Cuaca Ekstrem Paksa Tim SAR Bermalam 30 Jam Evakuasi Korban ATR di Lereng Tebing

2 hours ago 3
Cuaca Ekstrem Paksa Tim SAR Bermalam 30 Jam Evakuasi Korban ATR di Lereng Tebingupaya evakuasi korban pertama yang ditemukan oleh tim SAR gabungan

KabarMakassar.com — Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di Pegunungan Bulu Saraung, Sulawesi Selatan, diwarnai perjuangan berat tim SAR gabungan. Personel harus bertahan selama kurang lebih 30 jam di lereng tebing akibat cuaca ekstrem dan medan yang sangat berisiko, Selasa (20/1).

Korban pertama ditemukan tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 WITA. Lokasi penemuan berada di area dengan kemiringan sekitar 30 derajat dan tepat di bibir tebing. Setelah ditemukan, tim SAR melakukan proses packing jenazahselama sekitar satu jam sebelum upaya pengangkatan dilakukan.

Namun, rencana evakuasi ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter tidak dapat dilanjutkan. Keterbatasan tenaga dan peralatan, ditambah hujan deras yang terus mengguyur lokasi, memaksa tim melakukan evaluasi di lapangan.

“Setelah dilakukan diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” ujar Rusmadi, rescuer Basarnas Makassar yang terlibat langsung dalam operasi di jurang.

Proses evakuasi ke arah bawah berlangsung sekitar tiga jam. Namun kondisi cuaca semakin memburuk dengan hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin yang menyelimuti area operasi. Kontur tanah berbatu yang labil juga meningkatkan risiko longsor, sehingga pergerakan tim menjadi sangat terbatas.

Dalam kondisi tersebut, tim SAR gabungan akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing bersama jenazah korban. Seluruh personel bertahan di lokasi selama kurang lebih 30 jam demi menjaga keselamatan tim dan memastikan jenazah tetap dalam pengawasan.

“Kami turun dari titik dekat punggungan awal lokasi pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” jelas Rusmadi.

Pada keesokan harinya, Minggu (19/1), dilakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan. Keputusan tersebut diambil karena kondisi fisik personel dan faktor keselamatan tidak memungkinkan bagi tim pertama untuk melanjutkan evakuasi.

“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas utama, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.

Tim kedua kemudian membawa jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan. Proses evakuasi dilanjutkan secara estafet hingga ke Desa Lampeso, sebelum diarahkan menuju jalan poros Kecamatan Cenrana.

Selanjutnya, jenazah dibawa menuju Posko Cenrana, Kabupaten Maros, dan akan diserahkan ke Tim Disaster Victim Identification (DVI) di Kantor Biddokkes Polda Sulsel untuk proses identifikasi lebih lanjut.


Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news