Bagaimana Menulis Jurnal Membantu Kita Bertahan di Masa Sulit

1 month ago 29

Exhibition Scoopy x Kuromi - Klikpositif

KLIKPOSITIF – Bisakah sebuah buku harian benar-benar membantu menjaga kesehatan? Sejumlah penelitian menunjukkan jawabannya: ya. Menulis jurnal ternyata tidak hanya menenangkan pikiran, tetapi juga dapat memperkuat sistem kekebalan tubuh—sebuah kabar baik, terutama ketika banyak tekanan hidup saat ini dipicu oleh ancaman penyakit menular.

Salah satu studi lama, menemukan kebiasaan menulis jurnal dapat membuat vaksin bekerja lebih efektif. Dalam penelitian tersebut, sekelompok mahasiswa kedokteran diminta menulis selama empat hari berturut-turut tentang pikiran dan perasaan terdalam mereka terkait pengalaman paling traumatis dalam hidup, mulai dari perceraian, kehilangan orang tercinta, hingga kekerasan. Sementara itu, kelompok lain hanya menuliskan kegiatan dan rencana harian mereka.

Mengapa Menulis Jurnal Efektif?

Apa rahasia di balik kekuatan buku harian sederhana? Ternyata, menulis jurnal bekerja pada dua level sekaligus: perasaan dan pikiran. Dari sisi emosi, menulis adalah cara untuk meluapkan perasaan, bukan memendamnya—sesuatu yang terbukti berdampak buruk bagi kesehatan. Banyak orang menyimpan rasa sakit, malu, atau duka yang tidak pernah dibagikan, terus berputar di kepala dalam bentuk emosi dan bayangan. Dengan menuliskannya, rasa sakit itu berubah menjadi kata-kata hitam di atas putih, berada di luar diri kita.

“Saya bisa menata pikiran dan perasaan di atas kertas, sehingga tidak lagi memenuhi kepala saya. Begitu semuanya tertuang, pikiran terasa lebih lapang. Hari pun terasa lebih produktif sekaligus lebih tenang,” ujar Allison Quatrini, dosen di Eckerd College yang telah lama menulis jurnal dan mulai membuat jurnal khusus selama pandemi COVID-19.

Dari sisi kognitif, menulis memaksa kita menyusun pengalaman secara runtut—melihat sebab dan akibat, lalu membentuk sebuah cerita yang utuh. Proses ini memberi jarak antara diri kita dan pengalaman tersebut, sehingga kita dapat memahaminya dengan cara baru dan menemukan makna yang sebelumnya tersembunyi. Trauma kerap mengguncang cara kita memandang kehidupan, tetapi memprosesnya lewat tulisan dapat mengembalikan rasa kendali.

“Menulis jurnal adalah alat untuk menuangkan pengalaman, pikiran, keyakinan, dan harapan ke dalam bahasa. Melalui proses itu, kita belajar memahami diri, bertumbuh, dan memaknai apa yang kita alami,” kata Joshua Smyth, profesor biobehavioral health dan kedokteran di Penn State University.

Bagaimana Memulai Kebiasaan Menulis Jurnal

Dilansir dari laman greatergood.berkeley.edu, ada banyak cara untuk menulis jurnal, tetapi salah satu metode yang paling banyak diteliti adalah Expressive Writing. Caranya sederhana: tulis tanpa henti selama sekitar 20 menit tentang pikiran dan emosi terdalam Anda terkait satu masalah dalam hidup. Anda bisa mengeksplorasi dampaknya, kaitannya dengan masa kecil, hubungan pribadi, atau perjalanan karier.

Biasanya, metode ini dilakukan selama empat hari berturut-turut. Namun, tidak ada aturan baku. Penelitian menunjukkan bahwa menulis bisa dilakukan beberapa hari berturut-turut, beberapa kali seminggu, atau bahkan sekali seminggu. Waktunya pun fleksibel—10, 15, atau 20 menit—dan topiknya bisa sama atau berbeda setiap kali.

Yang terpenting, menulis jurnal bukan soal keindahan kata, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Di tengah masa-masa sulit, kebiasaan sederhana ini bisa menjadi ruang aman untuk bernapas, memahami diri, dan perlahan memulihkan kekuatan dari dalam.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news