Harianjogja.com, JOGJA— Upaya membangun pariwisata DIY dinilai membutuhkan fondasi data yang lebih akurat agar kebijakan yang disusun tidak sekadar merespons kondisi di lapangan. Di saat Badan Pusat Statistik (BPS) DIY mempercepat pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026, pelaku industri berharap pendataan mampu menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai sektor pariwisata.
Hingga Kamis (30/7/2026), pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di DIY telah mencapai sekitar 69%. Pendataan terus dipercepat agar seluruh pelaku usaha di berbagai kawasan dapat terjangkau.
Plt Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan koordinasi dilakukan dengan berbagai instansi agar seluruh pelaku usaha, mulai dari pusat perbelanjaan, pasar hingga kawasan permukiman dapat terjangkau.
Ia menegaskan sensus tidak berkaitan dengan perpajakan, melainkan untuk menghasilkan gambaran kondisi ekonomi yang lebih akurat sehingga program pemerintah dapat disusun secara tepat sasaran.
"Kalau masyarakat tidak memberikan jawaban yang jujur, nanti kebijakannya menjadi tidak tepat sasaran," katanya.
Hal senada disampaikan Kepala BPS Kota Jogja, Joko Prayitno. Menurutnya, sensus tahun ini tidak hanya mendata kegiatan usaha, tetapi juga memotret kondisi sosial ekonomi keluarga melalui pendataan dari rumah ke rumah.
Dengan data tersebut, pemerintah dapat mengetahui bukan hanya aktivitas ekonomi masyarakat, melainkan juga kondisi kesejahteraan dan pendidikan keluarga.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo berharap hasil sensus mampu memperbaiki kualitas data kesejahteraan masyarakat sehingga penyaluran berbagai bantuan menjadi lebih tepat sasaran.
"Kalau datanya lebih presisi, bantuan juga bisa lebih tepat. Selama ini masih ada yang sebenarnya membutuhkan tetapi belum menerima bantuan, sementara yang sudah mampu justru masih mendapat bantuan," katanya.
Di sektor pariwisata, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto Setyo Aji, menilai data menjadi fondasi penting dalam menyusun strategi pengembangan pariwisata. Namun menurutnya, data yang tersedia saat ini belum sepenuhnya mampu menggambarkan kondisi riil di lapangan.
"Data BPS itu penting, tetapi belum bisa menjadi acuan seratus persen. Harus dipadukan dengan data industri agar kebijakan yang dibuat benar-benar sesuai dengan kondisi pasar," katanya.
Menurut Bobby, hingga kini banyak data pariwisata masih bersifat parsial. Mulai dari tingkat okupansi hotel, jumlah wisatawan yang masuk melalui bandara, hingga angka kunjungan destinasi masih berdiri sendiri-sendiri tanpa satu sistem yang terintegrasi.
Akibatnya, penyusunan kebijakan sering kali lebih bersifat reaktif daripada antisipatif.
"Pariwisata sekarang sangat dinamis. Kalau tidak didukung data yang sehat, kita selalu bereaksi setelah perubahan terjadi, bukan selangkah lebih maju," ujarnya.
Ia juga menyoroti masih terjadinya double counting dalam perhitungan wisatawan. Satu orang yang berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain bisa tercatat berkali-kali karena yang dihitung adalah pergerakan, bukan jumlah orang.
Menurut Bobby, kondisi tersebut membuat angka kunjungan terlihat besar, tetapi belum tentu mencerminkan jumlah wisatawan sebenarnya.
Karena itu, ia mendorong Pemerintah Daerah DIY membangun ekosistem data yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pengelola destinasi, hotel, hingga operator transportasi.
"Harus ada regulasi yang menjadi orkestrator. Kalau tidak ada aturan yang menjamin keamanan data, masing-masing pihak akan menahan datanya sendiri," katanya.
Persoalan serupa juga disoroti Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo Eryono. Menurutnya, pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 merupakan langkah positif untuk mengetahui kondisi ekonomi yang sebenarnya, termasuk perkembangan sektor pariwisata.
Menurut Deddy, PHRI DIY tidak keberatan memberikan informasi mengenai jumlah kamar, tingkat okupansi, kapasitas restoran, hingga data kunjungan wisatawan. Namun, data yang bersifat pribadi, seperti identitas pemilik usaha, tetap harus dilindungi.
"Kami tidak masalah memberikan data usaha. Yang penting jelas manfaatnya dan tetap menjaga kerahasiaan data pribadi," ujarnya.
Deddy berharap sensus ekonomi tersebut mampu menjangkau seluruh bentuk akomodasi yang berkembang di DIY, termasuk homestay dan vila yang kini tumbuh pesat. Menurutnya, selama ini sebagian wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara, memilih tinggal lebih lama di homestay maupun vila. Jika tidak seluruhnya tercatat, gambaran kondisi industri pariwisata menjadi kurang utuh.
Fenomena itu juga memunculkan persaingan baru bagi hotel berbintang. Banyak homestay yang menawarkan harga lebih murah karena beban operasional lebih rendah, bahkan sebagian belum memiliki izin usaha.
Meski begitu, Deddy menilai hotel tetap memiliki keunggulan melalui standar pelayanan, keamanan, sertifikasi, serta jaminan kenyamanan bagi tamu.
Karena itu, hotel kini tidak hanya menjual kamar. Berbagai kolaborasi dengan pelaku UMKM terus dilakukan, mulai dari paket wisata membatik, kuliner lokal, hingga pengalaman budaya agar wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih lengkap selama berada di Jogja.
Pentingnya data yang akurat juga tercermin dari perilaku wisatawan saat merencanakan perjalanan. Beberapa hari lalu, Rizki, wisatawan asal Semarang, tidak langsung memesan hotel. Ia membuka media sosial, membaca berita mengenai kepadatan wisatawan, lalu membandingkan harga kamar di sejumlah aplikasi pemesanan.
Bagi perempuan yang sudah beberapa kali berlibur ke Kota Jogja itu, memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menentukan destinasi.
"Kalau bisa datang saat tidak terlalu ramai. Selain lebih nyaman, harga penginapan juga biasanya lebih murah," ujarnya di kawasan Malioboro pada Jumat (31/7/2026).
Rizki biasa menghabiskan satu hingga dua hari di Jogja. Saat bepergian sendiri, ia memilih cabin hotel. Namun ketika datang bersama teman-temannya dan ingin menikmati suasana lebih lama, hotel maupun homestay menjadi pilihan.
Destinasi favoritnya bukan sekadar tempat yang sedang viral. Kraton Jogja hingga kompleks Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri selalu masuk daftar kunjungannya. Baginya, sejarah menjadi alasan utama untuk kembali lagi ke Jogja.
Tanpa disadari, aktivitas Rizki berkunjung ke Jogja sesungguhnya menghasilkan jejak data yang sangat berharga bagi industri pariwisata.
Sementara itu, Theresia, wisatawan asal Bekasi, memilih waktu kunjungan berdasarkan tingkat keramaian. Ia telah menyiapkan perjalanan ke Jogja jauh-jauh hari, termasuk memesan hotel sebelum berangkat.
Selama tiga hari di DIY, ia bersama seorang temannya telah menyusun daftar destinasi yang ingin dikunjungi. Selain menikmati suasana kawasan wisata, ia berencana singgah ke Kopi Klotok dan mengunjungi Candi Prambanan.
Menurut Theresia, Jogja selalu memiliki daya tarik yang membuatnya ingin kembali. Selain suasananya yang nyaman, berbagai destinasi wisata di daerah ini menawarkan pengalaman yang tidak bisa ia temukan di kota asalnya.
"Di Jogja nyaman," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
3

















































