiliki nilai manfaat apabila diolah dengan benar. Salah satunya adalah sampah organik yang dapat dimanfaatkan menjadi pupuk alami untuk menyuburkan tanaman di sekitar rumah.
Pengolahannya pun dinilai sederhana. Masyarakat cukup membuat lubang atau biopori sebagai tempat penampungan sampah organik hingga terurai secara alami menjadi pupuk.
“Nanti kalau sudah penuh bisa ditimbun dan di lokasi ini saat ditanami akan tumbuh subur,” katanya.
Selain sampah organik, sampah anorganik seperti kertas, botol bekas, plastik, dan jenis lainnya juga dapat dibawa ke bank sampah sehingga memberikan nilai manfaat ekonomi.
“Harapan kami dengan pemilahan, maka sampah yang dibuang ke TPAS merupakan residu seperti bekas popok bayi, tisu dan lainnya. Bukan seperti yang terjadi saat ini, semua jenis sampah langsung dibuang ke TPAS,” katanya.
Didukung 21 TPS 3R dan 400 Bank Sampah
Untuk mendukung program TPAS bebas sampah organik, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah membangun 21 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) dan sekitar 400 bank sampah yang tersebar di Bumi Handayani.
DLH berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengoptimalkan pemilahan sampah sehingga hanya sampah residu yang dikirim ke TPAS.
“Harapannya fasilitas ini dapat dipergunakan untuk mengoptimalkan pemilahan sampah sehingga yang dibuang ke TPAS merupakan residu tak bisa diolah lagi,” katanya.
Bupati Ajak Masyarakat Terlibat Aktif
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mendukung penuh kampanye TPAS bebas sampah organik yang dijalankan DLH. Menurutnya, edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah harus terus diperkuat agar tercipta perubahan perilaku dalam mengelola sampah rumah tangga.
Ia juga menekankan bahwa upaya penanganan sampah memerlukan keterlibatan lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab bersama menjaga lingkungan.
“Pengolahan sampah merupakan misi suci untuk warisan anak cucu. Jadi, jangan sampai kita menyerah, makanya saya minta untuk penanganan sampah melibatkan lintas sektor serta peran dan partisipasi aktif dari masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
1

















































