Bank Indonesia: Dari DAUN bagi Sumatera Barat

2 days ago 7

Exhibition Scoopy x Kuromi - Klikpositif

PADANG, KLIKPOSITIF – Sepanjang 2025, Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat terus melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengendalikan inflasi dan peduli terhadap lingkungan, terutama saat bencana wilayah ini. Lalu apa saja highlight Bank Indonesia Wilayah Sumatera Barat sepanjang 2025. Berikut paparannya.

1. PENGENDALIAN INFLASI

Alun takilek alah takalam, nan jauah ditinjau, nan dakek ditaruko.”- sebelum masalah membesar, ia harus ditangani; yang jauh diperhitungkan, yang dekat dikelola dengan bijaksana.

Pepatah minang ini mengingatkan bahwa setiap persoalan harus diantisipasi sebelum membesar; yang jauh diperhitungkan, dan yang dekat dikelola dengan bijaksana. Semangat inilah yang menjadi dasar pelaksanaan pengendalian inflasi di Sumatera Barat. Sebab inflasi bukan hanya persoalan angka, tetapi fondasi ketenangan dan kualitas hidup masyarakat. Ketika harga stabil, daya beli terjaga, dan kepercayaan publik terhadap ekonomi ikut menguat.

Sebagai bagian dari mandat Bank Indonesia dalam menjaga kestabilan nilai rupiah, proses pengendalian inflasi dijalankan secara terstruktur melalui pemantauan harga harian, identifikasi potensi gejolak, koordinasi respons cepat bersama TPID, serta implementasi program stabilisasi pasokan dan harga. Januari hingga Agustus, seluruh langkah ini mampu menjaga inflasi tetap on target dalam rentang sasaran 2,5±1%, mencerminkan efektivitas pengendalian yang menitikberatkan pada stabilisasi harga pangan bergejolak (volatile food). Namun, sejak memasuki periode cuaca ekstrem, tekanan inflasi mulai meningkat. Musim kemarau berkepanjangan sejak akhir Mei hingga Agustus menyebabkan penurunan produksi komoditas pangan, khususnya hortikultura yang sensitif terhadap iklim. Setelah laju inflasi mereda pada November 2025, Sumatera Barat kembali menghadapi tantangan yang berasal dari bencana hidrometeorologi. Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan lahan di sentra produksi dan memutus jalur distribusi ke berbagai wilayah. Akibatnya, harga sejumlah bahan pangan melonjak pesat dan diperkirakan semakin signifikan pada akhir tahun. Perbaikan dan pemulihan infrastruktur logistik menjadi kunci stabilisasi inflasi pasca bencana.

Dalam menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah terus memperkuat sinergi TPID melalui GNPIP dan prinsip 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, serta Komunikasi Efektif). Implementasinya diwujudkan dalam Gerakan Pangan Murah di seluruh kabupaten/kota, realisasi Kerjasama Antar Daerah dengan Jawa Tengah untuk menambah pasokan, dan Fasilitasi Distribusi Pangan ke daerah dengan biaya logistik tinggi untuk menekan gap harga di tingkat produsen dengan harga di tingkat konsumen.

Penguatan pasokan ditempuh melalui pengembangan klaster pangan strategis—beras, cabai merah, dan bawang merah—di berbagai sentra produksi, didukung penerapan digital farming, pertanian organik, serta penguatan kelembagaan petani agar lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Seluruh proses ini dilengkapi dengan koordinasi dan komunikasi kebijakan yang intensif melalui HLM, rapat TPID, publikasi GPM, serta informasi masa panen untuk menstabilkan ekspektasi harga.

Meski cuaca ekstrem dan bencana menekan suplai pangan sehingga inflasi November mencapai 3,98%, lonjakan yang lebih tinggi dapat dikelola dengan respons cepat stabilisasi pasokan dan menjagkelancaran distribusi. Dengan penguatan pasokan dan langkah mitigasi yang terus dipercepat, tekanan harga diharapkan mereda sehingga stabilitas inflasi ke depan tetap terjaga.

2. DIGITALISASI SISTEM PEMBAYARAN

Digitalisasi sistem pembayaran di Sumatera Barat menunjukkan kemajuan pesat sepanjang 2025. Jumlah merchant QRIS meningkat dari 561.917 menjadi 674.273 (tambah 112.356, capaian 167,90%), sementara pengguna bertambah 46.610 menjadi 949.441 (capaian 158,59%). Aktivitas transaksi juga naik signifikan dengan volume kumulatif Rp51,93 miliar atau 130,23% dari target. Melalui HLM TP2DD, asistensi roadmap ETPD, pendampingan PDRD nontunai, dan penguatan KKPD, digitalisasi pendapatan dan belanja daerah menguat, termasuk di Payakumbuh dan Sijunjung. Layanan publik seperti objek wisata, transportasi, dan pasar tradisional pun mulai beralih ke kanal digital.
“Saciok bak ayam, sadanciang bak basi,” menjadi simbol kolaborasi BI, pemda, perbankan, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pembayaran yang lebih transparan dan efisien.

Transformasi ini diperluas ke ranah internasional melalui QRIS Cross Border, menjawab kebutuhan wisatawan asing akan sistem pembayaran yang cepat dan modern. Implementasi diperkuat melalui edukasi, onboarding merchant, dan aktivasi di kota wisata seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, dan Sawahlunto. Dampaknya terlihat dari capaian transaksi: QRIS Thailand 208 transaksi (Rp41,25 juta), Singapura 824 transaksi (Rp322,36 juta), dan Malaysia 58.617 transaksi (Rp22,67 miliar). Wisatawan cukup memindai QR dengan aplikasi negara asal, sementara merchant menerima pembayaran dalam rupiah secara otomatis.
“Elok mancaliak ka ateh, rapi manapaki ka bawah,” menggambarkan bagaimana Sumatera Barat membangun sistem pembayaran yang siap mendukung kebutuhan kunjungan wisatawan global tanpa meninggalkan kekhasan lokal.

3. PRESTASI DAN AWARD 2025

Prestasi Sumatera Barat sepanjang 2025 kembali menegaskan bahwa kemajuan lahir dari kolaborasi yang kokoh. Seperti pepatah Minang, “Basamo mangko manjadi, bakawan mangko sakato,” seluruh unsur daerah bergerak seirama baik pemerintah,  Bank Indonesia, perbankan, institusi/elmbaga lainnya serta masyarakat,menghadirkan transformasi digital, menjaga stabilitas harga, memperkuat ekonomi syariah, serta melestarikan budaya sebagai kekuatan identitas.

Kota Payakumbuh menjadi salah satu ikon keberhasilan tersebut. Pada ajang Championship TP2DD 2025 yang diumumkan dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia, Payakumbuh ditetapkan sebagai kota terbaik regional Sumatera berkat konsistensinya mempercepat digitalisasi transaksi keuangan daerah, memperluas kanal pembayaran digital, dan meningkatkan transparansi pelayanan publik. Melalui High Level Meeting (HLM) TP2DD, pendampingan teknis, dan sinergi antara pemkot, Bank Indonesia, serta Bank Nagari, digitalisasi di Payakumbuh berjalan semakin matang dan berdampak nyata.

Kesuksesan ini dilengkapi dengan capaian Kabupaten Tanah Datar yang kembali menjadi TPID Berprestasi Terbaik se‑Sumatera 2025, menjadikannya juara lima tahun berturut-turut meskipun menghadapi dampak banjir bandang dan galodo. Tanah Datar dinilai unggul dalam penerapan strategi 4K serta berbagai inovasi di daerah, sebuah kolaborasi pengendalian inflasi sekaligus pemulihan pascabencana. Bank Indonesia memperkuat efektivitas TPID melalui HLM TPID, koordinasi lintas lembaga, serta dukungan teknis dalam menjaga stabilitas pasokan dan kelancaran distribusi pangan di tengah kondisi krisis.

Di sektor budaya dan pariwisata, Nagari Koto Gadang menegaskan posisinya sebagai desa wisata unggulan dengan meraih Juara II Nasional kategori Desa Wisata Berbasis Budaya pada Wonderful Indonesia Awards 2025. Keberhasilan ini berakar dari kearifan lokal yang terpelihara: kerajinan perak, rumah gadang, tradisi adat, serta semangat masyarakat yang menjaga otentisitas nagari. Bank Indonesia turut memperkuat ekosistem ekonomi desa melalui pendampingan Sekolah Lapang Digitalisasi Usaha Nagari (DAUN), sinergi dengan Pokdarwis dan pemkab, serta fasilitasi pemanfaatan pembayaran digital dalam layanan wisata.

Tak kalah penting, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kembali meraih Anugerah Adinata Syariah 2025 dari KNEKS sebagai bentuk apresiasi atas komitmen pengembangan ekonomi syariah yang berkelanjutan, penghargaan yang diterima langsung oleh Gubernur Mahyeldi di Jakarta. Prestasi dua tahun berturut‑turut ini menegaskan bahwa ekonomi syariah tidak hanya selaras dengan karakter budaya Minangkabau, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan baru daerah. Bank Indonesia memperkuat ekosistem syariah melalui sinergi dengan Pemprov, KDEKS, MUI, pemkab/pemko, serta lembaga keuangan syariah dalam perluasan literasi, pemberdayaan UMKM syariah, dan pematangan kebijakan.

4. PENGEMBANGAN UMKM DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN SEKOLAH LAPANG DAUN

Dukungan penguatan ekonomi nagari di Sumatera Barat sepanjang 2025 dilakukan melalui dua jalur yang saling menguatkan: percepatan digitalisasi dan ekspor UMKM, serta peningkatan produktivitas pertanian melalui Sekolah Lapang DAUN. Program Onboarding UMKM Go Digital yang melibatkan 99 UMKM dan Go Ekspor bagi 50 UMKM berhasil membawa pelaku usaha naik kelas, memanfaatkan kanal digital, dan menembus pasar global. Hasilnya langsung terlihat, seperti ekspor coffee beans oleh Solok Radjo ke Taichung, Taiwan senilai USD 11.310, serta ekspor kayu manis oleh Spices Indo ke Thailand senilai USD 86.029,75.

Melalui berbagai forum business matching, capaian ekspor UMKM semakin meluas. Pada BM KKI 2025, tiga UMKM binaan dhi Kopi Solok Radjo, UniKayo, dan Spices Indomenandatangani MoU ekspor total USD 649.290. Pada BM SCF 2025, UMKM binaan menandatangani LOI dengan buyer Malaysia senilai Rp 1.388.250.000. Dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, MoU dilakukan antara Rendang Gadih dan More N More (Australia) senilai USD 15.600. Program digitalisasi juga mencatat keberhasilan signifikan: 46 UMKM memenuhi standar UMKM Go Digital dengan 35 UMKM mengalami peningkatan omzet rata‑rata 300%, serta kenaikan penjualan online 9,6%. Capaian ini lahir dari pelatihan digital bersama Sekolah Bisnis Online (SBO), kurasi peserta yang ketat, dan pendampingan pasca pelatihan.

Di sisi hulu, peningkatan produktivitas pangan diwujudkan melalui Sekolah Lapang DAUN, yang memfokuskan pelatihan pada metode organik Mulsa Tanpa Olah Tanah (MTOT), digital farming, serta pemanfaatan data iklim untuk pengambilan keputusan pertanian. Program ini dilaksanakan dalam empat tahapan, yaitu Tahap 1 – Kab. Pesisir Selatan, 24–27 Februari 2025. Tahap 2 – Kab. Solok Selatan (Muara Labuah), 20–25 Mei 2025, Tahap 3 – Kab. Agam, 2–6 Juli 2025, Tahap 4 – Kab. Lima Puluh Kota (Harau), 11–14 November 2025.

Sebelum pendampingan, produktivitas petani rata-rata hanya 3,6 ton/ha, biaya produksi sekitar Rp 15 juta/ha, dan pemasaran terbatas pada pedagang lokal. Pendekatan DAUN mengubah pola kerja secara fundamental melalui rapid soil check, pemetaan cuaca BMKG, serta teknik MTOT. Dampaknya nyata: produktivitas meningkat >50%, efisiensi tenaga kerja 30%, risiko hama berkurang, penggunaan pestisida menurun, dan kesuburan tanah meningkat berkat penggunaan mulsa jerami. Peningkatan produksi beras turut memperkuat suplai pangan daerah dan membantu menahan tekanan inflasi.

Sinergi antara Dinas Pertanian, penyuluh, BMKG, Yayasan Dangau Inspirasi (Ir. Djoni), pemerintah daerah, dan Bank Indonesia memperkuat kelembagaan petani. Antusiasme masyarakat pun meningkat, menandakan kepercayaan pada pertanian yang modern, efisien, dan berbasi organik.

Keseluruhan upaya ini menggambarkan satu pesan: ketika ilmu, teknologi, dan kerja kolektif berpadu, manfaatnya kembali memperkuat nagari. Seperti pepatah Minang,
“Tampuak mangkonyo di urang banyak, hasilnyo mancariek sampai ka nagari.”

5. PENGEDARAN UANG

“Tagak banagang di ateh bumi, gadang batungkek budi.”, bermakna: kokoh berdiri karena pijakan yang kuat, dan besar karena budi yang dijaga. Pepatah ini menggambarkan bagaimana Rupiah, simbol kedaulatan bangsa tetap kuat karena dijaga dengan kesadaran, kolaborasi, dan integritas dari nagari sampai ke pusat.Dari lembah hingga pesisir Sumatera Barat, Rupiah beredar tidak hanya sebagai alat tukar, tetapi sebagai simbol kepercayaan dan kedaulatan. Sepanjang 2025, Bank Indonesia Sumatera Barat melalui Unit Implementasi Pengelolaan Uang Rupiah (PUR) menjalankan Clean Money Policy untuk memastikan Rupiah yang beredar tetap layak edar, bersih, dan terpercaya. Semangat ini berjalan seiring dengan Dari Nagari Untuk Negeri (DAUN), yang menempatkan nagari sebagai pusat distribusi, edukasi, dan kolaborasi dalam menjaga kualitas Rupiah. Melalui Rupiah Segeh Salingka Nagari, layanan kas keliling hadir di seluruh 19 kabupaten/kota termasuk daerah 3T, pusat ekonomi mikro, dan ritel nagari. Upaya ini diperkuat dengan Ekspedisi Rupiah Berdaulat dan Rupiah Tepian Negeri, menjangkau wilayah terluar dan perbatasan sesuai amanat UU No. 7 Tahun 2011.Untuk menjamin kecukupan uang, Kas Titipan Sungai Penuh berperan sebagai nodal distribusi strategis, didukung layanan responsif seperti Serambi Ramadhan dan Serunai Nataru pada momen puncak kebutuhan uang. Sinergi dengan perbankan dan pemerintah daerah memastikan layanan kas tetap inklusif dan responsif.

Perlindungan terhadap nilai Rupiah diperkuat melalui Agen Pemberantasan Uang Palsu (APUP) di 19 kabupaten/kota, memberikan edukasi 3D, layanan klarifikasi, dan sosialisasi sanksi guna meminimalkan risiko uang palsu dan menjaga daya beli masyarakat.Dalam aspek keberlanjutan, Edukasi menjadi fondasi jangka panjang melalui integrasi CBP Rupiah ke kurikulum madrasah bersama Kanwil Kemenag serta program Bhabin Mengajar yang membawa edukasi Rupiah ke tingkat nagari secara kontekstual.

6. SARASEHAN EKONOMI DAN LAPORAN PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN

Sebagai mitra advisory kebijakan ekonomi bagi Pemerintah Daerah, KPwBI Sumbar menyajikan asesmen perekonomian terkini dan rekomendasi melalui Laporan Perekonomian Provinsi triwulanan—mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, kondisi fiskal daerah, indikator kesejahteraan (kemiskinan, pengangguran), dan stabilitas sistem keuangan seperti dana pihak ketiga dan kredit perbankan—untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat.

Fungsi advisory tersebut dipertegas lewat Sarasehan Ekonomi Sumatera Barat 2025 pada 25 Juli 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh WaGub Prov. Sumbar, KaPw BI Sumbar, 17 Kepala Daerah Sumbar, pimpinan instansi vertikal dan OPD, serta akademisi dan berbagai asosiasi. Seluruh kepala daerah menyampaikan berbagai potensi investasi di wilayahnya masing-masing yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Melalui laporan dan forum kebijakan, KPwBI Sumbar mendukung pengambilan keputusan berbasis data/kajian (evidence-based) demi ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

7. PENGEMBANGAN EKONOMI SYARIAH

BI Sumbar terus memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui percepatan sertifikasi halal, pembiayaan syariah, pengembangan industri kreatif syariah, dan digitalisasi wakaf. Di Universitas Andalas, peluncuran/kick off Zona Kuliner Aman Halal dan Sehat pada 28 April 2025 menghasilkan 12 UMKM tersertifikasi halal. Sinergi bersama MUI, Satgas Halal Sumbar, dan berbagai pemda mendorong perluasan Zona KHAS di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, serta kawasan perguruan tinggi. Pada sisi pembiayaan, business matching pada Sumbar Creative Economy Festival 2025 membuka akses pembiayaan syariah bagi 24 UMKM melalui Bank Nagari. Di sektor industri kreatif syariah, dua UMKM Sumbar yang lolos kurasi IKRA 2025 mendapatkan eksposur melalui showcase regional hingga ISEF 2025, festival ekonomi syariah terbesar di Indonesia yang digelar di Jakarta pada 8–12 Oktober 2025, dengan partisipasi lebih dari 1.000 pelaku industri halal dan berbagai forum internasional yang memperluas jejaring global pelaku usaha syariah. Penguatan wakaf produktif dilakukan melalui implementasi wakaf digital Satu Wakaf, bekerja sama dengan Ponpes Ar‑Risalah untuk pengembangan Wakaf Perkebunan Melon, dengan total penghimpunan wakaf publik lebih dari Rp 100 juta hingga November 2025. Upaya ini menegaskan bahwa penguatan ekonomi syariah tumbuh melalui kolaborasi, pendampingan, dan komitmen bersama. Seperti pepatah Minang, “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjing,” kemajuan akan tercapai ketika semua unsur berjalan seiring membangun ekonomi nagari.

8. BANTUAN SOSIAL PASCA BENCAN BANJIR GALODO DAN BEASISWA

Ketika bencana galodo melanda sejumlah nagari di Sumatera Barat, keluarga besar Bank Indonesia bergerak cepat menunjukkan kepedulian. Melalui sinergi keluarga besar Bank Indonesia Sumatera Barat, Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI), Persatuan Isteri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI), dan dukungan keluarga besar BI dari berbagai wilayah, bantuan berupa pangan, imun kit, sarung, selimut, dan kebutuhan darurat disalurkan ke posko‑posko dan kawasan terdampaki. Bantuan Peduli Bencana juga diserahkan oleh Kepala KPwBI sekaligus Ketua BMPD Sumbar kepada PMI dan sinergi bersama BPBD, BMPD,Lemabaga kemanusiaan/sosial lainnya untuk distribusi ke titik-titik yang memerlukan pertolongan cepat.Langkah BI Sumbar ini mencerminkan nilai bahwa pembangunan nagari tidak hanya melalui program, tetapi juga melalui empati dan kebersamaan. “Duduk samo randah, tagak samo tinggi; sakik samo mula, alun samo diraso,” menjadi cermin bahwa Bank Indonesia hadir sebagai bagian dari masyarakat nagari yang ikut merasakan dan membantu memulihkan keadaan.

Di samping itu, Bank Indonesia terus memperkuat masa depan nagari melalui Beasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBI). Tahun 2025, beasiswa diberikan kepada mahasiswa S1, D3, dan D4 di delapan perguruan tinggi di Sumatera Barat—350 mahasiswa pada semester I dan 181 mahasiswa pada semester II. Melalui komunitas GenBI, para penerima dibekali berbagai program pengembangan seperti Leader Insight, Capacity Building, pelatihan penulisan, dan Inspire Talks, membentuk mereka menjadi Frontliners, Change Agents, dan Future Leaders. Sejalan dengan pepatah Minang,“Tinggi tampak dari dasar, pandai tampak dari ajaran,” beasiswa ini diharapkan menjadi dasar kokoh bagi generasi muda untuk melangkah lebih jauh dan kelak kembali mengabdi bagi negeri.

9. SUMBAR CREATIVE ECONOMY FESTIVAL (SCF) 2025

Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCF) 2025 menjadi panggung terbesar untuk mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi, pembiayaan, ekspor, dan digitalisasi. Diselenggarakan pada 12–14 September 2025, SCF menghadirkan kolaborasi pemerintah daerah, perbankan, komunitas perempuan, dan pelaku UMKM untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif nagari. SCF 2025 merangkul UMKM berorientasi green, recycle, dan local wisdom, sekaligus menghadirkan 10 Top Brand sebagai benchmark dan calon offtaker. Capaian paling signifikan terlihat pada kinerja ekspor: melalui Business Matching bersama Akademi Mudah Ekspor dan Atase Perdagangan Kuala Lumpur, tercapai LoI ekspor senilai USD 831.378 atau Rp13,85 miliar yang diterima 7 UMKM.

Di sisi pembiayaan, financial matching menghasilkan komitmen Rp5,78 miliar, terdiri dari Rp4,05 miliar pembiayaan syariah dan Rp1,72 miliar pembiayaan konvensional. “Nan saciok bak ayam, nan sadanciang bak basi.”bermakna langkah bersama yang rapi akan menghasilkan kekuatan yang jauh lebih besar.

Pepatah ini menggambarkan bagaimana kolaborasi lintas pihak dalam SCF melahirkan lompatan besar bagi UMKM Sumbar.Dampak konkret lainnya terlihat dari transaksi penjualan. SCF 2025 mencatat transaksi Rp1,87 miliar, meningkat 842% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini didorong oleh perluasan kanal penjualan digital (Shopee, TikTok Shop, WhatsApp Business), promosi melalui transportasi publik, serta kegiatan kapasitas bagi organisasi perempuan seperti BKOW, Dharma Wanita, IWAPI, dan lain-lain. Digitalisasi sistem pembayaran turut diperkuat melalui adopsi QRIS Tap pada mayoritas merchant, serta edukasi pembayaran digital dalam rangka campaign BBI, BWI, dan Pelindungan Konsumen. Selain itu, SCF juga mendukung ekosistem syariah melalui penggalangan wakaf produktif yang mencapai Rp76,56 juta, Melalui sinergi kelembagaan, strategi promosi yang agresif, dan keberpihakan pada UMKM hijau serta inklusif, SCF 2025 memperlihatkan bahwa “kekuatan nagari” bukan sekadar slogan, tetapi energi nyata yang menggerakkan UMKM menuju pasar yang lebih luas, lebih modern, dan lebih kompetitif.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news