Black Box Pesawat ATR 42-500. (Dok: Ist)KabarMakassar.com — Tim SAR gabungan berhasil menemukan black box pesawat berupa Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR) dari badan pesawat yang mengalami kecelakaan di wilayah pegunungan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan.
Black box pesawat ATR 42-500 ditemukan pada hari kelima operasi pencarian, sekitar pukul 11.00 WITA pada Rabu (21/1).
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1).
Pesawat ATR 42-500 mengangkut tujuh kru pesawat dan tiga orang penumpang yang merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI.
Black box pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Maros–Pangkep resmi diserahkan kepada Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).
Dalam banyak operasi pencarian kasus kecelakaan pesawat, target pencarian black box menjadi prioritas. Hal ini dikarenakan black box pesawat merupakan perangkat perekam data penerbangan yang memiliki peran krusial dalam dunia penerbangan.
Alat ini dipasang pada setiap pesawat komersial untuk mencatat berbagai informasi penting selama penerbangan, yang nantinya menjadi bahan utama investigasi jika terjadi kecelakaan atau insiden serius.
Dikutip dari Jurnalpost, meski dikenal dengan sebutan black box, perangkat ini justru berwarna oranye terang. Warna tersebut dipilih agar memudahkan tim pencari menemukan black box di antara puing-puing pesawat setelah kecelakaan terjadi.
Istilah black box sendiri berasal dari dunia teknik dan elektronika, yang merujuk pada sebuah sistem dengan proses internal yang tidak terlihat dari luar, tetapi hasil kerjanya dapat dianalisis melalui data yang dihasilkan.
Dalam konteks penerbangan, istilah ini tetap digunakan meski secara fisik warnanya tidak hitam.
Secara historis, black box mulai dikembangkan pada era 1950-an sebagai respons atas meningkatnya kecelakaan pesawat. Awalnya, perangkat ini hanya mampu merekam sedikit data. Namun seiring perkembangan teknologi, black box modern kini mampu merekam ribuan parameter penerbangan dengan tingkat akurasi dan ketahanan yang sangat tinggi.
Black box memiliki beberapa fungsi utama. Pertama, merekam data teknis penerbangan seperti ketinggian, kecepatan udara, arah dan posisi pesawat, kondisi mesin, hingga pergerakan sistem kontrol. Data ini membantu penyelidik mengetahui kondisi pesawat sebelum dan saat kecelakaan.
Kedua, black box juga merekam percakapan di dalam kokpit, termasuk komunikasi antar pilot, percakapan dengan menara pengawas, serta suara peringatan atau alarm. Rekaman suara ini penting untuk memahami pengambilan keputusan pilot dalam situasi darurat.
Dalam strukturnya, black box terdiri dari tiga bagian utama, yakni Flight Data Recorder (FDR) yang merekam data teknis penerbangan, Cockpit Voice Recorder (CVR) yang merekam suara di kokpit, serta Underwater Locator Beacon (ULB) yang memancarkan sinyal jika perangkat terendam air, sehingga memudahkan pencarian di laut.
Black box bekerja secara otomatis sejak pesawat dinyalakan. Data direkam terus-menerus dan akan tertimpa secara berkala. Jika terjadi kecelakaan, perekaman berhenti dan data terakhir tersimpan aman dalam pelindung khusus yang dirancang tahan terhadap kondisi ekstrem.
Menurut Jurnalpost, black box dirancang dengan standar keselamatan tinggi. Perangkat ini mampu bertahan pada suhu hingga 1.100 derajat Celsius, menahan tekanan laut dalam, benturan keras, serta paparan api dan bahan kimia. Karena ketahanannya, black box kerap ditemukan masih utuh meski pesawat mengalami kerusakan parah.
Black box umumnya dipasang di bagian ekor pesawat, karena bagian ini secara statistik memiliki tingkat kerusakan lebih rendah saat kecelakaan. Proses pencariannya dilakukan dengan mendeteksi sinyal ULB, menggunakan sonar, penyelaman, hingga analisis data di laboratorium, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Dengan fungsi dan ketahanannya, black box tetap menjadi teknologi utama dalam investigasi kecelakaan penerbangan. Keberadaan perangkat ini tidak hanya membantu mengungkap penyebab kecelakaan, tetapi juga menjadi dasar penting dalam meningkatkan standar keselamatan penerbangan di masa depan. (Rissa Siana Bakri)

















































