Kantor Dinas Pertanian Bidang Peternakan Jeneponto. (Dok: Ullah).KabarMakassar.com – Dinas Pertanian Kabupaten Jeneponto melalui Bidang Peternakan memastikan situasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah Bumi Turatea tetap terkendali meski di tengah tingginya intensitas hujan.
Berbagai langkah preventif hingga penanganan darurat terus disiagakan guna menjamin keselamatan hewan ternak milik warga.
Kesiapsiagaan tersebut disampaikan langsung oleh Medik Veteriner Bidang Peternakan Jeneponto, Drh. Nurlatifa Ulfa Rais, saat ditemui di ruang kerjanya pada Kamis (22/1).
Ia mengungkapkan bahwa vaksinasi tetap menjadi langkah konkret paling utama dalam mengantisipasi lonjakan penyakit ternak saat ini.
“Vaksinasi dilakukan untuk membentuk kekebalan tubuh ternak agar dalam situasi cuaca apa pun, hewan tetap bisa bertahan (survive). Selain itu, kami aktif melakukan sosialisasi mengenai pentingnya biosecurity atau manajemen kandang, baik secara tatap muka langsung maupun melalui media sosial,” jelas Drh. Ulfa.
Lebih lanjut, Drh. Ulfa merinci bahwa pihaknya kini menerapkan sistem jemput bola yang fleksibel. Tim medis akan langsung diterjunkan ke lapangan begitu menerima laporan atau permintaan dari daerah yang belum tersentuh vaksinasi.
“Jadwal khusus tidak ada, namun kami memprioritaskan daerah yang belum pernah divaksin atau yang sudah memasuki masa booster 6 bulan. Syarat utamanya adalah daerah tersebut bukan zona merah aktif PMK,” tambahnya.
Untuk mendukung efektivitas di lapangan, Bidang Peternakan juga telah menyiagakan stok obat-obatan serta personel medik dan paramedik yang siap bergerak cepat merespons setiap keluhan peternak.
Selain ancaman PMK, musim hujan juga membawa risiko penyakit kembung akibat pola pemberian pakan yang salah.
Drh. Ulfa pun mengimbau para peternak untuk lebih teliti dalam manajemen pakan dan menjaga kebersihan lingkungan kandang melalui tiga langkah utama yakni dengan simpan pakan di tempat kering, pembersihan area tempat pakan, minum, dan kotoran wajib dilakukan secara rutin setiap hari dan terakhir peternak diminta melakukan pembersihan total (general cleaning) dan penyemprotan desinfektan minimal satu kali seminggu untuk mematikan bakteri yang menumpuk.
Menutup keterangannya, Drh. Ulfa menjelaskan prosedur darurat jika ditemukan kasus kematian ternak secara mendadak. Ia meminta para peternak untuk tetap tenang dan segera melapor ke Bidang Peternakan.
“Begitu laporan masuk, hari itu juga tim yang terdiri dari medik dan paramedik akan turun mengambil sampel. Hasil identifikasi informasi dan sampel tersebut akan kami kirim langsung ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros untuk memastikan diagnosa penyakit secara akurat,” pungkasnya.
Upaya terintegrasi ini diharapkan dapat memberikan rasa tenang bagi para peternak di Jeneponto, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi sektor peternakan di tengah tantangan cuaca tahun ini.
















































