KLIKPOSITIF – Stres adalah pendamping hidup yang unik dalam kaitannya dengan kesehatan. Dalam dosis singkat, stres justru membantu kita beradaptasi dan bertumbuh. Namun, ketika stres berlangsung lama dan terus-menerus—seperti beban sosial yang kerap dialami kelompok marjinal—dampaknya bisa sangat merusak. Perlahan tapi pasti, stres kronis menggerogoti hampir seluruh sistem tubuh, mempercepat penuaan, dan berkontribusi pada berbagai penyakit serius, mulai dari diabetes dan penyakit jantung hingga Alzheimer dan kanker.
Menariknya, tidak semua orang terdampak dengan cara yang sama. Ada individu yang tampak lebih “kebal” terhadap efek terburuk stres. Faktor genetik memang berperan, tetapi ada kemungkinan faktor lain yang tak kalah penting: cara seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya. Dari sinilah muncul gagasan bahwa identity vitality—kekuatan dan keutuhan identitas diri—menjadi kunci yang menentukan apakah stres berubah menjadi racun atau justru sumber ketahanan.
Dilansir dari laman greatergood.berkeley.edu, untuk menguji gagasan ini, para peneliti mengembangkan kuesioner khusus guna mengukur tingkat identity vitality dan kondisi sebaliknya, yaitu patologi identitas. Di Healthy Aging with Resilient Identities (HARI) Lab, riset difokuskan pada pertanyaan besar: apakah membangun identitas diri yang kuat dan bermakna dapat mendorong proses penuaan yang lebih sehat?
Hasil awal penelitian memberikan harapan. Dalam sejumlah studi yang melibatkan lebih dari 2.700 orang dewasa kulit hitam dan kulit putih berusia 18 hingga 81 tahun, ditemukan bahwa tingkat identity vitality yang lebih tinggi secara konsisten berkaitan dengan risiko depresi yang lebih rendah, bahkan setelah memperhitungkan berbagai faktor lain yang berpengaruh. Hubungan ini menunjukkan pola yang jelas: semakin kuat identity vitality seseorang, semakin kecil risiko depresinya—bahkan bisa turun hingga 90 persen.
Temuan serupa muncul dalam studi lain. Perempuan kulit hitam dengan identity vitality tinggi memiliki risiko hipertensi 50 persen lebih rendah, meski tinggal di lingkungan yang kurang menguntungkan. Sementara itu, pria yang menghadapi tekanan finansial berat tetapi memiliki identitas diri yang kuat melaporkan kondisi kesehatan secara keseluruhan yang lebih baik.
Rangkaian temuan ini mengarah pada satu kesimpulan penting: cara kita memahami dan memaknai diri sendiri bukan sekadar persoalan psikologis, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan fisik. Identitas yang kuat dan hidup tampaknya membantu tubuh menanggung beban stres dengan cara yang lebih sehat—mengubah tekanan hidup dari ancaman menjadi sumber ketahanan.

1 month ago
30



















































