
Koordinator Lapangan Petugas Monitoring Waduk Sermo, Novika Prabowo, menunjukkan kondisi Waduk Sermo./Dokumen Harian Jogja
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di seluruh Indonesia untuk merencanakan penggunaan air secara terukur guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan listrik selama fenomena El Nino.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan lonjakan konsumsi energi nasional kerap terjadi bersamaan dengan menurunnya cadangan air di waduk ketika cuaca panas dan kekeringan melanda.
"Informasi mengenai curah hujan sangat penting untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga informasi iklim ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, peningkatan suhu udara selama musim kemarau berpotensi mendorong kenaikan beban puncak listrik akibat meningkatnya penggunaan alat pendingin ruangan oleh masyarakat.
Di sisi lain, kapasitas produksi energi bersih dari PLTA juga terancam terganggu apabila debit air di waduk dan danau mengalami penurunan tanpa perencanaan penghematan yang matang.
Karena itu, BMKG mendorong Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PLN, serta pengelola bendungan untuk memanfaatkan pemutakhiran data iklim sebagai acuan dalam mengatur pola pengoperasian turbin air.
"Manajemen alokasi air yang presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," ujarnya.
Ardhasena menilai langkah antisipasi dan efisiensi penggunaan air operasional sejak dini akan membantu menjaga keandalan pasokan listrik nasional meskipun berada di tengah tekanan cuaca panas akibat El Nino.
Direktorat Klimatologi BMKG melaporkan fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan karakteristiknya, indeks El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027.
Prediksi terbaru BMKG juga menunjukkan terdapat peluang signifikan El Nino tahun ini berkembang melampaui kategori kuat sehingga potensi dampaknya terhadap kondisi iklim di Indonesia perlu terus diantisipasi.
Berdasarkan pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026, musim kemarau semakin menguat di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan wilayah yang masih berada pada musim hujan tinggal 77 Zona Musim.
Secara spasial, musim kemarau kini mendominasi wilayah selatan khatulistiwa yang meliputi Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua. Wilayah-wilayah tersebut berada pada kategori Merah atau lebih dari 60 Hari Tanpa Hujan (HTH), Merah Muda atau 31-60 HTH, dan Cokelat Tua atau 21-30 HTH.
"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, dimana musim kemarau umumnya bermula dari Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat," kata Ardhasena.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

10 hours ago
6
















































