KLIKPOSITIF — Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB) Universitas Andalas terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui pembenahan kurikulum serta persiapan menghadapi sistem akreditasi baru berbasis Outcome-Based Accreditation (OBA). Upaya tersebut mengemuka dalam kegiatan Seminar dan Rapat Kerja Tengah Tahun Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Teknologi Pertanian Indonesia (FKPTTPI) yang mengangkat tema “Penguatan Kurikulum dan Akreditasi Teknologi Pertanian untuk Mendukung Kesiapan Lulusan di Dunia Kerja.” Kegiatan ini menghadirkan Ketua Forum Program Studi Teknik Pertanian Indonesia, Dr. Arifin, bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada sekaligus asesor LAM Teknik, Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng.
Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas. Dalam kesempatan itu, para dosen diimbau untuk menyimak secara saksama berbagai arahan dan masukan dari para narasumber sebagai bekal dalam melakukan evaluasi dan penyempurnaan kurikulum menuju pencapaian akreditasi Unggul.
Pihak manajemen program studi juga menegaskan bahwa pembenahan kurikulum merupakan bentuk komitmen institusi dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas, adaptif, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta kebutuhan dunia kerja. Kurikulum yang terus diperbarui diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, inovatif, dan siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam paparannya, Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng., IPU., ASEAN Eng., APEC Eng. menjelaskan bahwa program studi di Indonesia saat ini tengah memasuki masa transisi sistem akreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) menuju Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM), termasuk LAM Teknik dan LAM PTIP. Transisi tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan nasional yang telah dibangun sejak tahun 2023 di Bandung.
“Ke depan, setiap program studi memiliki kewenangan untuk menentukan lembaga akreditasinya masing-masing. Oleh karena itu, kesiapan setiap program studi menjadi sangat penting agar mampu memenuhi standar yang ditetapkan,” ujarnya.
Prof. Lilik menambahkan bahwa LAM Teknik menetapkan tiga kategori hasil akreditasi, yaitu Terakreditasi, Unggul dengan masa berlaku tiga tahun yang wajib mengajukan reakreditasi, serta Unggul dengan masa berlaku lima tahun bagi program studi yang memperoleh skor minimal 3,5.
Menurut Prof. Lilik, tantangan terbesar dalam sistem akreditasi baru terletak pada penyusunan Laporan Evaluasi Diri (LED). Sesuai Permendikbud Nomor 53 Tahun 2023, proses penilaian kini tidak lagi berorientasi pada input maupun proses, melainkan berfokus pada capaian (Outcome-Based Accreditation). Dengan demikian, program studi dituntut mampu menunjukkan dampak nyata penyelenggaraan pendidikan terhadap kualitas lulusan, peningkatan kinerja institusi, serta kontribusi kepada masyarakat.
Sebagai konsekuensinya, visi pengembangan program studi harus selaras dengan visi Universitas Andalas, Fakultas Teknologi Pertanian, hingga tingkat program studi. Selain itu, kurikulum baru juga harus memiliki karakteristik yang menjadi pembeda (uniqueness) dengan program studi sejenis. Salah satu keunggulan yang tengah dikembangkan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem adalah penguatan kompetensi technopreneurship yang diintegrasikan ke dalam berbagai mata kuliah.
Sementara itu, Ketua Forum Program Studi Teknik Pertanian Indonesia, Dr. Arifin, memaparkan bahwa implementasi kurikulum berbasis luaran telah diwujudkan melalui penyelenggaraan Expo Prototype Capstone Design yang tahun ini memasuki penyelenggaraan kelima. Expo tersebut menampilkan berbagai inovasi mahasiswa di bidang teknologi otomasi berbasis Industri 4.0 yang mencakup pengelolaan tanah, sumber daya air, pengolahan pangan, hingga sistem pengelolaan limbah.
Menurut Dr. Arifin, antusiasme mahasiswa dalam mengembangkan inovasi terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, banyak kelompok mahasiswa yang secara mandiri menambah biaya pengembangan prototipe di luar dana stimulus sebesar Rp2,5 juta yang disediakan fakultas. Hasil karya tersebut selanjutnya akan dihibahkan kepada pelaku UMKM maupun diikutsertakan dalam berbagai kompetisi inovasi, meskipun saat ini fakultas menghadapi tantangan keterbatasan ruang untuk penyimpanan prototipe.
Lebih lanjut, Dr. Arifin menjelaskan bahwa asosiasi profesi bersama LAM Teknik telah menyepakati sejumlah kebijakan strategis dalam implementasi sistem akreditasi baru. Salah satunya adalah penempatan aspek Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) sebagai prioritas utama dalam penilaian akreditasi. Kebijakan tersebut mendorong perguruan tinggi untuk melakukan pembenahan serta modernisasi fasilitas laboratorium agar memenuhi standar keselamatan internasional.
Selain itu, pengelolaan Unit Pengelola Program Studi (UPPS) direkomendasikan berada pada tingkat fakultas sehingga pengelolaan sumber daya, pendanaan, dan fasilitas menjadi lebih efektif. Dalam mekanisme asesmen, LAM Teknik juga akan menerapkan sistem asesor gabungan, namun tetap memprioritaskan keterlibatan asesor dari forum program studi yang memahami karakteristik bidang keilmuan masing-masing.
Mengacu pada Washington Accord, Dr. Arifin menegaskan bahwa kurikulum pendidikan keteknikan wajib memenuhi tiga pilar utama, yakni penguasaan Basic Science dan Matematika minimal 25 SKS yang diselesaikan paling lambat semester empat, implementasi Capstone Design, serta penerapan standar K3L pada seluruh laboratorium. Selain itu, struktur kurikulum disepakati terdiri atas 60 persen kurikulum inti nasional dan 40 persen kurikulum penciri program studi, sehingga setiap program studi memiliki ruang untuk mengembangkan keunggulan akademik sesuai karakteristiknya.
Melalui kegiatan ini, Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Universitas Andalas menegaskan komitmennya dalam membangun sistem pendidikan yang adaptif, inovatif, dan berorientasi pada mutu. Penguatan kurikulum berbasis luaran serta persiapan menuju akreditasi Unggul diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang kuat, tetapi juga mampu menjawab tantangan industri, dunia usaha, dan kebutuhan masyarakat di era transformasi teknologi.

15 hours ago
7


















































